Dhaka: Bangladesh resmi memulai pengisian bahan bakar uranium ke pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pertamanya pada Selasa, 28 April 2026, yang menandai langkah besar menuju operasional penuh fasilitas energi strategis tersebut.
Pembangkit Rooppur Nuclear Power Plant yang memiliki kapasitas 2.400 megawatt diproyeksikan mampu memenuhi sekitar 10 persen kebutuhan listrik nasional Bangladesh.
Proyek senilai 11 miliar dolar AS itu telah dibangun sejak 2017 dan ditargetkan mulai menghasilkan sekitar 300 megawatt listrik pada Agustus mendatang. Pejabat ilmiah senior proyek, Saikat Ahmed, mengatakan tahap ini merupakan awal dari pengoperasian fisik reaktor.
“Reaksi berantai fisi nuklir terkontrol akan dimulai di inti reaktor setelah pengisian bahan bakar selesai,” ujarnya, seperti dikutip Channel News Asia, Rabu, 29 April 2026.
Langkah ini dilakukan ketika Bangladesh menghadapi tekanan berat pada jaringan listrik nasional, terutama selama musim panas saat konsumsi energi melonjak tajam.
Kondisi tersebut diperburuk oleh krisis energi global akibat terganggunya pasokan dari Timur Tengah. Energi Nuklir sebagai Solusi Strategis Sebagai negara yang mengimpor sekitar 95 persen kebutuhan minyak dan gasnya, sebagian besar melalui jalur Selat Hormuz, Bangladesh terdorong mempercepat diversifikasi energi untuk mengurangi ketergantungan eksternal.
Pemerintah memandang energi nuklir sebagai salah satu solusi strategis untuk memperkuat ketahanan energi jangka panjang.
Menteri Sains dan Teknologi Bangladesh Fakir Mahbub Anam sebelumnya menyatakan bahwa PLTN Rooppur diharapkan mulai memasok listrik ke jaringan nasional pada Agustus 2026.
Meski demikian, proses pengujian dan evaluasi keselamatan akan dilakukan secara bertahap sebelum fasilitas mencapai kapasitas operasional penuh pada 2027.
Profesor teknik nuklir Universitas Dhaka, Shafiqul Islam, menegaskan pentingnya pengawasan ketat selama fase awal ini.
Ia menyatakan seluruh aspek keselamatan dan keamanan harus dievaluasi secara menyeluruh sebelum pembangkit memasuki tahap produksi penuh. (Keysa Qanita)
Baca juga: Korea Selatan Desak Dunia Bertindak atas Program Nuklir Korea Utara




