Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah pada perdagangan Kamis (30/4). Hingga pukul 11.23 WIB, indeks berada di level 6.935,297 atau turun 165,929 poin (-2,34%).
IHSG dibuka di level 7.103,256 dan sempat menyentuh level tertinggi 7.109,004. Namun tekanan jual membuat indeks turun hingga menyentuh level terendah di 6.929,589.
Merespons hal itu, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), Hery Gunardi, membagikan pandangannya terkait strategi investasi di tengah pergerakan IHSG yang tengah mengalami tekanan.
Ia menilai, investor perlu memahami tujuan investasinya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan di pasar modal, terutama dalam kondisi pasar yang fluktuatif.
“Ini melihatnya dari angle investor. Nah kalau investor di pasar modal itu kan ada beberapa objektif gitu, ada yang jangka pendek, ada yang jangka panjang,” ujar Hery saat konferensi pers kinerja kuartal I 2026 BRI secara daring, Kamis (30/4).
Hery menjelaskan, bagi investor jangka panjang yang investasinya bisa mencapai 5 hingga 20 tahun, disarankan untuk memilih saham dengan fundamental kuat atau kategori blue chip.
“Dan belilah saham-saham yang blue chip, yang fundamentalnya bagus seperti BBRI,” sebut dia.
Menurutnya, investor jangka panjang tak perlu terlalu terpengaruh oleh pergerakan harga saham harian yang berfluktuasi naik turun.
“Maksudnya apa? Anda gak usah terlalu lihat, karena kita seperti saya juga adalah investor yang jangka menengah dan jangka panjang. Kita gak usah lihat harga saham naik turun, naik turun itu bikin namanya tekanan darah naik juga gitu kan,” ucap Hery.
Katanya, strategi investasi mesti selaras dengan tujuan awal. Pendekatan investor jangka pendek seperti trading tentu berbeda dengan investasi jangka panjang.
“Karena investasi itu mesti sesuai dengan objektifnya kita. Kalau mau one day trading itu lain gitu, tapi kalau mau jangka panjang ya anda mesti napasnya juga panjang, gak usah dilihat gitu ya,” lanjutnya.
Hery mengingatkan dalam kondisi pasar yang sedang tertekan, investor sebaiknya melihat aspek fundamental seperti dividen, bukan hanya harga saham.
Dia melanjutkan, selama kondisi makroekonomi membaik, baik global maupun domestik, maka pasar saham berpotensi kembali menguat.
“Nanti kan marketnya bagus ya, makro ekonominya membaik, baik itu global maupun lokal, saham-saham itu pasti akan ikut naik gitu, indeks akan ikut naik gitu,” kata Hery.
“Jadi itu tipsnya, silakan kalau mau berinvestasi, jangan lupa ya pilih yang blue chip, jangan pilih yang saham yang tidak blue chip,” imbuh ia.
===
Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan dan keputusan pembaca. Berita ini bukan merupakan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual suatu produk investasi tertentu.





