JAKARTA, KOMPAS — Selama 45 tahun, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau Gapki berupaya mengembangkan industri kelapa sawit menjadi andalan ekonomi Indonesia. Salah satu upaya itu adalah mewujudkan industri yang berkelanjutan.
Hal itu mengemuka dalam gelar syukuran HUT Ke-45 Gapki yang diadakan di sela-sela peluncuran buku berjudul 45 Tahun Gapki untuk Negeri, di Jakarta, Rabu (29/4/2026). Acara itu dihadiri Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi, Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika, Direktur Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Eddy Abdurrachman, beberapa duta besar, dan sejumlah asosiasi petani kelapa sawit.
Ketua Umum Gapki Eddy Martono dalam sambutannya mengatakan, perjalanan panjang Gapki sejak dibentuk pada 1981 merupakan bukti konsistensi mengawal dan mengembangkan industri kelapa sawit sebagai salah satu pilar strategis perekonomian nasional.
”Momentum 45 tahun ini bukan sekadar penanda usia, tetapi juga refleksi atas perjalanan panjang yang penuh dinamika, tantangan, dan pembelajaran, sekaligus memperkuat peran Gapki sebagai mitra strategis pemerintah,” ujar Eddy.
Industri kelapa sawit, lanjut Eddy, telah memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional, termasuk dalam penciptaan lapangan kerja dan pembangunan daerah. Menurut dia, industri kelapa sawit merupakan salah satu penopang perekonomian nasional dan mendorong pembangunan hingga ke daerah.
Dalam buku yang diluncurkan, kata Eddy, pihaknya mencoba merekam perjalanan organisasi dalam membangun industri kelapa sawit nasional yang berdaya saing global, termasuk isu terkini soal keberlanjutan.
Selama lebih dari empat dekade, menurut Eddy, Gapki telah berkembang menjadi organisasi yang tidak hanya mewadahi pelaku usaha, tetapi juga berperan sebagai mitra strategis pemerintah dalam perumusan dan pengawalan kebijakan sektor kelapa sawit.
Putu Juli Ardika menyampaikan, dalam berbagai kebijakan penting, Gapki secara aktif memberikan masukan berbasis data dan pengalaman lapangan, mulai dari penguatan ekspor nonmigas, program peremajaan sawit rakyat, implementasi prinsip keberlanjutan, hingga pengembangan biodiesel sebagai bagian dari strategi ketahanan energi nasional.
Peran tersebut, menurut Putu, tidak hanya dijalankan dalam lingkup domestik, tetapi juga diperluas ke tingkat global melalui diplomasi ekonomi dan komunikasi strategis untuk memperkuat posisi minyak sawit Indonesia di pasar internasional.
”Gapki juga menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah, pelaku usaha, petani, dan masyarakat, guna memastikan kebijakan yang dihasilkan mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan,” ucap Putu.
Eddy menyampaikan, tantangan yang akan dihadapi para pelaku usaha di sektor ini kian beragam, mulai dari persoalan stagnasi produksi, peremajaan kelapa sawit, hingga perwujudan industri yang berkelanjutan.
Isu keberlanjutan, ujar Eddy, tidak dapat dipandang sebagai beban atau kewajiban tambahan bagi dunia usaha. Sebaliknya, keberlanjutan harus ditempatkan sebagai fondasi utama pertumbuhan jangka panjang Indonesia. Menurut dia, keberlanjutan juga bukan hanya soal lingkungan yang dijaga, tetapi juga pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat dan efisien.
Untuk mewujudkannya, menurut Eddy, diperlukan sinergi semua pihak, termasuk pemerintah melalui regulasinya. ”Kami mengapresiasi kebijakan pemerintah dalam mendukung pengembangan industri kelapa sawit. Sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha merupakan faktor penting dalam menjaga stabilitas dan daya saing industri di tingkat global,” ungkapnya.
Eddy beberapa kali menyebutkan soal tantangan produksi yang masih stagnan. Selama lima tahun, produksi minyak sawit nasional stagnan pada 52 juta-54 juta ton per tahun. Padahal, pemerintah dan pengusaha menargetkan produksi minyak sawit hingga 100 juta ton pada 2045.
Menurut Eddy, persoalan utama stagnasi sawit adalah banyaknya tanaman menua dan terlambat diremajakan. Produksi buah sawit diperkirakan stagnan beberapa tahun ke depan jika tak ada langkah strategis yang dilakukan. ”Peremajaan sawit juga merupakan kunci, karena kalau menambah area lagi sudah sulit,” ujarnya.
Untuk mewujudkan sawit yang berkelanjutan diperlukan strategi, seperti yang dilakukan salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit, Astra Agro Lestari.
Direktur Astra Agro Lestari Tingning Sukowignjo menuturkan, selama ini masalah produksi dipengaruhi oleh faktor cuaca dan usia tanaman. Keduanya merupakan komponen utama yang memengaruhi pertumbuhan produksi minyak kelapa sawit mentah (CPO).
Tingning mengatakan, untuk menjaga produksi sampai akhir tahun, pihaknya memerlukan strategi dengan perencanaan yang matang serta alokasi biaya yang tepat sasaran tanpa mengurangi kualitas operasional.
”Strategi tersebut untuk menjaga daya saing biaya produksi dan mengantisipasi volatilitas harga CPO dan kondisi geopolitik,” kata Tingning.
Sampai akhir tahun 2025, Astra Agro Lestari mengelola perkebunan kelapa sawit dengan total area tertanam seluas 280.325 hektar yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Perusahaannya memiliki pabrik kelapa sawit sebanyak 32 unit dengan total kapasitas 1.655 ton tandan buah segar (TBS) per jam. Perseroan juga memiliki dua pabrik penyulingan CPO dengan kapasitas sebesar 3.000 ton CPO per hari.





