Biodiesel semakin dipandang sebagai bagian penting dari strategi ketahanan energi nasional. Namun, keberhasilan kebijakan ini bergantung pada ketersediaan pasokan sawit (TBS/CPO) yang cukup dan berkelanjutan.
Karena itu, fokus kebijakan tidak lagi hanya pada hilirisasi, tetapi juga pada strategi penguatan pasokan, terutama lewat peningkatan produktivitas kebun yang sudah ada. Pemerintah pun telah menerapkan biodiesel B40 dan menargetkan peningkatan bertahap menuju B50.
Di sinilah pasokan sawit menjadi tulang punggung kebijakan. Sebab, TBS dan CPO bukan sekedar komoditas ekspor, melainkan bahan baku yang harus dialokasikan untuk beberapa kebutuhan sekaligus, mulai dari pangan, energi, hingga kebutuhan industri dan perdagangan luar negeri.
Jika pasokan sawit tidak mampu mengikuti peningkatan kebutuhan biodiesel, dampaknya bisa meluas ke berbagai sektor. Pasokan domestik dapat tertekan, memicu kenaikan harga minyak goreng, mengganggu stabilitas pangan, dan mengurangi volume ekspor. Selain itu, ketidaksiapan pasokan juga berpotensi menambah beban fiskal dan tekanan inflasi.
(akd/ega)




