Liputan6.com, Jakarta - Perjalanan pulang itu seharusnya sederhana. Sore telah lewat ketika Saryati (63) dan putrinya, Putri (24), naik kereta dari Stasiun Cakung menuju Cikarang. Seperti hari-hari lainnya, mereka pulang bersama, dua orang yang hanya saling memiliki satu sama lain di perantauan. Tanpa firasat, tanpa tanda-tanda, perjalanan itu berubah arah di tengah jalan.
Di gerbong sembilan kereta komuter yang mereka tumpangi, waktu seolah berjalan seperti biasa hingga sebuah benturan keras memecah segalanya. Kereta yang membawa mereka ditabrak dari belakang oleh Kereta Jarak Jauh KA Argo Bromo Anggrek pada Senin, 27 April 2026 malam, di kawasan Stasiun Bekasi Timur. Dalam hitungan detik, perjalanan pulang yang biasa itu berubah menjadi kepanikan, luka, dan ketidakpastian.
Advertisement
Saryati dan Putri menjadi bagian dari para korban yang harus dilarikan ke RSUD Kota Bekasi. Langkah mereka menuju rumah terhenti di ruang perawatan, di antara suara alat medis dan kecemasan yang menggantung.
“Keduanya menjadi korban kecelakaan KRL Bekasi Timur. Hanya saja alhamdulillahnya anak ini (Putri) kondisinya cukup baik ya setelah diobservasi,” kata Nia, pendamping korban Saryati dan Putri.
Namun kondisi Saryati jauh lebih berat. Luka yang dideritanya tak kasat mata, tetapi menghantam bagian terdalam tubuhnya.
“Yang parah itu ibunya. Kondisinya memang sudah tidak bisa berbaring karena luka, organ dalamnya tuh hancur,” sambungnya yang mewakili Fatayat Nahdlatul Ulama DKI Jakarta.
Di tengah situasi itu, cerita tentang mereka perlahan terkuak. Saryati dan Putri ternyata hidup berdua di Cikarang Barat, jauh dari keluarga besar. Putri adalah anak berkebutuhan khusus, dan dalam keseharian, Saryati menjadi satu-satunya sandaran.
“Korban ini tinggal hanya berdua dengan anaknya yang mohon maaf berkebutuhan khusus ya. Beliau tuh ngontraknya di Cikarang Barat,” terang Nia.




