Saat para praktisi Falun Gong di seluruh dunia menggelar parade dan aksi untuk memperingati “27 tahun permohonan damai 25 April”, komunitas Tionghoa di berbagai negara juga mengadakan kegiatan dukungan, memprotes penindasan Falun Gong oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT). “Hentikan penganiayaan terhadap Falun Gong, kebebasan berkeyakinan bukanlah kejahatan! Bebaskan para praktisi Falun Gong! Dunia membutuhkan Sejati-Baik-Sabar! Kebebasan dan demokrasi bukanlah kejahatan, tumbangkan rezim diktator PKT!” ujar seorang Aktivis demokrasi di Los Angeles.
EtIndonesia. Pada 26 April sore waktu Pantai Barat AS, anggota Aliansi Internasional Partai Demokrasi Tiongkok dan anggota Partai Demokrasi Kebebasan Hong Kong mengadakan kegiatan di depan Konsulat PKT di Los Angeles bertajuk “Mendukung 27 Tahun Permohonan Damai 25 April Falun Gong · Membubarkan PKT”.
Untuk diketahui, pada 25 April 1999, lebih dari 10.000 praktisi Falun Gong berkumpul secara damai di Beijing, di luar Zhongnanhai, markas pusat rezim Tiongkok, untuk menuntut pembebasan 45 praktisi yang ditahan secara sewenang-wenang oleh polisi di kota Tianjin.
Mereka juga mengajukan petisi untuk hak kebebasan berkeyakinan yang dijamin konstitusi, setelah banyak praktisi di seluruh Tiongkok mengalami pelecehan dan penyelidikan karena keyakinan mereka. Selain itu, para praktisi mendesak rezim komunis untuk mencabut larangan yang diberlakukan terhadap buku-buku Falun Gong.
Falun Gong, yang juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah sebuah praktik spiritual yang berakar pada tradisi Buddha. Diperkenalkan kepada publik di Tiongkok pada tahun 1992, praktik ini mencakup latihan meditasi yang lembut serta prinsip kebenaran, belas kasih, dan toleransi. Praktik ini menyebar dengan cepat di Tiongkok sepanjang tahun 1990-an, dan pada tahun 1999 diperkirakan antara 70 juta hingga 100 juta orang telah mempraktikkannya.
Rezim Tiongkok, yang memandang popularitas ini sebagai ancaman terhadap kekuasaannya, meningkatkan penindasan terhadap Falun Gong setelah aksi damai 25 April 1999 tersebut. Hanya tiga bulan kemudian, pada Juli 1999, rezim meluncurkan kampanye penindasan besar-besaran yang disertai kekerasan dan propaganda kebencian terhadap para praktisi Falun Gong, dengan tujuan untuk memberantas praktik spiritual tersebut.
Kampanye penindasan ini kini telah berlangsung selama 27 tahun, di mana mereka yang menolak meninggalkan keyakinannya menghadapi pengawasan, penculikan, penahanan, pemenjaraan, indoktrinasi, dan penyiksaan.
Di lokasi kegiatan di Los Angeles, para peserta membentangkan spanduk seperti “Bubarkan PKT” dan “PKT adalah kelompok kriminal terbesar”, serta meneriakkan slogan untuk memprotes penganiayaan terhadap Falun Gong.
Aktivis demokrasi di Los Angeles: “Perdamaian tidak bersalah, keyakinan tidak bersalah. Hentikan penganiayaan, ungkap kebenaran.”
Ketua Partai Sosial Demokrat Tiongkok, Liu Yinquan, dalam pidatonya menyebutkan bahwa pada 25 April 1999, Perdana Menteri saat itu Zhu Rongji menerima praktisi Falun Gong dan menyetujui tuntutan dasar mereka, namun Jiang Zemin kemudian tetap memutuskan untuk menindas Falun Gong.
