Lulus terpilih sebagai Tenaga Pendukung Petugas Penyelenggara Ibadah Haji Arab Saudi, bukan berarti segalanya mudah menuju Mekkah bagi Andika, Apin, Jefri, Putri, dan Rabiah. Lima mahasiswa Indonesia yang kuliah di berbagai negara di Timur Tengah itu menempuh perjalanan berliku untuk bergabung di barisan petugas haji di Arab Saudi.
“Kami naik bus dari Damaskus, turun di Madinah. Di Madinah, kami tinggal tiga hari karena harus menunggu sopir yang mengantarkan kami punya tashrih (surat izin masuk Mekkah). Lima hari kami baru sampai Mekkah,” tutur Jefri Sholachudin Nasrulloh, mahasiswa yang kuliah di Damaskus, Suriah, saat ditemui bersama rekan-rekannya di Hotel Tayeb, Syisyah, Mekkah, Arab Saudi, pada Selasa (28/4/2026).
“Kami menghabiskan waktu sekitar lima jam dalam pemeriksaan di perbatasan Suriah-Jordania. (Dari lima hari perjalanan), total 28 jam kami habiskan di dalam bus,” lanjut Jebri.
Ia dan empat rekannya adalah bagian dari 1.100 orang Tenaga Pendukung—biasa disebut “Tepung” (singkatan dari “Tenaga Pendukung”)—yang direkrut Kementerian Haji dan Umrah RI untuk menjadi petugas haji.
Dari 1.100 orang itu, 133 orang di antaranya berasal dari kalangan mahasiswa di 10 negara Timur Tengah meliputi Arab Saudi, Jordania, Lebanon, Libya, Maroko, Suriah, Uni Emirat Arab (UEA), Yaman, Mesir, dan Tunisia.
Para “tepung” itu ditempatkan di Daerah Kerja (Daker Mekkah) sebanyak 677 orang, di Daker Madinah 423 orang. Mereka direkrut dengan salah satu tugas utama menjadi penerjemah dan tim komunikasi dalam berbagai layanan teknis bagi jemaah haji Indonesia.
Konsul Jenderal RI di Jeddah, Yusron B Ambary, saat memberikan sambutan pada Bimbingan Teknis (Bimtek) Tenaga Pendukung PPIH, Senin (27/4/2026), mengatakan, para tenaga pendukung tersebut akan ditempatkan di berbagai sektor layanan, mulai dari transportasi, akomodasi, hingga urusan dapur konsumsi jemaah.
Mereka direkrut berkat kemampuan bahasa Arab yang baik. Kemampuan itu dibutuhkan PPIH Arab Saudi guna memudahkan komunikasi dalam pelayanan jemaah haji.
Mereka menjalani tes Computer Assisted Test (CAT) dan wawancara di kantor-kantor Kedutaan Besar RI (KBRI) di masing-masing negara tempat mereka kuliah, kecuali mahasiswa RI Yaman yang harus menjalani tes di sebuah masjid karena tak ada KBRI di negara itu. KBRI Yaman saat ini dijalankan di KBRI Muscat, Oman.
Rabiatul Adawiyah, mahasiswi di Tripoli, Lebanon, menuturkan, ia dan tiga rekannya bisa terbang dari Beirut ke Jeddah, Arab Saudi, memanfaatkan gencatan senjata antara Lebanon dan Israel. Sejak AS dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari 2026, Lebanon diinvasi Israel.
Bagi Rabiah, gencatan senjata itu memberi jalan menuju Mekkah—panggilan akrabnya--menempuh penerbangan via Doha, Qatar. “ Kami pamitan dulu ke KBRI Beirut, kemudian diantar petugas KBRI sampai bandara,” ucap Rabiah.
Andaikata tidak ada gencatan senjata, lanjut Rabiah, “sangat sulit”. Ia sempat berpikir untuk menempuh perjalanan darat ke Mekkah melalui Jordania, lalu masuk Arab Saudi seandainya tidak bisa berangkat naik pesawat.
Bagi Rabiah, gencatan senjata itu memberi jalan menuju Mekkah—panggilan akrabnya--menempuh penerbangan via Doha, Qatar.
Ia bersyukur sekali bisa mencapai Mekkah, apalagi ia lulus seleksi petugas haji setelah tiga kali percobaan. Rabiah menuturkan, tahun 2023 ia mendaftar, tetapi kandas di tahap pemberkasan.
Setahun kemudian, ia mendaftar lagi, tetapi berada di posisi cadangan. Ia berada di peringkat kelima dari empat kuota yang tersedia bagi mahasiswa Lebanon. Tahun 2025, Rabiah tidak berkesempatan mendaftar. Ia termasuk warga yang dievakuasi dari Lebanon via Jordania karena Lebanon digempur Israel.
