PSBS Biak-Semen Padang Kandidat Kuat Degradasi, Bagaimana dengan Persis Solo dan PSM Makassar?

harianfajar
3 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, MADURA — Persaingan di papan bawah Super League 2025/2026 kini tak kalah panas dibanding perebutan gelar juara. Jika di atas ada drama antara tim-tim besar, di bawah justru tersaji pertarungan hidup-mati yang penuh tekanan. Nama-nama seperti PSBS Biak dan Semen Padang mulai mengerucut sebagai kandidat terkuat untuk terdegradasi. Namun, pertanyaan besarnya: apakah ancaman itu juga akan menyeret Persis Solo dan PSM Makassar?

Kemenangan penting Madura United atas Semen Padang dengan skor tipis 1-0 menjadi titik krusial dalam peta degradasi. Gol cepat dari Junior Brandao pada menit ke-15 bukan hanya memastikan tiga poin, tetapi juga mengangkat Madura keluar dari zona merah. Kini, mereka berada di posisi ke-15—sebuah posisi yang mungkin terlihat tidak terlalu aman, tetapi jauh lebih baik dibandingkan berada di jurang degradasi.

Sebaliknya, Semen Padang justru semakin terbenam. Kekalahan ini membuat mereka tetap tertahan di posisi ke-17, zona yang sangat berbahaya dengan sisa laga yang semakin sedikit. Lebih mengkhawatirkan lagi, performa mereka tidak menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Gol yang dianulir, peluang yang terbuang, dan ketidakmampuan menjaga konsistensi menjadi cerminan dari musim yang sulit.

Di sisi lain, PSBS Biak juga berada dalam situasi yang tidak jauh berbeda. Minimnya poin dan inkonsistensi performa membuat mereka terus tertinggal dari pesaing langsung. Dalam kompetisi panjang, tim yang tidak mampu menjaga ritme biasanya akan menjadi korban—dan PSBS Biak saat ini berada di jalur tersebut.

Namun, ancaman degradasi tidak berhenti pada dua tim itu saja. Persis Solo dan PSM Makassar masih berada dalam zona rawan. Meski secara posisi sedikit lebih baik, jarak poin yang tipis membuat mereka belum bisa bernapas lega.

Persis Solo, misalnya, berada di batas zona degradasi. Satu kekalahan saja bisa membuat mereka terperosok. Inkonsistensi menjadi masalah utama—mereka mampu tampil kompetitif di satu laga, tetapi kemudian kehilangan fokus di laga berikutnya. Dalam situasi seperti ini, stabilitas menjadi kunci, dan Persis belum sepenuhnya menemukannya.

Sementara itu, PSM Makassar menghadapi tekanan yang mungkin lebih kompleks. Selain posisi di klasemen yang belum aman, mereka juga harus menghadapi masalah internal dan kondisi tim yang tidak ideal. Cedera pemain, rotasi yang terbatas, hingga tekanan eksternal membuat situasi semakin rumit.

Yang membuat kondisi semakin genting adalah fakta bahwa liga hanya menyisakan beberapa pertandingan. Tidak ada lagi ruang untuk eksperimen. Setiap keputusan taktik, setiap pergantian pemain, bahkan setiap momen kecil di lapangan bisa menjadi penentu nasib sebuah tim.

Dalam konteks ini, mentalitas menjadi faktor pembeda utama. Tim yang mampu tetap tenang di bawah tekanan biasanya memiliki peluang lebih besar untuk bertahan. Sebaliknya, tim yang panik dan kehilangan arah justru akan semakin terpuruk.

Jika melihat tren saat ini, Semen Padang dan PSBS Biak memang berada di posisi paling rentan. Mereka tidak hanya tertinggal secara poin, tetapi juga secara momentum. Sementara itu, Madura United menunjukkan tanda-tanda kebangkitan—sesuatu yang sangat penting di fase akhir musim.

Lalu bagaimana dengan Persis Solo dan PSM Makassar?

Keduanya masih memiliki peluang besar untuk bertahan, tetapi dengan syarat: tidak boleh lagi kehilangan poin secara sia-sia. Mereka harus memperlakukan setiap laga seperti final, bermain dengan disiplin tinggi, dan memaksimalkan setiap peluang yang ada.

PSM, dengan pengalaman dan sejarahnya, seharusnya memiliki keunggulan dalam hal mental. Namun pengalaman saja tidak cukup jika tidak diiringi performa di lapangan. Persis Solo, di sisi lain, harus menemukan konsistensi—tanpa itu, mereka akan terus berada di ambang bahaya.

Pada akhirnya, persaingan di zona degradasi ini akan ditentukan oleh detail-detail kecil. Satu gol, satu kesalahan, atau satu keputusan wasit bisa mengubah segalanya. Dan di tengah ketatnya persaingan ini, hanya tim yang paling siap—secara teknis dan mental—yang akan mampu bertahan.

Super League musim ini bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara, tetapi juga tentang siapa yang mampu bertahan. Dan seperti yang sering terjadi dalam sepak bola, drama terbesar justru sering lahir dari perjuangan untuk tetap hidup di kasta tertinggi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dudung hingga KDM Jenguk Korban Kecelakaan Kereta di RSUD Bekasi
• 13 jam lalurctiplus.com
thumb
Profil Rizkina Nazar, Model Sekaligus Kakak Rizky Nazar yang Hadiri Pernikahan Syifa Hadju, Beri Doa Ini untuk Istri El Rumi
• 18 jam lalugrid.id
thumb
Pikap Terobos Palang Perlintasan Kereta di Yogya, Daop 6 Ingatkan Bisa Dipidana
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Tak Tinggal Diam, Pemerintah Siapkan Cara Dongkrak Sentra Ikan Hias Cengkareng
• 7 jam lalukompas.com
thumb
Rupiah Jeblok Lagi ke Level 17.300 per Dolar AS Jelang Pengumuman Bunga The Fed
• 14 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.