Jakarta: Svarna Kartini yang digelar di Piazza Gandaria City, Sabtu, 25 April 2026, telah rampung digelar. Festival yang digelar Metro TV ini menjadi ruang reflektif sekaligus selebrasi bagi perempuan modern untuk memahami, menerima, dan menghargai dirinya di tengah dinamika kehidupan saat ini.
Acara ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga mengangkat isu-isu yang dekat dengan keseharian perempuan, mulai dari tekanan media sosial, standar kecantikan, hingga pentingnya self love sebagai fondasi kekuatan diri. Sejak awal acara, suasana sudah terasa interaktif dengan berbagai aktivitas yang mengajak pengunjung terlibat langsung.
Dalam pembukaan acara disampaikan bahwa di tengah derasnya arus media sosial dan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, perempuan kerap lupa untuk menghargai dirinya sendiri, termasuk merayakan pencapaian kecil. Melalui Svarna Kartini, konsep Kartini tidak hanya dipahami sebagai tokoh sejarah, tetapi juga sebagai refleksi dalam diri setiap perempuan masa kini.
Festival ini menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari talkshow, inspiring story, fashion show, beauty experience, hingga aktivitas interaktif seperti tarot reading.
Clarissa menjadi pemandu dalam sesi tarot reading. Pada kesempatan itu, ia menegaskan, "Tarot bukan ramalan. Ini alat refleksi untuk mengurai pola dalam diri kita."
Beragam aktivitas juga digelar untuk meningkatkan kepercayaan diri peserta, seperti runway challenge, permainan interaktif, hingga sesi edukatif seperti color analysis dan mix and match outfit. Kegiatan ini melibatkan peserta dari berbagai latar belakang dan usia.
Talkshow 'Atma Prema': Self love sebagai fondasi kekuatan perempuan Talkshow ini menghadirkan psikolog Tara de Thouars, Ketua Perempuan Berkebaya Indonesia, Rahmi Hidayati, Mantan Stafsus Presiden Angkie Yudistia, selebriti Melani Subono, dan beauty influencer Lizzie Parra yang membahas pentingnya mencintai diri sendiri di tengah tekanan sosial.
Sejumlah narasumber berbagi pengalaman dalam talkshow Svarna Kartini yang mengangkat perjalanan perempuan modern. (Foto: Metrotvnews.com/Duta Erlangga)
"Self love itu berarti kita bisa benar-benar mencintai, menerima, menyayangi, dan menghargai diri sendiri. Tapi di zaman sekarang agak susah, karena kita sering membandingkan diri dengan orang lain," ujar Tara de Thouars.
Ia juga menambahkan bahwa tantangan terbesar justru datang dari diri sendiri. "Sering kali kita justru jadi musuh terbesar bagi diri kita sendiri."
Baca Juga :
Ketua Umum KADIN DKI Jakarta:Perempuan Harus Mandiri dan Konsisten BerwirausahaRahmi Hidayati menekankan pentingnya menjalani hidup secara bertahap. "Kalau kita lagi ada masalah jangan langsung merasa capek. Selesaikan saja satu per satu. Pelan-pelan."
Angkie Yudistia membagikan pengalamannya dalam menerima diri sebagai perempuan dengan keterbatasan. "Menerima diri sendiri itu bukan saat kita bahagia, tapi justru saat kita di titik paling rapuh," ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya fokus pada kelebihan dan tidak membandingkan diri dengan orang lain.
Melani Subono menegaskan bahwa penghargaan terhadap diri sendiri menjadi kunci utama. "Kita tidak bisa mengharapkan orang lain menghargai kita kalau kita sendiri belum menghargai diri kita."
Sementara itu, Lizzie Parra menyoroti standar kecantikan yang sempit. "Kita sering jadi hakim paling jahat untuk diri sendiri. Padahal setiap orang itu unik," katanya.
Di akhir sesi, Tara de Thouars mengingatkan, "Kita tetap berharga apa pun yang orang lain katakan."
(Foto: Metrotvnews.com/Duta Erlangga)
Talkshow 'Utthana': Perjalanan perempuan dari keterbatasan menuju dampak Talkshow ini menghadirkan Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, pengusaha Hj Diana Dewi, Direktur Eksekutif Kawasan Industri Kendal Juliani Kusumaningrum, dan artis Kiky Saputri yang berbagi pengalaman tentang perjalanan dan tantangan dalam kehidupan dan karier.
Ni Luh Puspa menekankan pentingnya keberanian untuk memulai. "Mulai saja dulu. Kalau kita tidak mulai, kita tidak akan tahu sampai di mana kita bisa berkembang,” ujarnya.
Baca Juga :
Svarna Kartini Jadi Ajang Penguat Perempuan di Sektor IndustriSherly Tjoanda memaknai kepemimpinan sebagai amanah. "Tugas kita adalah menjembatani harapan itu menjadi realita. Ada kepercayaan yang ditaruh di pundak kita," katanya.
Ia juga menambahkan bahwa keterlibatan langsung di lapangan menjadi kunci. "Saya harus turun ke desa-desa, mendengar langsung, dan memetakan masalahnya."
Diana Dewi menyoroti pentingnya proses dan perencanaan. "Saya memulai dari nol. Yang penting adalah perencanaan, menjalankan aktivitas, dan menjaga keberlanjutan," ujarnya.
Juliani Kusumaningrum mengungkapkan tantangan perempuan di dunia industri. "Perempuan sering di-underestimate, jadi harus bekerja dua kali lebih keras agar bisa dipandang setara."
Pemberian apresiasi kepada perempuan inspiratif dalam ajang Svarna Kartini 2026. (Foto: Metrotvnews.com/Duta Erlangga)
Sementara itu, Kiky Saputri menekankan pentingnya keberanian untuk menjadi diri sendiri. "Kita bukan untuk menyenangkan semua orang, tapi untuk memberi manfaat," katanya.
Ia juga membagikan pengalaman pribadi, "Kalau saat itu saya tidak bertahan, mungkin tidak ada saya hari ini."
Dalam sesi ini juga ditegaskan bahwa setiap perempuan memiliki proses dan tantangan masing-masing. Sherly Tjoanda menyampaikan, "Saat kita sadar satu-satunya pilihan adalah menjadi kuat, maka kita akan menjadi kuat."
Ni Luh Puspa menambahkan bahwa latar belakang bukan penentu kesuksesan. "Sukses tidak ditentukan oleh dari mana kita berasal, tapi dari keberanian untuk terus melangkah."
Selain sesi diskusi, Svarna Kartini juga menghadirkan parade kebaya, penampilan tari, serta berbagai aktivitas interaktif yang melibatkan audiens secara langsung. Acara ini juga memberikan apresiasi kepada sejumlah perempuan yang dinilai berkontribusi dan memberikan dampak di berbagai bidang.
Sebagai penutup, para narasumber merangkum makna Kartini dalam satu kata, di antaranya “merdeka”, “mandiri”, “berintegritas”, “berani”, dan “bertumbuh”.
Svarna Kartini menjadi ruang kolaboratif yang tidak hanya merayakan perempuan, tetapi juga mendorong refleksi tentang identitas, nilai diri, dan keberanian untuk terus bertumbuh di tengah tantangan zaman. Festival ini dirancang sebagai perpaduan antara selebrasi dan refleksi, yang menempatkan perempuan sebagai subjek yang menentukan nilai dirinya sendiri.




