Sensasi membelah jalur Beijing-Hangzhou dengan kecepatan 100 kmj

antaranews.com
4 jam lalu
Cover Berita
Hangzhou, Zhejiang (ANTARA) - Pagi itu di Beijing terasa seperti hari biasa — langit cerah, arus manusia bergerak cepat, dan ritme kota berjalan tanpa jeda.

Namun bagi kami, hari itu berbeda. Ada satu tujuan untuk membuktikan sendiri seperti apa rasanya melaju bersama kereta cepat China, yang kerap disebut sebagai salah satu sistem paling maju di dunia.

Dengan jaringan terluas secara global, China telah menjadikan kereta cepat bukan sekadar moda transportasi, melainkan tulang punggung mobilitas antarkota.

ANTARA berkesempatan merasakan langsung kecanggihan teknologi tersebut dalam perjalanan dari Beijing menuju Hangzhou, dua kota yang berjarak sekitar 1.200 kilometer, atau setara dengan rute Jakarta–Bali.

Sejak awal, kesan modern sudah terasa. Jalur rel dibangun melayang, meminimalkan perlintasan sebidang seperti yang masih umum dijumpai di Indonesia. Hasilnya bukan hanya efisiensi waktu, tetapi juga tingkat keamanan dan kenyamanan yang jauh lebih tinggi.

Perjalanan dimulai dari Stasiun Beijing Selatan menggunakan kereta listrik seri CR400 atau Fuxing Hao menuju rute Stasiun Danau Qiandao. Kereta ini dikenal mampu melaju hingga kecepatan 350 kilometer per jam.

Kami menaiki kereta bernomor G47. Hal yang, menarik, G47 justru berangkat satu menit lebih awal dari jadwal pada tiket, yakni pukul 10.56 waktu setempat. Ketepatan—bahkan presisi—langsung terasa sejak awal, seolah waktu benar-benar dikelola, bukan sekadar diikuti.

Efisiensi pun menjadi keunggulan utama moda transportasi ini. Berdasarkan aplikasi peta di sistem operasi Android, perjalanan darat dengan mobil untuk rute yang sama dapat memakan waktu hingga 12 jam 35 menit.

Sebaliknya, dengan kereta cepat, waktu tempuh hanya sekitar 4 jam 49 menit. Selisih yang signifikan ini bukan sekadar angka, melainkan perubahan cara memaknai jarak—dan pada akhirnya, produktivitas perjalanan itu sendiri.

Dari sisi biaya, kami menggunakan tiket kelas dua yang dibeli melalui aplikasi dengan harga 662 yuan, atau sekitar Rp1,68 juta.

Baca juga: Dua mahasiswa Indonesia jajal kereta cepat saat libur Imlek di China

Tiket kereta menampilkan detail lengkap, mulai dari identitas penumpang hingga nomor kursi. Rombongan kami, misalnya, menempati kursi nomor 4 di gerbong 11.

Sistem pemesanan juga terintegrasi, cukup dengan memindai kode Quick Response (QR Code) untuk mengakses seluruh informasi perjalanan.

Bahkan, pada struk pembelian tertera potongan harga sebesar 1 persen sebagai bagian dari mekanisme verifikasi langsung, untuk meminimalkan praktik percaloan atau “fraud”.

Untuk jarak sekitar 1.200 kilometer, harga tersebut terasa kompetitif, terlebih jika disandingkan dengan efisiensi waktu yang ditawarkan.

Ekspektasi terhadap kereta cepat ini langsung diuji begitu memasuki kabin. Ada narasi populer yang menyebut stabilitas kereta China begitu tinggi hingga koin bisa berdiri tegak di atas meja. Kami pun mencoba membuktikannya.

Hasilnya tidak sepenuhnya sejalan dengan cerita yang beredar. Koin yang kami tegakkan di atas meja lipat justru terjatuh. Getaran tetap terasa, bahkan ketika layar menunjukkan kecepatan baru mencapai 166 kilometer per jam. Sebuah pengingat sederhana bahwa bahkan teknologi paling maju pun tetap memiliki batasnya.

Dari segi fasilitas, kelas dua menawarkan kenyamanan yang memadai, meski tidak berlebih. Ruang kaki terasa cukup terbatas, terutama bagi penumpang dengan postur tinggi. Selain itu, tidak tersedia fasilitas pengisian daya di setiap kursi, sehingga penumpang perlu memastikan baterai gawai dalam kondisi penuh sebelum perjalanan dimulai.

Kereta cepat China seri CR400 di Stasiun Hangzhou Barat, Zhejiang, China mencapai kecepatan 344 km per jam berdasarkan layar digital multiinformasi. ANTARA/Abdu Faisal

Di bagian depan gerbong, layar digital multiinformasi menyala tanpa henti, menyajikan data dalam Bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris secara bergantian, dari kecepatan kereta, suhu udara, hingga stasiun berikutnya.

