Bisnis.com, JAKARTA — Bank Dunia (World Bank) memproyeksikan harga energi pada 2026 akan naik sebesar 24%. Kenaikan ini didorong utamanya oleh harga minyak yang diprakirakan bertengger di level US$86 per barel rata-rata sepanjang tahun.
Dalam laporan Commodity Markets Outlook April 2026, secara umum Bank Dunia merevisi proyeksi indeks harga komoditas sebelumnya. Disrupsi akut yang terjadi akibat konflik di negara-negara Teluk akan memicu kenaikan rata-rata indeks seluruh harga komoditas sekitar 16% (yoy) pada tahun ini atau dari 130,8 ke 151,1.
Proyeksi ini didasarkan pada asumsi bahwa fase paling akut dari disrupsi rantai pasok akibat perang berakhir Mei 2026. Setelah itu, volume pengiriman barang melalui Selat Hormuz diprakirakan akan pulih secara perlahan dan stabil kembali ke level sebelum perang pada kuartal IV//2026.
Menurut Bank Dunia, ini menunjukkan bahwa guncangan yang terjadi disebabkan bukan oleh hal fundamental melainkan hambatan akses sementara terhadap produksi global yang memadai.
"Di bawah asumsi-asumsi ini, yang mana dipengaruhi oleh ketidakpastian yang tinggi, Indeks harga komoditas Grup Bank Dunia diproyeksikan naik 16% (yoy) pada 2026, menandakan kenaikan pertama harga-harga komoditas sejak 2022," dikutip dari laporan tersebut, Rabu (29/4/2026).
Berdasarkan data Bank Dunia sebelumnya, yakni Global Economic Prospects yang terbit Januari 2026, kenaikan indeks harga komoditas terakhir kali terjadi pada 2022 yakni ke 189,4. Kemudian, empat tahun berikutnya turun termasuk pada 2026 ke 120,8.
Baca Juga
- Selat Hormuz Tutup Picu Defisit Minyak 10 Juta Barel/Hari, Terbesar dalam Sejarah
- UEA Hengkang dari OPEC, Apa Dampaknya ke Harga Minyak?
- Krisis Pasokan Minyak, Bank Dunia Ramal Harga Melejit ke US$115 per Barel
Pada laporan itu, indeks harga komoditas baru diproyeksikan naik pada 2027 ke 125.
Namun, pada laporan Global Commodity Markets April 2026, Bank Dunia merevisi proyeksinya. Indeks harga komoditas yang sebelumnya diproyeksikan melandai pada 2026, menjadi naik pada publikasi terbaru yaitu ke 151,1 atau sekitar 16% (yoy).
Apabila dibandingkan dengan indeks Januari 2026, terjadi kenaikan 25% dari 120,8 ke 151,1.
Harga Energi Jadi PendongkrakSecara terperinci, indeks harga energi diprakirakan menjadi pendorong indeks keseluruhan harga komoditas. Indeks harga diproyeksikan naik 24% (yoy) pada 2026 menjadi 154,9 dari tahun sebelumnya, yaitu 125,4. Kenaikan harga berdasarkan indeks terbaru April 2026 ini hampir 40% lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya pada awal tahun ini.
Pada laporan Global Economic Prospects yang diterbitkan Januari 2026, saat itu harga energi justru diprakirakan melandai dari 125,4 pada 2025 ke 111,2 pada 2026.
"Dibandingkan dengan ekspektasi pada Januari 2026, proyeksi garis dasar merepresentasikan guncangan hampir 40% dalam harga energi kepada ekonomi global tahun ini. Tahun depan, harga komoditas diprakirakan menurun secara substansial dengan index turun 17%," tulis Bank Dunia.
Laporan itu menilai bahwa pendorong utama dari prakiraan harga energi ini adalah harga minyak. Setelah rata-rata harga bertengger di level US$69 per barel Januari-Februari 2026, nilainya naik ke sekitar US$100 per barel pada Maret dan April.
"Harga minyak Brent diprakirkan tetap tinggi dalam waktu dekat, menahan konsumsi minyak, sementara itu volume ekspor dari Timur Tengah masih sangat kurang," ujar Bank Dunia.
Ke depan, harga minyak Brent dalam sisa tahun 2026 diprakirakan bertengger di rata-rata US$86 per barel. Level ini masih lebih tinggi dibandingkan dengan awal tahun.
Proyeksi ini didasarkan pada beberapa asumsi, yaitu penurunan harga minyak terjadi di semester II/2026, dan pemulihan ekspor minyak mentah dari negara-negara Teluk, serta sisa-sisa kerusakan infrastruktur produksi minyak akibat perang di kawasan itu relatif kecil.
"Atas dasar ini, harga minyak Brent diprakirakan rata-rata sebesar US$86 per barel pada keseluruhan 2026, naik tajam dari US$69 per barel pada 2025, sebelum akhirnya turun ke US$70 per barel pada 2027," ujar Bank Dunia.
Indeks harga logam dan mineral juga diprakirakan naik. Bedanya, harga metal dan mineral pada laporan Januari 2026 diprakirakan naik tipis hanya 0,86% (yoy). Sementara itu, kenaikan pada laporan terbaru April 2026 melonjak lebih tinggi, yaitu 16,6% (yoy).
Di sisi lain, indeks harga produk pertanian pada laporan terbaru April diproyeksikan turun 5,59% (yoy) atau lebih dalam dari proyeksi Januari yaitu 2,09% (yoy).





