Penulis: Fityan
TVRINews – London
Data inflasi April menjadi penentu apakah era suku bunga tinggi akan berlanjut akibat gangguan pasokan energi dunia.
Pasar keuangan global kini berada dalam fase penantian kritis saat data inflasi bulan April bersiap dirilis.
Laporan ini diprediksi akan menjadi indikator utama apakah lonjakan harga energi yang dipicu oleh ketegangan di Selat Hormuz bersifat transitori atau mulai meresap secara permanen ke dalam harga barang dan jasa secara luas.
Gejolak di Timur Tengah telah mengganggu jalur perdagangan maritim utama, memicu kenaikan harga energi yang signifikan.
Berdasarkan laporan Anadolu Agency pada Rabu 29 April 2026, dampak awal dari disrupsi ini telah terpotret dalam angka inflasi bulan Maret yang melampaui ekspektasi di beberapa wilayah ekonomi utama.
Titik Uji di Tiga Benua
Perhatian investor kini tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan pada 12 Mei mendatang. Sementara itu, data awal inflasi Zona Euro akan dirilis pada hari Kamis ini, disusul oleh laporan ekonomi Jepang pada 22 Mei.
Direktur Riset Investasi di Kuveyt Turk, Kutay Gungor, menilai data bulan April sebagai tolok ukur krusial untuk memetakan dampak krisis Selat Hormuz terhadap perilaku penetapan harga di pasar.
"Data April akan menjadi ukuran penting untuk melihat apakah kekhawatiran pasokan ini hanya memicu volatilitas jangka pendek atau justru membentuk titik keseimbangan harga baru pada komoditas," ujar Gungor sebagaimana dikutip dari Anadolu Agency.
Gungor menambahkan bahwa biaya pengiriman yang tetap tinggi serta premi risiko geopolitik berpotensi menciptakan efek lanjutan, khususnya pada sektor jasa.
Kondisi ini dikhawatirkan dapat menghambat tren disinflasi global yang selama ini diupayakan oleh otoritas moneter.
Tekanan di Zona Euro dan Amerika
Tanda-tanda tekanan inflasi mulai terlihat sejak Maret lalu. Di Amerika Serikat, inflasi tahunan merangkak naik ke angka 3,3 persen, dengan kenaikan bulanan sebesar 0,9 persen yang didominasi oleh faktor biaya energi.
Situasi serupa terjadi di Zona Euro, di mana inflasi tahunan melompat dari 1,9 persen pada Februari menjadi 2,6 persen pada Maret.
Lonjakan bulanan sebesar 1,3 persen di kawasan ini secara signifikan melampaui konsensus pasar, didorong oleh sektor energi dan jasa.
Di Tokyo, Bank of Japan (BoJ) memilih untuk mempertahankan suku bunga di level 0,75 persen pada Selasa lalu.
Namun, BoJ melakukan revisi tajam terhadap proyeksi inflasi inti tahun 2026, menaikkannya dari 1,9 persen menjadi 2,8 persen.
Kenaikan harga minyak mentah akibat konflik di Timur Tengah diprediksi akan menekan margin laba perusahaan dan daya beli rumah tangga di Jepang.
Implikasi Kebijakan Moneter
Federal Reserve AS dijadwalkan akan mengumumkan keputusan kebijakan terbaru mereka pada Rabu 29 April.
Meskipun suku bunga diperkirakan tetap, pertemuan ini menjadi momen historis karena merupakan rapat terakhir yang dipimpin oleh Jerome Powell sebelum masa jabatannya berakhir pada 15 Mei.
"Potensi pengetatan dalam data April akan mempersempit ruang gerak bank sentral dan mendorong ekspektasi pemangkasan suku bunga ke kuartal keempat," tegas Gungor.
Selain The Fed, Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of England (BoE) juga akan memberikan pernyataan kebijakan pada.
Jika data inflasi April menunjukkan bahwa tekanan harga berbasis energi mulai menetap (well-anchored), bank-bank sentral utama dunia kemungkinan besar akan dipaksa untuk meninjau kembali jadwal dan peta jalan pemangkasan suku bunga mereka tahun ini.
Editor: Redaktur TVRINews





