Rumah yang dulu menjadi tempat Ibu Sri Lestari membesarkan putri sulungnya, Harum Anjarsari (30), kini diselimuti duka mendalam. Harum meninggal dunia dalam kecelakaan maut KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek.
Bagi Sri, Harum bukan sekadar anak. Ia sudah seperti teman dekat, bahkan sahabat. Sejak kecil, Sri merawat dan membesarkan Harum dengan sepenuh hati hingga ia menikah dan tinggal terpisah.
"Bestie banget, kayak teman. Jadi kalau sama Ibu kayak teman," kata Sri di rumahnya di Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (29/4).
Seminggu sebelum kecelakaan itu terjadi, Sri sempat dihubungi oleh Harum melalui telepon.
"Dia sebelum meninggal minta pulang. ‘Aku mau pulang ke rumah Mama, aku mau pulang.’ Itu tandanya dia, ya akhirnya pulang,” tutur Sri.
“Dia juga bilang ke teman-temannya, ‘Mau pulang ke rumah Mama, capek,’ begitu,” tambahnya.
Minta Ibu Rapikan Rumah Sebelum Lebaran
Harum juga sempat meminta ibunya untuk merapikan rumah menjelang Lebaran. Sri pun menuruti permintaan putrinya itu.
“Seminggu sebelum Lebaran, dia minta rumahnya dirapikan. Kita nggak tahu kalau itu tanda-tanda,” ujarnya.
"Mama, rapihin, Ma. Seminggu lagi mau Lebaran, harus keburu," kata Sri menirukan permintaan anaknya saat itu.
Kecelakaan
Malam saat kecelakaan terjadi, ponsel Sri berdering. Suami Harum menelepon dan menyampaikan kabar.
"Ma, Arum ada di gerbong yang kecelakaan itu," kata Sri menirukan ucapan menantunya.
Keluarga pun melakukan pencarian ke berbagai rumah sakit di Bekasi hingga dini hari. Kondisi Harum akhirnya diketahui setelah mereka melihat berita di televisi.
"Aku nggak tahu harus bagaimana. ‘Itu Arum sudah ketemu, namanya ada di berita.’ Ternyata kami tahu lebih dulu dari TV, baru kemudian diumumkan secara resmi di RS Polri,” cerita Sri.
Sri kemudian menelepon suaminya yang sedang menunggu di RS Polri. Sang suami pun terisak, tak menyangka kabar duka itu ia terima dari istrinya yang memantau berita di rumah.
“Akhirnya pulang juga ke rumah ayah, kamu, Mbak,” ujar Sri menirukan ucapan suaminya.
Sosok Harum
Di mata Sri, Harum adalah sosok pekerja keras yang tak pernah mengeluh. Sejak usia 19 tahun, bahkan sebelum ijazahnya keluar, Harum sudah bekerja demi membahagiakan orang tua.
“Motonya, dia ingin membahagiakan orang tua. Angan-angannya banyak,” ujar Sri.
Setiap kali libur panjang, Harum selalu menyempatkan diri menginap di rumah ibunya sambil membawa anaknya yang masih berusia tiga tahun. Hobi mereka pun sama, yakni berburu kuliner.
“Tapi sekarang sudah nggak bisa lagi menginap di rumah aku. Sudah nggak ada lagi yang sayang sama Mama,” ucapnya menahan tangis.
Harum dimakamkan di TPU Cipayung pada Rabu (29/4) siang.
Sri menitipkan pesan kepada pihak KAI agar sistem persinyalan diperbaiki sehingga kejadian serupa tidak terulang.
"15 nyawa melayang. Ada yang kakinya sampai di atas, bayangkan. Mereka perempuan semua, pejuang rupiah yang baru pulang kerja, termasuk anak saya," tutup Sri.