Sistem ini terasa familier, mengingatkan pada layanan kereta cepat di Indonesia, dengan pendekatan informasi yang ringkas dan mudah diakses.

Suhu kabin dijaga stabil pada kisaran 23 hingga 25 derajat Celsius, kontras dengan suhu luar yang mencapai 31 derajat. Perbedaan ini menjaga kenyamanan, meski sesekali masih terasa sedikit hangat. Di sela-sela informasi teknis, layar juga rutin menampilkan peringatan untuk tetap waspada terhadap barang bawaan pribadi.

Baca juga: China luncurkan layanan transportasi hewan peliharaan di kereta cepat

Di luar semua itu, perjalanan menuju Hangzhou menghadirkan daya tarik lain: lanskap yang berganti perlahan di balik jendela, seolah menjadi jeda visual di tengah laju yang nyaris tak terasa.

Rute Beijing menuju Stasiun Danau Qiandao menghadirkan lanskap yang berubah-ubah. Dari deretan gedung tinggi dan kawasan urban, pemandangan bergeser menjadi perbukitan hijau dan hamparan lahan pertanian yang luas, sebuah transisi yang terasa mulus, nyaris tanpa jeda.

Sepanjang perjalanan, kereta sempat berhenti singkat di lima stasiun transit. Salah satunya Stasiun Xuzhou Timur (pemberhentian kedua dalam rute ini) pada pukul 13.24 waktu setempat. Stasiun ini tampak sibuk, namun tetap tertata. Penumpang naik dan turun dengan tertib, di bawah pengawasan petugas yang sigap menjaga alur.

Pembangkit listrik tenaga angin dengan hamparan lahan pertanian menjadi pemandangan saat menaiki kereta cepat China seri CR400 di Stasiun Hangzhou Barat, Zhejiang, China (ANTARA/Abdu Faisal)
Dari sudut pandang transportasi, CR400 memperlihatkan kuatnya rekayasa infrastruktur China. Kereta ini bukan hanya alat angkut, melainkan tulang punggung mobilitas antarprovinsi, sekaligus bagian dari upaya menekan emisi karbon melalui penggunaan energi listrik.

Meski demikian, pengalaman di dalam kabin memberi gambaran yang lebih membumi. Getaran pada kecepatan tinggi dan keterbatasan fasilitas menunjukkan bahwa kenyamanan masih menyisakan ruang untuk ditingkatkan.

Perjalanan berakhir di Stasiun Hangzhou Barat sekitar pukul 15.46. Kota ini dikenal sebagai pusat inovasi digital di China, salah satunya melalui sosok Jack Ma, pendiri Alibaba.

Dari sini, ANTARA bersama sejumlah jurnalis Indonesia melanjutkan agenda menuju kantor pusat Leapmotor untuk meninjau pengembangan teknologi kendaraan listrik yang direncanakan masuk ke pasar Indonesia.

Menempuh jarak 1.200 kilometer dalam waktu kurang dari lima jam tetap menjadi pencapaian yang sulit diabaikan. Kereta cepat telah mengubah cara orang berpindah antarkota menjadi lebih singkat, lebih efisien, dan semakin terjangkau.

Namun pengalaman ini juga menyisakan catatan: kecepatan tidak selalu berjalan beriringan dengan kenyamanan maksimal. Di kelas dua, fasilitas yang tersedia masih tergolong sederhana. Kursi yang relatif sempit dan ketiadaan pengisian daya menjadi kekurangan yang terasa nyata.

Mitos tentang koin yang dapat berdiri tegak pun tidak terbukti dalam perjalanan ini. Meski begitu, satu hal yang tak terbantahkan adalah ketepatan waktu dan efisiensi yang ditawarkan.

Kereta cepat China tetap menjadi referensi penting dalam pengembangan transportasi modern. Bagi Indonesia, pengalaman ini dapat menjadi cermin, bahwa masa depan transportasi bukan hanya soal melaju lebih cepat, tetapi juga bagaimana menghadirkan sistem yang terintegrasi, nyaman, dan berkelanjutan.

Baca juga: Kereta cepat Yan'an - Beijing resmi beroperasi

Baca juga: Pembangunan komunitas China-Indonesia catat kemajuan signifikan




Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kecelakaan Kereta di Bekasi: Polisi Selidiki 2 Peristiwa Tabrakan, Ambil Keterangan 22 Saksi
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
Sejarah Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, dari Taman Siswa hingga ke Seluruh Penjuru Negeri
• 20 jam laludisway.id
thumb
Menteri UMKM dan PNM Dorong Kemandirian Ekonomi Masyarakat Pulau Rinca
• 13 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Penyesuaian Jadwal Antrean Pangan Online Perumda Pasar Jaya, Ini Jam Operasional Terbaru
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
DPR Minta Dirut KAI Mundur Pasca-Tabrakan Kereta, Muslim Arbi: Tunggu Hasil Investigasi
• 8 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.