Sapta dan Mita Menari 10 Jam Nonstop demi Bangkitkan Geliat Tari ”Bumi Sriwijaya”

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

Saat matahari sedang panas-panasnya, Saptaji (22) dan Dewi Paramita (32) terus berlenggak-lenggok lentik di tengah keramaian halaman Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (29/4/2026) siang. Tak peduli keringat bercucuran dan lelah menghantui, tangan, kaki, dan kepala mereka tetap aktif mempertontonkan gerakan yang menawan.

Itu mereka lakukan demi satu tujuan menari 10 jam nonstop dalam peringatan Hari Tari Sedunia 2026 di Palembang. Mereka pun berharap apa yang mereka lakukan bisa membangkitkan geliat tari di ”Bumi Sriwijaya”.

Saptaji yang biasa disapa Sapta adalah mahasiswa semester delapan Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas PGRI Palembang. Pemuda asal Lalan, Musi Banyuasin, Sumsel, itu tidak memiliki latar belakang keluarga seniman ataupun penari. Ketertarikan anak dari pasangan petani itu pada seni olah tubuh muncul saat mula-mula kuliah.

Sebaliknya, Dewi Paramita yang biasa disapa Mita adalah penari profesional dari sanggar tari Musi Palembang. Dia telah berkiprah di kancah nasional sejak 2008. Mita yang berasal dari Pangkalan Balai, Banyuasin, Sumsel, mulai belajar menari sejak usia 8 tahun. Ketertarikannya pada dunia tari menular dari ibunya yang berprofesi sebagai penari dan penyanyi.

Beberapa pekan lalu, Sapta dan Mita tertarik mengikuti seleksi untuk menjadi pasangan yang menari 10 jam nonstop untuk Hari Tari Sedunia 2026 di Palembang. Keduanya terpilih dari sekian banyak penari yang ikuti seleksi ketat tersebut.

Selama dua pekan terakhir, mental dan fisik Sapta dan Mita terus digodok. Selain latihan tari rutin, mereka aktif berolahraga untuk menjaga stamina, asupan makanan bergizi untuk menjaga fisik, hingga tidur atau istirahat yang cukup agar selalu prima. Persiapan harus matang karena selama ini mereka tidak pernah menari nonstop lebih dari 15 menit.

Saat hari-H tiba, mereka menjalani misi menari 10 jam nonstop sejak Rabu pukul 10.00 WIB dan hingga pukul 20.00 WIB. Dalam kurun waktu tersebut, mereka menari mengiringi puluhan kelompok sanggar tari dari sejumlah kabupaten/kota di Sumsel yang memeriahkan rangkaian acara tersebut.

Selain menjadi pengiring, mereka dibebaskan melakukan aktivitas lain, seperti minum, makan, istirahat, hingga ke kamar kecil. Syaratnya mereka harus terus melakukan gerakan tari, minimal menggerakkan tangan. Pengecualian harus menari hanya berlaku saat ibadah.

Dalam menjalankan misi tersebut, mereka didampingi oleh asisten pribadi dan petugas medis secara ketat. Sesekali, petugas medis memeriksa kesehatan mereka, antara lain tekanan darah. Para asisten pribadi pun terus menyiapkan semua keperluan, seperti minuman saat haus, makanan saat lapar, dan mengembuskan kipas saat kepanasan.

Ternyata, menari selama berjam-jam tidak mudah, terlebih di luar ruangan dengan matahari terik. Energi cepat terkuras karena keringat terus bercucuran. Tubuh cepat letih karena panas sangat menyengat.

Namun, mereka bergeming dan terus menghadapi tantangan yang tidak mudah ditaklukkan tersebut. Itu karena motivasi mereka terlampau besar melebihi rintangan yang ada.

Sapta termotivasi untuk mencapai tahapan baru dalam hidupnya, sedangkan Mita ingin mencoba keluar dari zona nyaman. Akan tetapi, semuanya memiliki muara yang sama. ”Kami ingin membangkitkan geliat tari di Palembang ataupun Sumsel. Semoga apa yang kami lakukan memotivasi para penari lain,” ujar Sapta dan Mita.

Sebagian besar gerakan yang dilakukan Sapta dan Mita adalah tari kontemporer yang menyesuaikan keadaan. Namun, di pengujung acara, mereka akan menampilkan tari kreasi masing-masing yang diiringi oleh 1.000 penari lain.

Sapta mempertunjukkan Tari Kugup yang diciptakannya lima bulan lalu. Tari itu terinspirasi dari cerita rakyat mengenai Bujang Kurap yang menjadi legenda asal-mula terciptanya Danau Rayo di Musi Rawas Utara, Sumsel. Kugup artinya kejutan, sebagaimana kejutan Bujang Kurap yang mengeluarkan kesaktiannya setelah dipandang hina masyarakat.

Mita mempertunjukkan Tari Tanggai Sang Dara yang diciptakannya pada 2023. Tanggai berarti properti kecantikan di jemari penari perempuan khas Sumsel dan bisa menjadi alat pertahanan diri. Sang dara artinya perempuan. Tari itu mengisahkan karakter perempuan Sumsel yang selalu menjaga penampilan, tetapi berani melawan kejahatan.

Pembina Komunitas Sanggar Tari Palembang (Satapa) Mirza Indra Dewi mengatakan, acara menari 10 jam nonstop mulai dirintis sejak 2018 setelah mereka terinsipirasi dengan acara menari 24 jam nonstop di Solo, Jawa Tengah, beberapa tahun sebelumnya. Awalnya pada 2018, mereka membuat acara menari 6 jam nonstop. Kemudian, menari 8 jam nonstop pada 2024 dan 10 jam nonstop pada 2026.

Suatu hari nanti, mereka berharap bisa membuat acara menari 24 jam nonstop di Palembang. ”Kami terus merintisnya secara bertahap karena tidak mudah menari selama belasan hingga puluhan jam. Itu butuh persiapan matang, mulai dari mental dan fisik penari hingga tim pendukung yang mumpuni,” kata Mirza.

Kepala Dinas Kebudayaan Palembang Kiagus Sulaiman Amin menuturkan, aksi Sapta dan Mita diharapkan menjadi pelecut semua sanggar tari di Palembang ataupun Sumsel untuk membangkitkan tari-tarian tradisional yang lama mati suri. Palembang memiliki banyak jenis tarian tradisional yang diwariskan secara turun-temurun sejak zaman Sriwijaya.

Karena perkembangan zaman, banyak dari tari-tarian tradisional itu yang tenggelam oleh tari kreasi ataupun modern. ”Dengan teladan semangat yang ditunjukkan Sapta dan Mita, mari kita berani mengeksplorasi lagi tari-tarian tradisional kita yang sudah lama hilang,” tutur Sulaiman.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Imbas Revitalisasi Gedung Sate, Dishub Terapkan Rekayasa Lalu Lintas
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Ayah dan Balita yang Kirim Pesan Minta Tolong Selamat dari Kebakaran Apartemen Mediterania
• 5 jam lalukompas.com
thumb
Jelang Hari Buruh, Serikat Pekerja Soroti Pemenuhan Hak dan Perlindungan
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Populer: Prabowo Tegaskan Program MBG Lanjut; KAI soal Perlintasan Tak Dijaga
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Jadi Bos Baru Barantin, Karding Targetkan Bongkar Ego Sektoral
• 17 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.