“Alhamdulillah, ini rezeki dari Allah. Hasil tes seleksi petugas haji tahun ini, saya peringkat dua dan menjadi perempuan pertama petugas haji dari mahasiswa Indonesia di Lebanon,” ujar Rabiah.
Andika Ibrahim Nasution (mahasiswa di Jordania), Apin Akhroby Akso (Maroko), dan Putri Athiyyah Iklil (Mesir) relatif tidak mengalami kendala untuk menempuh perjalanan udara ke Mekkah via Jeddah. Kecuali satu hal. Ongkos tarif pesawat yang naik dua kali lipat akibat lonjakan harga avtur.
Andika mengatakan, dari Jordania tujuh mahasiswa lolos seleksi petugas haji. Empat orang di antaranya berangkat dari Indonesia karena ada keperluan dan pulang dulu ke Tanah Air. Tiga orang lainnya terbang langsung dari Amman, Jordania.
“Saya pulang di tengah konflik. Harga tiket ke Indonesia yang biasa Rp 5 juta-Rp 7 juta untuk satu penerbangan pulang, kini mencapai Rp 14 juta,” ujar Andika.
Sejauh ini para mahasiswa “tepung” itu merogoh kocek sendiri untuk mengongkosi transportasi ke Mekkah. Sebagian mengambil uang tabungan, sebagian lainnya meminta orang tuanya, tetapi ada pula yang berutang. “Saya pinjam uang dari teman,” ujar Jefri.
Apin mengaku membeli tiket Rp 13 juta untuk perjalanan pergi-pulang (PP) Maroko-Jeddah. Ia meminta uang itu kepada orangtuanya. Demikian pula Rabiah. Sementara Putri mengambil tabungan, termasuk dari hasil kerja magang di KBRI Kairo.
Begitu pun Andika, yang merogoh tabungannya untuk membeli tiket pesawat menuju Jeddah, Arab Saudi. “Rencananya, pulangnya nanti ke Jordania kami akan naik bus,” tutur Andika.
Saat memberi memberikan pengarahan pada Bimtek Tenaga Pendukung PPIH Arab Saudi, Senin lalu, Yusron menjelaskan filosofi “Tepung”, sebutan bagi petugas haji asal mukimin dan mahasiswa di Timur Tengah.
" Tepung itu artinya mereka harus siap berantakan seperti tepung di dapur. Bekerja keras, pontang-panting, bahkan lari jika dibutuhkan. Namun, dari proses yang berantakan itu, lahir kue yang indah dan lezat. Dalam konteks ini, hasilnya adalah jamaah haji yang mabrur," ujarnya.
Pada acara tersebut, Wakil Ketua II PPIH Arab Saudi yang juga Direktur Layanan Haji dan Umrah Kemenhaj, Budi Agung Nugroho, mengingatkan bahwa tugas yang dijalankan para petugas merupakan bagian dari ibadah. Ia menekankan pentingnya menjaga hubungan dengan Tuhan serta sesama manusia selama menjalankan tugas.
“Segala bentuk pelayanan yang memudahkan jemaah dalam beribadah akan bernilai ibadah. Bahkan hal sederhana seperti mengantar makanan, menunjukkan arah, atau membantu jemaah ke klinik tetap bernilai pahala,” kata Budi.
Harapan itu sudah sejalan dengan tekad yang dicanangkan para mahasiswa ”Tepung”. ”Secara umum kami ingin melayani tamu Allah. Saya pribadi pengin sekali dekat sama jamaah agar saya tahu apa kondisi (mereka) di lapangan dan membantu memenuhi kebutuhan mereja,” kata Andika.
”Saya sudah sempat melihat cuplikan video dari Bang Dahnil (Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI). Kita ini sebagai petugas, jangan namanya numpang haji,” ujar Apin.
”Kita benar-benar ikhlas untuk melayani jamaah, mau dapat haji atau tidak, kita datang ke sini tuh sebagai petugas, ya berarti bertugas untuk melayani, bukan untuk numpang haji.”
Tekad senada disampaikan Putri yang menunda penyelesaian tesis dalam kuliahnya di Jurusan Tafsir Universitas Al-Azhar, Mesir, itu. ”Kami tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan terbaik ini karena kami termasuk delegasi dan pilihan. Kami harus bersyukur dengan mewujudkan menyuguhkan hal-hal terbaik untuk kerja (melayani jemaah haji),” tuturnya.
”Jangan sampai kita menzalimi jamaah. Kita utusan negara dan, alhamdulillah, semuanya sudah difasilitasi, berangkat (ke Tanah Suci) dalam usia yang muda. Belum tentu semua orang bisa. Jadi, banyak bersyukur mengemban amanah ini,” kata Rabiah.





