TBS Energi (TOBA) Kantongi Rp1,43 Triliun di Triwulan I/2026

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) sepanjang Januari-Maret 2026 membukukan total pendapatan sebesar US$82,29 juta atau sekitar Rp1,43 triliun (kurs JISDOR Rp17.324 per dolar AS). Angka ini meningkat 20,6% secara year on year (YoY) dibanding raihan US$71,52 juta pada periode yang sama 2025.

Direktur TBS Juli Oktariana menjabarkan bahwa lini bisnis pengelolaan limbah menjadi kontributor utama perusahaan dengan menyumbang 60% dari total pendapatan konsolidasi, atau 93% dari total EBITDA disesuaikan.

Pendapatan dari segmen bisnis pengelolaan limbah juga melonjak 447,69% YoY atau 5,5 kali lipat dari US$9,4 juta dalam kuartal pertama 2025 menjadi US$51,9 juta selama triwulan pertama 2026.

Juli menegaskan bahwa kinerja kuartal I 2026 merupakan validasi atas ketepatan arah transformasi perusahaan yang kini bertransformasi dari bisnis batu bara ke bisnis hijau.

"Langkah besar akuisisi dan divestasi di tahun 2025 merupakan bentuk penataan ulang portofolio strategis yang terencana dan krusial bagi masa depan TBS. Fase transisi ini akan berdampak sementara pada laba kami, tapi transisi ini diperlukan sebagai fondasi agar TBS menjadi platform bisnis berkelanjutan dengan margin tinggi, yang siap memberikan nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (30/4/2026).

Sementara itu, pada segmen energi terbarukan, fasilitas pembangkit listrik tenaga mini hidro (PLTM) berkapasitas 6 megawatt (MW) yang dimiliki perseroan telah beroperasi secara penuh dan memberikan kontribusi pendapatan sebesar US$3,2 juta. Sedangkan, proyek PLTS Terapung berkapasitas 46 megawatt-peak (MWp) telah mencapai progres pembangunan dengan target penyelesaian operasional pada kuartal keempat 2026.

Baca Juga

  • Izin Konsesi Dicabut, Toba Pulp (INRU) PHK Massal Karyawan 12 Mei
  • TBS Energi Utama (TOBA) Tebar Dividen US$8,88 Juta, Ini Jadwal Pembayarannya
  • Dari Rights Issue hingga Dividen, RUPST TOBA Setujui Beragam Aksi Korporasi

Selanjutnya dari segmen kendaraan listrik, pendapatan dari penjualan dan penyewaan sepanjang Januari-Maret 2026 tumbuh hampir 2,5 kali lipat sebesar 137,82% YoY dari US$1,3 juta menjadi US$3,2 juta.

TBS Energi Utama Tbk. - TradingView

 

Sementara di segmen batu bara yang kini perlahan mulai ditinggalkan, Juli menjelaskan bahwa perseroan memprioritaskan efisiensi dengan cara menekan biaya operasional tunai sebesar 5,8% menjadi US$42,5 per ton. Langkah ini mampu menjaga resiliensi bisnis di tengah fluktuasi harga pasar, sehingga margin laba kotor pertambangan tetap terjaga secara stabil di angka 15,8% pada kuartal pertama 2026.

Sementara dari aspek neraca keuangan, Juli menjabarkan bahwa efisiensi yang dilakukan TOBA membuat posisi arus kas operasional yang sebelumnya negatif US$2,9 juta pada 2025 menjadi positif US$9,9 juta pada 2026. Dengan kas yang membaik ini perseroan optimis dapat leluasa membiayai pertumbuhan bisnis hijau yang kini menjadi core bisnis TOBA.

"Dengan posisi kas sebesar US$103,3 juta pada kuartal pertama 2026 dan manajemen modal kerja yang disiplin, TBS memiliki kapasitas likuiditas yang cukup untuk mendukung rencana pertumbuhan dan target netralitas karbon pada tahun 2030,” jelasnya.

Adapun, laba kotor yang dibukukan perseroan sepanjang triwulan pertama 2026 tercatat tumbuh 46,8% YoY dari US$7,07 juta menjadi US$10,38 juta. Dari sisi bottom line, TOBA memang masih mengalami kerugian sebesar US$9,55 juta, namun kinerja di triwulan I/2026 tersebut jauh mengecil atau berkurang 83% YoY dibanding raihan triwulan pertama 2025 saat perseroan menanggung kerugian US$58,92 juta.

Juli menjelaskan bahwa kinerja bottom line yang masih negatif tersebut lebih disebabkan oleh item non-cash, di mana ada aspek amortisasi dan depresiasi yang terjadi akibat akuisisi TOBA atas perusahaan asal Singapura, CORA Environment, tahun lalu. Perseroan juga optimis seiring dengan kinerja bisnis hijau yang menunjukkan performa pertumbuhan signifikan, perseroan dapat membalik kerugian menjadi laba.

"Secara operasional, bisnis waste management ini masih making profit sebenarnya, cuma tadi ada biaya intangible asset itu kita harus depresiasi dan masukkan ke dalam buku," pungkasnya.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Info Pencairan TPG: Kemenag Siapkan Rp11,59 Triliun untuk Tuntaskan Sertifikasi 467.353 Guru S1
• 19 jam laludisway.id
thumb
KPK Periksa Mantan Sopir Lukas Enembe
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pemprov Jatim Cetak Transaksi Rp 15,25 T dalam Misi Dagang dengan Malaysia
• 20 jam laludetik.com
thumb
Keselamatan yang Diskriminatif, Siapa yang Harus Menanggung Risiko?
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Pemerintah Akan Tentukan Orang yang Pantas Menyandang Status Aktivis HAM
• 22 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.