Kendari (ANTARA) - Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menggaet Balai Karantina untuk memperkuat proses skrining penyakit menular HIV/AIDS terhadap penduduk yang datang dan masuk ke wilayah Bumi Anoa.
Kepala Dinkes Sultra Andi Edy Surahmat saat ditemui di Kendari, Kamis, mengatakan bahwa langkah ini diambil menyusul temuan 123 kasus baru HIV/AIDS di Sultra pada triwulan I atau periode Januari-Maret 2026, dimana mobilitas penduduk yang tinggi di sektor industri dan pertambangan dinilai menjadi salah satu pemicu utama penyebaran.
Baca juga: Dinkes: 81 kasus HIV ditemukan di Baubau-Sultra sepanjang 2022
"Mobilitas penduduk di Sultra cukup tinggi, terutama di sektor pertambangan. Karena itu, kami mendorong penguatan skrining melalui kolaborasi dengan Balai Karantina Kesehatan guna menekan angka penularan," kata Edy Surahmat.
Dia menyebutkan bahwa berdasarkan data Dinas Kesehatan, Kota Kendari dan Kota Baubau menjadi wilayah dengan konsentrasi kasus tertinggi.
"Sebagai daerah transit dengan aktivitas pelabuhan yang padat, Baubau memiliki risiko penularan yang lebih besar, sementara Kendari menjadi titik temu aktivitas ekonomi dan pemerintahan," ujarnya.
Edy Surahmat mengungkapkan bahwa selain faktor mobilitas terdapat juga pergeseran tren perilaku yang berisiko. Saat ini, temuan kasus terbanyak berasal dari kelompok lelaki seks lelaki (LSL) dan diikuti oleh wanita pekerja seks.
Dia menjelaskan bahwa selain memperkuat skrining fisik di pintu-pintu masuk wilayah, Dinkes Sultra juga menginstruksikan jajaran di kabupaten dan kota untuk melakukan pendekatan edukatif yang lebih intensif kepada masyarakat dan kelompok berisiko.
Baca juga: Malam Seribu Obor di Kendari Sambut Hari AIDS
Baca juga: Sultra sediakan obat dan skrining gratis untuk cegah AIDS hingga TBC
Edukasi tersebut mencakup pemahaman mengenai cara penularan, pentingnya deteksi dini melalui tes kesehatan, serta penerapan pola hidup sehat. Upaya ini dilakukan secara hybrid, baik melalui pertemuan tatap muka maupun media daring.
"Kami juga melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk memperkuat pesan-pesan pencegahan dari sisi sosial. Melalui kolaborasi lintas sektor ini, diharapkan kesadaran masyarakat meningkat, sehingga angka penularan HIV dapat ditekan secara signifikan," katanya.
Kepala Dinkes Sultra Andi Edy Surahmat saat ditemui di Kendari, Kamis, mengatakan bahwa langkah ini diambil menyusul temuan 123 kasus baru HIV/AIDS di Sultra pada triwulan I atau periode Januari-Maret 2026, dimana mobilitas penduduk yang tinggi di sektor industri dan pertambangan dinilai menjadi salah satu pemicu utama penyebaran.
Baca juga: Dinkes: 81 kasus HIV ditemukan di Baubau-Sultra sepanjang 2022
"Mobilitas penduduk di Sultra cukup tinggi, terutama di sektor pertambangan. Karena itu, kami mendorong penguatan skrining melalui kolaborasi dengan Balai Karantina Kesehatan guna menekan angka penularan," kata Edy Surahmat.
Dia menyebutkan bahwa berdasarkan data Dinas Kesehatan, Kota Kendari dan Kota Baubau menjadi wilayah dengan konsentrasi kasus tertinggi.
"Sebagai daerah transit dengan aktivitas pelabuhan yang padat, Baubau memiliki risiko penularan yang lebih besar, sementara Kendari menjadi titik temu aktivitas ekonomi dan pemerintahan," ujarnya.
Edy Surahmat mengungkapkan bahwa selain faktor mobilitas terdapat juga pergeseran tren perilaku yang berisiko. Saat ini, temuan kasus terbanyak berasal dari kelompok lelaki seks lelaki (LSL) dan diikuti oleh wanita pekerja seks.
Dia menjelaskan bahwa selain memperkuat skrining fisik di pintu-pintu masuk wilayah, Dinkes Sultra juga menginstruksikan jajaran di kabupaten dan kota untuk melakukan pendekatan edukatif yang lebih intensif kepada masyarakat dan kelompok berisiko.
Baca juga: Malam Seribu Obor di Kendari Sambut Hari AIDS
Baca juga: Sultra sediakan obat dan skrining gratis untuk cegah AIDS hingga TBC
Edukasi tersebut mencakup pemahaman mengenai cara penularan, pentingnya deteksi dini melalui tes kesehatan, serta penerapan pola hidup sehat. Upaya ini dilakukan secara hybrid, baik melalui pertemuan tatap muka maupun media daring.
"Kami juga melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk memperkuat pesan-pesan pencegahan dari sisi sosial. Melalui kolaborasi lintas sektor ini, diharapkan kesadaran masyarakat meningkat, sehingga angka penularan HIV dapat ditekan secara signifikan," katanya.





