Baca juga: Pendapatan Pertamina Geothermal Energy Naik 4,2% di Kuartal III-2025
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, PGEO membukukan pendapatan sebesar USD116,555 juta, naik 14,8 persen secara tahunan.
Namun yang lebih mencolok adalah pertumbuhan laba bersih yang melonjak 40 persen menjadi USD43,899 juta. Kinerja ini mencerminkan kombinasi antara efisiensi operasional dan strategi bisnis yang semakin matang.
Direktur Keuangan PGEO, Fransetya Hutabarat, menegaskan bahwa perusahaan tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kesehatan keuangan.
Selain mencatatkan laba yang meningkat, PGEO juga mempertahankan arus kas operasional yang kuat sebagai faktor krusial untuk mendukung ekspansi jangka panjang di sektor energi.
Secara fundamental, posisi keuangan PGEO juga semakin kokoh. Total aset perusahaan mencapai USD3,06 miliar, sementara ekuitas naik menjadi USD2,09 miliar.
Di sisi lain, liabilitas justru mengalami penurunan, yang mengindikasikan pengelolaan risiko yang lebih baik serta struktur permodalan yang semakin sehat. Dari Kinerja ke Strategi Jangka Panjang Lebih dari sekadar angka, capaian ini menjadi fondasi bagi langkah ekspansi PGEO di sektor panas bumi. Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, melihat kondisi global saat ini sebagai peluang strategis.
Menurutnya, ketegangan geopolitik dan krisis energi yang melanda berbagai negara justru memperkuat urgensi pengembangan energi domestik yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, panas bumi menjadi salah satu sumber energi yang paling stabil dan minim emisi.
PGEO sendiri mengandalkan tiga pilar utama untuk pertumbuhan ke depan yakni optimalisasi aset yang sudah ada, ekspansi kapasitas, serta diversifikasi sumber pendapatan.
Strategi ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya berfokus pada produksi listrik, tetapi juga mulai membuka peluang di lini bisnis turunan energi bersih. Panas Bumi dan Ambisi Energi Nasional Peran PGEO juga tidak bisa dilepaskan dari agenda besar transisi energi Indonesia. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) periode 2025–2034, porsi Energi Baru Terbarukan ditargetkan mencapai 76 persen, dengan panas bumi sebagai salah satu kontributor utama.
Dalam peta jalan tersebut, kapasitas panas bumi nasional ditargetkan mencapai 5,2 GW. PGE sendiri memasang target ambisius: 1 GW pada 2028 dan meningkat menjadi 1,8 GW pada 2034.
Saat ini, perusahaan mengelola 15 wilayah kerja panas bumi dengan kapasitas terpasang sekitar 727 MW atau setara dengan sekitar 70 persen dari total kapasitas nasional. Dominasi ini menempatkan PGE sebagai tulang punggung dalam pengembangan energi panas bumi di Indonesia.
Di tengah meningkatnya perhatian investor terhadap aspek keberlanjutan, PGE juga mencatatkan pencapaian signifikan di bidang ESG (Environmental, Social, and Governance). Perusahaan memperoleh skor 7,1 dari Sustainalytics, tertinggi di Indonesia, serta masuk dalam daftar Top 50 Global ESG Companies 2025.
Capaian ini bukan sekadar reputasi, tetapi juga menjadi faktor penting dalam menarik pendanaan global, terutama untuk proyek-proyek energi bersih yang membutuhkan investasi besar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)