“Prinsip Falun Gong adalah ‘Sejati, Baik, Sabar’. Jika semua orang berpegang pada prinsip ini, bukankah masyarakat akan menjadi lebih baik? Namun tak lama kemudian, janji-janji yang disampaikan Zhu Rongji dibatalkan, dan penindasan brutal terhadap praktisi Falun Gong dimulai. Hingga kini sudah berlangsung 27 tahun,” katanya.
Selama 27 tahun terakhir, berbagai bentuk penyiksaan terhadap praktisi Falun Gong disebut telah terjadi, termasuk tuduhan pengambilan organ secara paksa dalam skala besar.
Ketua Aliansi Internasional Partai Demokrasi Tiongkok, Jie Lijian: “Dulu dunia tidak percaya soal pengambilan organ paksa, tetapi selama bertahun-tahun Falun Gong terus menyuarakan hal ini dan menunjukkan bukti, sehingga semakin banyak orang memahami bahwa pemerintah PKT secara sistematis melakukan tindakan yang melanggar kemanusiaan.”
Para peserta aksi di lokasi juga mengecam tindakan tersebut, dan menyatakan bahwa banyak warga Tiongkok mengetahui situasi ini melalui informasi yang disebarkan oleh media Falun Gong.
Peserta aksi, Cheng Yusi: “Kejahatan terhadap kemanusiaan seperti pengambilan organ kini digunakan untuk memperpanjang usia dan meraih keuntungan besar. Hari ini saya dengan tegas mengecam tindakan penganiayaan tersebut dan menyerukan agar rezim PKT menghentikan penindasan terhadap Falun Gong serta membebaskan para praktisinya.”
Pada 26 April, sejumlah anggota Aliansi Hak Asasi dan Demokrasi Tiongkok cabang San Francisco juga mengadakan kegiatan peringatan “25 April” di depan Balai Kota San Jose, serta memperagakan latihan Falun Gong sebagai bentuk dukungan.
Anggota Li Haifeng: “Kelompok Falun Gong adalah komunitas Tionghoa terbesar di luar negeri yang menentang komunisme, dan merupakan kekuatan penting bagi transformasi demokrasi Tiongkok. Mereka telah menyampaikan banyak kebenaran kepada masyarakat Tionghoa. Saat ini, salah satu kekuatan yang dapat menandingi Partai Komunis adalah Falun Gong, sehingga mereka membawa harapan bagi banyak orang.”
Pada malam 25 April, anggota Partai Demokrasi Tiongkok mengadakan kegiatan peringatan di Times Square, New York, untuk mendukung perlawanan damai Falun Gong terhadap penganiayaan.
Anggota Partai Demokrasi Tiongkok: “Falun Dafa baik! Jatuhkan Partai Komunis Tiongkok! Dukung Falun Gong!”
Pada hari yang sama, sebagian praktisi Falun Gong di Houston juga mengadakan aksi di kawasan Chinatown setempat. Sejumlah warga Tionghoa di lokasi menyatakan dukungan, bahkan ada yang menyatakan keluar dari organisasi PKT di tempat.
Sekitar 25 April, praktisi Falun Gong di berbagai wilayah Kanada juga mengadakan kegiatan peringatan dan latihan bersama. Di Vancouver, banyak warga setempat menyatakan dukungan terhadap upaya mereka.
Warga Vancouver, Theroa: “Kita harus bersuara, kita harus menandatangani petisi. Saya percaya ini menciptakan energi positif. Terima kasih, dan teruslah berusaha, karena ini akan membawa manfaat bagi semua orang di masa depan.”
Pada 25 April, praktisi Falun Gong di berbagai kota di Jerman seperti Berlin, München, dan Frankfurt juga mengadakan kegiatan serupa, dan mendapat dukungan dari masyarakat setempat.
Sementara itu, sejumlah pejabat dari Amerika Serikat, Inggris, dan negara lain juga menyatakan dukungan. Anggota DPR AS, Zach Nunn, mengatakan: “Amerika Serikat berdiri teguh bersama praktisi Falun Gong. Saya akan terus berupaya meminta pertanggungjawaban Beijing hingga penganiayaan ini berakhir.” (***)





