REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) menegaskan pentingnya penguatan ketahanan (resilience) perbankan syariah dalam menghadapi berbagai dinamika global yang semakin kompleks. Hal ini disampaikan oleh Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah KNEKS Sutan Emir Hidayat dalam webinar internasional bertajuk “Enhancing the Resilience of Islamic Banks in the Face of Global Exogenous Events” yang diselenggarakan oleh The General Council for Islamic Banks and Financial Institutions (CIBAFI) bekerja sama dengan Bahrain Institute of Banking and Finance (BIBF) pada Ahad (27/4/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi berkelanjutan antara CIBAFI dan BIBF dalam memperkuat pertukaran pengetahuan dan peningkatan kapasitas industri jasa keuangan syariah global. Webinar ini juga menjadi forum strategis untuk membahas upaya penguatan ketahanan institusi perbankan syariah di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Baca Juga
Penonton Konser BTS Belanja Lebih Besar dari Turis Rata-rata di Korea
Eks Komisaris KAI Sebut Mangkraknya Proyek DDT Jadi Akar Masalah Tragedi Stasiun Bekasi Timur
Ubah Nama Jadi Departemen Perang, AS Rogoh Rp830 Miliar
Dalam paparannya, Sutan Emir Hidayat menyampaikan bahwa perbankan syariah menghadapi berbagai tantangan eksternal, seperti risiko perubahan iklim, dinamika geopolitik, disrupsi keuangan global, hingga ancaman siber. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kerangka tata kelola, manajemen risiko, serta kesiapan menghadapi krisis agar perbankan syariah mampu bertahan dan tetap tumbuh.
Ia menekankan bahwa prinsip-prinsip dasar keuangan syariah yang berbasis pada nilai etika, keadilan, dan keterkaitan dengan sektor riil menjadi keunggulan tersendiri dalam membangun sistem keuangan yang lebih stabil dan berkelanjutan.