PT BSR Klaim Tetap Pemilik Sah Mayoritas PT MPM, Ini Sebabnya

jpnn.com
3 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Sengketa kepemilikan saham PT Manusela Prima Mining (PT MPM) antara PT Bina Sewangi Raya (PT BSR) dan pihak Farida Ode Gawu, Raflex Nugraha Puttileihalat, serta Ayu Ditha Greslya Puttileihalat, mencapai titik akhir.

Hal tersebut sehubungan dengan keputusan Mahkamah Agung (MA) menolak upaya hukum terakhir dari pihak Farida.

BACA JUGA: Pakar Sebut Influencer Tak Kompeten Berbahaya bagi Penegakan Hukum

Penolakan tertuang dalam Putusan Peninjauan Kembali (PK) Nomor 1318 PK/PDT/2025 yang diputus pada Selasa, 28 April 2026 sebagaimana termuat di dalam situs info perkara Mahkamah Agung dengan Majelis Hakim Agung yang diketuai oleh Pimpinan Tertinggi Kedua Mahkamah Agung, Wakil Ketua MA Bidang Yudisial, Suharto, SH., M.Hum.

Putusan tersebut pada pokoknya menolak permohonan PK yang diajukan Farida Ode Gawu, Raflex Nugraha Puttileihalat, Ayu Ditha Greslya Puttileihalat, dkk.

BACA JUGA: LSM Desak Satgas PKH Sita Aset PT Berkat Satu Atas Kasus Lahan Ilegal di Rohul

Menanggapi hal tersebut, kuasa hukum PT BSR, Andreas Dony, menegaskan bahwa putusan Mahkamah Agung ini menjadi penutup dari seluruh rangkaian sengketa yang telah berlangsung bertahun-tahun.

“Putusan PK ini menegaskan secara terang bahwa tidak ada lagi dasar hukum untuk menghidupkan Akta Notaris Nomor 01 Tahun 2020. Dengan demikian, seluruh konstruksi hukum yang dibangun dari akta tersebut, termasuk Akta Notaris Nomor 2 Tahun 2024, tidak sah dan tidak mempunyai kekuatan hukum,” ungkap Andreas dalam keterangan pers, Kamis (30/4).

BACA JUGA: PT KAI Bakal Dievaluasi Total Buntut Tabrakan Kereta Api di Bekasi

Menurutnya, dengan berakhirnya seluruh upaya hukum tersebut, posisi kepemilikan saham PT MPM kini telah jelas dan tidak lagi dapat diperdebatkan.

“Secara hukum, PT Bina Sewangi Raya (BSR) adalah pemegang saham mayoritas yang sah di PT MPM. Ini sudah ditegaskan berulang kali oleh putusan pengadilan hingga tingkat Mahkamah Agung,” tambahnya.

Lebih lanjut, Andreas menjelaskan perkara ini merupakan bagian dari gugatan perdata kedua yang diajukan pihak Farida Ode Gawu dkk di Pengadilan Negeri Dataran Hunipopu, Maluku, yang dinilai berupaya 'menghidupkan kembali' Akta Nomor 01 Tahun 2020 yang menjadi dasar penerbitan Akta Nomor 02 Tahun 2024.

Namun, sejak tingkat Banding, Kasasi, hingga Peninjauan Kembali, seluruh upaya hukum tersebut secara konsisten ditolak oleh pengadilan dan Mahkamah Agung.

Menurutnya, dengan ditolaknya PK tersebut, maka secara hukum tidak ada lagi ruang untuk menghidupkan kembali Akta Nomor 01 Tahun 2020. Konsekuensinya, segala tindakan hukum yang bersumber dari akta tersebut, termasuk Akta Nomor 02 Tahun 2024, juga tidak memiliki kekuatan hukum.

Demi memahami akar sengketa, perkara ini bermula dari transaksi jual beli saham pada 14 Maret 2018, di mana PT BSR secara sah mengakuisisi 70 persen saham PT MPM melalui akta notaris resmi yang telah disahkan oleh Kementerian Hukum dan HAM, sehingga menempatkan PT BSR sebagai pemegang saham mayoritas dengan hak suara.

Permasalahan muncul dua tahun kemudian setelah adanya perubahan anggaran dasar oleh pihak Farida Ode Gawu, dkk melalui Akta Nomor 01 Tahun 2020 yang dilakukan tanpa persetujuan PT BSR sebagai pemegang saham mayoritas, yang mengakibatkan hilangnya kepemilikan saham PT BSR dan memicu rangkaian sengketa hukum panjang baik secara perdata maupun pidana.

Dalam perkara perdata pertama yang diajukan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, majelis hakim menyatakan Akta Nomor 01 Tahun 2020 tidak sah, tidak mengikat, dan batal demi hukum. Putusan tersebut kemudian dikuatkan hingga tingkat kasasi Mahkamah Agung.

“Sebaliknya, dalam perkara perdata kedua yang diajukan di Pengadilan Negeri Dataran Hunipopu, Maluku, upaya pihak Farida Ode Gawu, dkk untuk menyatakan Akta Nomor 01 Tahun 2020 tersebut sah justru ditolak di seluruh tingkat peradilan hingga putusan PK terbaru ini,” tambah Andreas Dony.

Andreas Dony menambahkan bahwa selain perkara perdata, sengketa ini juga bergulir di ranah pidana. Dari pihak Farida Ode Gawu, dkk, dua orang yaitu Raflex Nugraha Puttileihalat dan Ayu Ditha Greslya Puttileihalat telah ditetapkan sebagai tersangka dalam laporan di Kepolisian khususnya Polda Metro Jaya terkait dugaan pemalsuan surat dan penipuan dalam penerbitan Akta Nomor 02 Tahun 2024.

Sedangkan untuk penerbitan Akta No. 01 Tahun 2020 PT BSR telah melaporkannya ke Bareskrim Mabes Polri terkait dugaan pemalsuan surat dan penipuan dan atas laporan tersebut penyidik telah menetapkan Raflex Nugraha Puttileihalat sebagai Tersangka

Dengan seluruh rangkaian putusan pengadilan perdata yang telah berkekuatan hukum tetap, posisi hukum menjadi terang dan final. Akta Nomor 01 Tahun 2020 dan Akta Nomor 02 Tahun 2024 tidak memiliki kekuatan hukum dan PT Bina Sewangi Raya (PT BSR) secara sah merupakan pemegang saham mayoritas 70% PT Manusela Prima Mining (PT MPM). (jpnn)


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dinkes DKI ingatkan warga akan dampak serius El Nino pada kesehatan
• 1 jam laluantaranews.com
thumb
iPhone Lipat Pertama Segera Rilis 2026, Namanya Mirip HP Samsung
• 13 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Soal Tabrakan KRL vs Taksi Hijau: Maju-Mundur Gak Bisa, 2 Menit Ditabrak Kereta
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Presiden Prabowo Dorong Hilirisasi Berbasis Teknologi Terbaik dan Bermanfaat untuk Rakyat
• 5 jam laluliputan6.com
thumb
Momen Kabinet Merah Putih Nobar Film Para Perasuk, Potret Dukungan untuk Sineas Lokal
• 17 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.