Strategi ABMM Pacu Pendapatan, Tambang Baru Jadi Andalan

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — PT ABM Investama Tbk. (ABMM), salah satu emiten jagoan Lo Kheng Hong, menargetkan tambahan pendapatan dari tambang yang baru diakuisisi, yakni PT Nirmala Coal Nusantara (NCN) dan PT Piranti Jaya Utama (PJU).

Group Head of Corporate Finance & Treasury ABMM Mohamad Ditto Ananta Nugraha menyampaikan NCN dan PJU akan menjadi salah satu motor utama pendapatan perseroan ke depan.

NCN telah beroperasi komersial dan melakukan penjualan perdana mulai Februari 2026. Sampai akhir tahun, tambang dengan kalori 3.000—3.100 Kcal/kg tersebut diharapkan berkontribusi 2 juta ton.

“Kapasitas NCN Antara 2 juta—2,5 juta ton per tahun. Pasarnya 25% domestik, selebihnya 75% ekspor ke India,” ujarnya, Rabu (29/4).

NCN memiliki luas area tambang 3.198 hektare (Ha) di Kota Meulaboh, Kab. Aceh Barat. Potensi sumber daya mencapai 87,34 juta ton dan cadangan 31 juta ton.

Sementara itu, PJU yang terletak di Kab. Kapuas, Kalimantan Tengah, masih dalam tahap perizinan. Operasi komersial diharapkan mulai akhir 2026 dan penjualan perdana pada kuartal I/2027.

Baca Juga

  • RUPS ABMM Andalan Lo Kheng Hong Putuskan Dividen Rp267 Miliar
  • Asa Lo Kheng Hong Soal Dividen ABMM Jelang RUPST 2026
  • Emiten Portofolio Lo Kheng Hong (ABMM) Ungkap 2 Fokus Ekspansi pada 2026

Kapasitas produksi PJU nantinya mencapai 5 juta ton per tahun, dengan potensi sumber daya 83,4 juta ton dan potensi cadangan 34 juta ton. Kalorinya terbilang premium sekitar 4.800—5.100 Kcal/kg.

Menurut Ditto, nantinya produk PJU akan lebih banyak diekspor ke negara Asia Timur, seperti Korea Selatan, Jepang, dan China yang memerlukan batu bara kalori tinggi.

“NCN dan PJU akan menjadi lokomotif pendapatan ABMM ke depan,” tuturnya.

Pada 2026, ABMM mematok target pendapatan sekitar US$1 miliar, laba bersih US$80 juta—US$90 juta, dan alokasi capex sekitar U$85 juta. Namun, capex bisa bertambah sewaktu-waktu bila manajemen melihat peluang akuisisi aset yang signifikan.

Manajemen juga menegaskan kinerja kontraktor tambang dan operasional masih berjalan normal di tengah isu pemangkasan RKAB. Sejumlah klien besar perseroan, seperti PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS) yang sahamnya dimiliki 30% oleh ABMM, mengaku masih menjalankan operasional seperti biasa.

“Semua klien RKAB disetujui sesuai target. Makanya kami tetap optimistis mencapai pendapatan dan laba sesuai target,” imbuhnya.

ABM Investama Tbk. - TradingView
PEMBAGIAN DIVIDEN

Direktur ABMM Hans Manoe menyampaikan dividen menjadi salah satu perhatian utama perseroan untuk memberikan nilai tambah kepada pemegang saham. Walaupun kinerja keuangan tertekan faktor eksternal, ABMM tetap berupaya mengatur arus kas agar tetap positif dan dapat membagikan dividen setiap tahun.

"Kami berkomitmen terus untuk dapat membagikan dividen kepada pemegang saham," imbuhnya.

ABMM memutuskan membagikan dividen tunai sebesar US$15,5 juta atau setara Rp267,06 miliar dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) yang digelar pada Rabu (29/4/2026).

Dividen tersebut akan dibayarkan pada 28 Mei 2026, seiring dengan komitmen perseroan menjaga keseimbangan antara imbal hasil bagi pemegang saham dan penguatan struktur permodalan.

Selain dividen, RUPS juga menetapkan alokasi laba sebesar US$100.000 sebagai cadangan, sementara sisa laba bersih dibukukan sebagai laba ditahan untuk mendukung kebutuhan ekspansi dan operasional ke depan.

Berdasarkan laporan keuangan per akhir Desember 2025, ABMM mencatatkan laba bersih sebesar US$70,61 juta atau sekitar Rp1,19 triliun, turun 49,33% dibandingkan dengan perolehan tahun sebelumnya sebesar US$139,36 juta. Penurunan ini sejalan dengan melemahnya kinerja pendapatan perseroan.

Sepanjang 2025, pendapatan ABMM tercatat sebesar US$1,03 miliar, mengalami kontraksi 13,50% secara tahunan. Kontributor terbesar masih berasal dari segmen kontraktor tambang dan tambang batu bara dengan nilai US$755,01 juta, diikuti oleh segmen jasa yang menyumbang US$185,22 juta.

Di sisi lain, beban pokok pendapatan turut menurun 12,58% menjadi US$934,49 juta. Namun demikian, laba kotor tetap terkoreksi 20,97% menjadi US$103,67 juta, mencerminkan tekanan margin di tengah penurunan pendapatan.

Dari sisi neraca, total aset perseroan tercatat sebesar US$2,05 miliar atau turun 1,92% secara tahunan. Meski demikian, struktur permodalan menunjukkan perbaikan dengan ekuitas yang meningkat 3,91% menjadi US$880,42 juta dan liabilitas yang menurun 5,88% menjadi US$1,17 miliar.

Salah satu indikator positif dalam laporan keuangan tersebut adalah posisi kas dan setara kas yang meningkat 17,15% menjadi US$199,52 juta, memberikan ruang likuiditas yang lebih kuat bagi perseroan dalam menghadapi dinamika industri ke depan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo Pastikan Bakal Terus Tambah Proyek Hilirisasi, Bisa 6 Tahap Tahun Ini
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Prabowo ke Profesor Cs: Jangan Pakai Kepandaianmu untuk Menipu Rakyat!
• 8 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Video: Muhammad Qodari Resmi Jabat Kepala Bakom
• 20 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Saat Tembakan Terdengar, Seorang Pria Menerjang Melindungi Trump, Dipuji Sebagai “Pahlawan Amerika”
• 2 jam laluerabaru.net
thumb
Sudah Minta Maaf, Tapi Publik Belum Puas: Kegagalan PBSI di Piala Thomas 2026 Jadi Sorotan
• 30 detik lalumedcom.id
Berhasil disimpan.