Penulis: Krisafika Taraisya Subagio
TVRINews, Jakarta
Menteri Sosial (Mensos), Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengungkapkan, program Sekolah Rakyat menerapkan sistem pendidikan fleksibel melalui pendekatan multi-entry dan multi-exit, yang memungkinkan siswa menyesuaikan proses belajar sesuai kemampuan masing-masing, termasuk peluang lulus lebih cepat. Hal tersebut disampaikannya dalam konferensi pers satu tahun perjalanan Program Sekolah Rakyat.
Gus Ipul menjelaskan bahwa pendekatan tersebut dirancang untuk menjawab beragam latar belakang peserta didik, terutama mereka yang berasal dari kelompok rentan.
"Sekolah rakyat ini menggunakan pendekatan multi-entry, multi-exit. Jadi masuknya tidak harus sesuai tahun ajaran, bisa mundur atau maju, tergantung kemampuan setiap siswa," ujar Gus Ipul kepada wartawan termasuk tvrinews.com, di Kantor Kemenko PM, Jakarta, Rabu, 29 April 2026.
Ia menyebutkan, meskipun program ini baru berjalan satu tahun, hasil asesmen para guru menunjukkan bahwa sejumlah siswa telah memenuhi syarat untuk mengikuti ujian akhir, baik di tingkat SD, SMP, maupun SMA.
"Oleh karena itu, tahun ini insyaallah akan ada yang lulus," ucapnya.
Menurutnya, fleksibilitas tersebut menjadi kunci dalam memastikan setiap anak tetap mendapatkan kesempatan pendidikan tanpa terhambat oleh usia maupun jenjang formal yang kaku.
Kemudian, Gus Ipul juga menegaskan bahwa latar belakang siswa Sekolah Rakyat sangat beragam. Tidak sedikit di antaranya yang pernah mengalami kondisi sulit, seperti korban kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual, hingga anak yang sebelumnya sudah bekerja.
Kondisi tersebut, lanjutnya, membuat pendekatan pendidikan tidak bisa disamaratakan. Pemerintah melalui Kementerian Sosial pun menyediakan layanan rehabilitasi bagi siswa yang membutuhkan sebelum kembali mengikuti kegiatan belajar.
"Ada masalah psikososial dan kebiasaan yang perlu direhabilitasi. Jadi tidak ditolak, tidak diberhentikan, tapi dilakukan pendampingan terlebih dahulu sebelum kembali ke sekolah," jelasnya.
Editor: Redaktur TVRINews





