Perbandingan Gerbong Wanita di Indonesia dan Negara Lain, Mana Lebih Efektif?

bisnis.com
13 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Wacana pemindahan posisi gerbong perempuan di KRL ke bagian tengah rangkaian kembali memicu diskusi publik. Usulan tersebut tidak hanya menyoroti aspek teknis, tetapi juga membuka perbandingan dengan praktik serupa di berbagai negara.

Sejumlah negara telah lebih dulu menerapkan kebijakan gerbong khusus wanita dengan pendekatan yang berbeda-beda, mulai dari waktu operasional, posisi gerbong, hingga tingkat pengawasan di lapangan.

Lantas, bagaimana perbandingan penerapan gerbong wanita di Indonesia dengan negara lain?

Sejarah Awal Gerbong Kereta Khusus Perempuan

Konsep gerbong khusus perempuan di transportasi umum bukan hal baru. Di Inggris, kebijakan ini sudah ada sejak abad ke-19. The Times mencatat keberadaannya sejak 1840-an, bahkan South Eastern Railway sempat menyediakan kereta khusus perempuan jika dibutuhkan.

Namun, kebijakan tersebut tidak bertahan selamanya. Pada Maret 1977, British Rail mulai menghapus secara bertahap gerbong khusus perempuan yang masih tersisa. Saat itu, sekitar 100 gerbong masih beroperasi, terutama pada layanan kereta antara London dan Essex.

Memasuki era modern, praktik serupa kembali berkembang di berbagai negara. Di Jepang, misalnya, operator seperti JR East memperkenalkan women-only cars pada awal 2000-an sebagai respons terhadap meningkatnya kasus pelecehan seksual di kereta komuter, yang dikenal dengan istilah chikan.

Baca Juga

  • Daftar 10 Kecelakaan Kereta Api Terparah di Indonesia, Argo Bromo Anggrek Dua Kali
  • Pelecehan Seksual di Kereta, Komnas Perempuan Minta Ini
  • Begini 5 Perbedaan Budaya Naik Kereta di Jepang dan Indonesia

Di Indonesia sendiri, kebijakan serupa mulai diterapkan secara luas pada layanan KRL Commuter Line sejak pertengahan 2010-an oleh PT Kereta Commuter Indonesia. Tujuannya adalah menciptakan ruang yang lebih aman dan nyaman bagi penumpang perempuan di tengah tingginya mobilitas harian.

Mengacu pada kebijakan tersebut, gerbong khusus wanita umumnya ditempatkan di bagian depan atau belakang rangkaian dan berlaku sepanjang hari.

Seiring perkembangannya, penerapan gerbong khusus perempuan tidak lagi seragam seperti pada masa awal kemunculannya. Setiap negara kemudian mengadopsi kebijakan ini dengan pendekatan yang berbeda, menyesuaikan dengan kondisi sosial, tingkat kepadatan transportasi, hingga kebutuhan keamanan masing-masing.

Praktik Gerbong Kereta Khusus Wanita di Berbagai Negara 1. Jepang

Di Jepang, gerbong khusus wanita atau women-only cars diterapkan oleh operator seperti JR East sejak awal 2000-an.

Kebijakan ini umumnya berlaku pada jam sibuk pagi dan sore hari, saat tingkat kepadatan penumpang meningkat tajam. Penandaan gerbong dibuat jelas, dan tingkat kepatuhan masyarakat relatif tinggi sehingga pelanggaran jarang terjadi.

2. India

India menerapkan kebijakan yang lebih luas, termasuk menghadirkan layanan kereta khusus perempuan yang dikenal sebagai Ladies Special.

Kebijakan ini diterapkan di kota-kota besar seperti New Delhi, Mumbai, Kolkata, dan Chennai sebagai respons terhadap tingginya kasus pelecehan di transportasi publik. Selain pemisahan ruang, pengawasan di beberapa layanan juga diperketat.

3. Brasil

Di Brasil, kebijakan serupa mulai diterapkan pada 2006, terutama di kota besar seperti Rio de Janeiro. Namun, implementasinya kerap menghadapi kendala, khususnya dalam penegakan aturan karena kehadiran gerbong khusus perempuan tidak selalu mendapat dukungan, termasuk dari sebagian penumpang pria.

Meski fasilitas tersebut tersedia, pelanggaran masih sering terjadi sehingga efektivitas kebijakan ini kerap menjadi bahan perdebatan.

4. Meksiko

Di Meksiko, kebijakan gerbong khusus wanita diterapkan secara cukup tegas pada tahun 2000, terutama di transportasi publik seperti metro dan bus di Mexico City.

Pemisahan tidak hanya berupa gerbong, tetapi juga area khusus di dalam kendaraan yang diperuntukkan bagi perempuan dan anak-anak. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap tingginya kasus pelecehan di transportasi umum.

5. Mesir

Di Mesir, kebijakan gerbong khusus wanita diterapkan pada layanan metro di kota-kota besar seperti Kairo pada tahun 2007.

Biasanya, terdapat satu hingga dua gerbong yang dikhususkan untuk perempuan dalam setiap rangkaian. Kebijakan ini hadir sebagai upaya mengurangi pelecehan seksual di transportasi publik yang cukup padat.

Apakah Perlu Penyesuaian di Indonesia?

Melihat praktik di berbagai negara, setiap kebijakan pada dasarnya disesuaikan dengan kondisi sosial, budaya, serta tingkat kedisiplinan masyarakat.

Dalam konteks Indonesia, usulan pemindahan posisi gerbong wanita ke bagian tengah dapat menjadi salah satu opsi untuk meningkatkan keamanan. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada aspek lain, seperti pengawasan, edukasi, dan kepatuhan penumpang.

Hal ini menunjukkan bahwa efektivitas gerbong khusus wanita tidak semata ditentukan oleh desain atau letaknya, tetapi juga oleh konsistensi penerapan aturan di lapangan.

Perbandingan dengan negara lain menunjukkan bahwa gerbong khusus wanita bukan sekadar soal posisi, tetapi juga menyangkut sistem yang mendukungnya.

Tanpa pengawasan yang memadai dan kesadaran kolektif, kebijakan ini berpotensi tidak berjalan optimal. Sebaliknya, dengan pendekatan yang tepat, gerbong wanita dapat menjadi solusi untuk menciptakan transportasi publik yang lebih aman dan inklusif.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sering Makan Korban, Sejumlah Perlintasan Kereta Api di Bogor Belum Berpalang
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Intip Rahasia Hidup Sehat Ala K-Pop Star Lee Jun-ho Ini, Beauty!
• 7 jam laluherstory.co.id
thumb
Dubes Rusia Sebut Jerman Siapkan Arah Konfrontasi Militer dengan Moskow
• 47 menit lalupantau.com
thumb
Menit-menit Terakhir Pelaku Penembakan Trump: Selfie, Kirim Email ke Keluarga
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Pemkot Siagakan Petugas Dishub di Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
• 4 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.