Harga minyak acuan dunia melambung mendekati US$ 120 per barel setelah Amerika Serikat (AS) meningkatkan tekanan terhadap Iran. Tekanan ini menandakan tidak adanya pelonggaran dalam blokade Selat Hormuz serta upaya penyitaan kapal tanker yang berkaitan dengan Teheran oleh Washington.
Harga Brent naik 1,6% menjadi US$ 119,97 per barel, menempati level tertinggi sejak Juni 2022. Sementara harga minyak West Texas Intermediate naik 0,5% menjadi US$ 107,38 per barel.
Presiden AS Donald Trump mengatakan, dia tidak akan mencabut blokade laut terhadap pelabuhan Iran hingga mencapai kesepakatan nuklir dengan Teheran. Walaupun demikian, pejabat Iran tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur.
AS memperluas tekanannya terhadap Teheran dengan mengupayakan penyitaan dua kapal tanker minyak terkait Iran yang telah diamankan oleh Angkatan Laut AS. Militer Negeri Paman Sam juga meminta pengiriman rudal hipersonik ke Timur Tengah. Ini menjadi kali pertamanya AS mengerahkan senjata tersebut.
Selat Hormuz secara efektif telah tertutup sejak perang Iran melawan AS dan Israel dimulai pada akhir Februari. Penutupan ini menghambat aliran minyak mentah, gas alam, dan produk minyak, serta mendorong kenaikan harga energi.
Menurut Gedung Putih, Trump membahas langkah-langkah yang dapat diambil AS untuk memperpanjang blokade sambil meminimalkan dampaknya terhadap konsumen domestik.
Di sisi lain, para pejabat Iran tetap mempertahankan pendirian mereka. Penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaee, bersumpah negaranya akan merespons jika blokade AS berlanjut. Ketua parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menuduh Trump berupaya memaksa Teheran menyerah melalui tekanan ekonomi dan perpecahan internal.
“Para pelaku pasar kini dipaksa menghadapi realitas yang jauh lebih buruk, kedua pihak masih merasa menang, tidak ada insentif jelas untuk bernegosiasi, dan harga energi mulai meningkat lebih cepat,” kata Kepala Riset Komoditas di Westpac Banking Corp, Robert Rennie, dikutip dari Bloomberg, Kamis (30/4).
Badan Energi Internasional (IEA) menyebut konflik di Timur Tengah saat ini sebagai guncangan pasokan terbesar dalam sejarah. Sementara Vitol Group menyatakan pasar menghadapi risiko kehilangan pasokan sekitar 1 miliar barel.




