Fenomena Kekerasan Daycare Picu Krisis Kepercayaan, Pakar Minta Orang Tua Hati-hati

metrotvnews.com
12 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Fenomena kekerasan di tempat penitipan anak atau daycare menyita perhatian publik. Setelah kasus di Yogyakarta, dugaan kasus kekerasan ditemukan lagi di Aceh.

Menyoroti fenomena tersebut, Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) IPB University, Yulina Eva Riany, menyoroti krisis kepercayaan yang muncul akibat kasus daycare ini. Ia menekankan bahwa kepercayaan tetap bisa dibangun dengan pendekatan yang lebih hati-hati.

"Kepercayaan harus berbasis verifikasi. Orang tua perlu memastikan legalitas, kualitas pengasuh, serta sistem pengawasan yang jelas," ujar Yulina, mengutip laman resmi IPB, Kamis, 20 April 2026.

Baca Juga :

Legislator NasDem Dorong Pengetatan Izin dan Standarisasi Daycare
Ia menerangkan, langkah praktis yang dapat dilakukan antara lain observasi langsung lingkungan daycare, memastikan adanya SOP, serta membangun komunikasi rutin dengan pengelola. Transparansi seperti laporan harian dan akses pemantauan menjadi faktor penting.

Yulina menegaskan bahwa daycare seharusnya tidak hanya menjadi tempat penitipan, melainkan ekosistem pengasuhan anak usia dini.

"Pengasuh tidak cukup hanya ‘suka anak’. Mereka harus memahami perkembangan emosi, komunikasi anak, serta prinsip perlindungan anak," katanya. Dampak Psikis dan biologis Selain krisis kepercayaan, kekerasan di daycare bisa meninggalkan dampak serius terhadap perkembangan psikologis anak. Menurutnya, pengalaman anak di masa awal kehidupan sangat menentukan bagaimana mereka memandang dunia.

"Ketika pengasuh justru menjadi sumber ancaman, anak bisa mengalami kebingungan emosional dan melihat dunia sebagai tempat yang tidak aman," jelasnya.

Ia menjelaskan, dalam teori attachment yang dikemukakan oleh John Bowlby, anak membutuhkan figur pengasuh yang konsisten, responsif, dan memberikan rasa aman. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, hubungan dasar anak dengan lingkungan dapat terganggu.

Hal ini diperkuat oleh teori perkembangan psikososial Erik Erikson, khususnya fase trust vs mistrust pada usia 0–2 tahun. Pada tahap ini, anak mulai belajar memercayai orang di sekitarnya.

"Ketika kekerasan justru datang dari pengasuh, proses pembentukan kepercayaan itu bisa rusak. Anak dapat merekam bahwa lingkungan di sekitarnya tidak dapat dipercaya," tambahnya.

Dampak kekerasan pada anak tidak hanya tampak secara emosional, tetapi juga biologis. Dalam jangka pendek, anak dapat menunjukkan ketakutan berlebihan, menangis tanpa sebab yang jelas, sulit tidur, mimpi buruk, hingga regresi seperti kembali mengompol.

“Anak juga bisa menjadi lebih rewel, menolak berpisah dari orang tua, atau tiba-tiba takut masuk daycare,” jelasnya.


Ilustrasi Pexels Pengalaman traumatis Lebih lanjut, pengalaman traumatis yang terjadi berulang bahkan dapat memicu toxic stress, yaitu kondisi stres berkepanjangan tanpa dukungan emosional yang memadai. Kondisi ini berisiko memengaruhi perkembangan otak dan kesehatan mental anak di masa depan.

"Dalam jangka panjang, dampaknya bisa berkembang menjadi gangguan kecemasan, kesulitan mempercayai orang lain, masalah perilaku, hingga trauma berkepanjangan," terang Yulina.

Temuan Centers for Disease Control and Prevention menunjukkan bahwa pengalaman buruk masa kecil (adverse childhood experiences/ACEs) berkaitan erat dengan kesehatan mental dan fisik hingga dewasa. Pada anak usia toddler, trauma sering kali tidak muncul dalam bentuk cerita verbal, melainkan melalui perubahan perilaku.

"Anak bisa menjadi lebih agresif, menarik diri, kehilangan minat bermain, atau justru sangat pendiam. Bahkan, mereka bisa mengulang adegan menakutkan dalam permainan,” ungkapnya.

Menurut National Child Traumatic Stress Network, trauma dan gangguan attachment dapat membuat anak kesulitan mengatur serta mengekspresikan emosi.

"Karena itu, orang tua perlu peka terhadap perubahan perilaku anak setelah dititipkan," ucapnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cuaca Hari Ini Kamis 30 April 2026: BMKG Prediksi Awan Tebal Payungi Jabodetabek Seharian
• 23 jam laluliputan6.com
thumb
Libur Panjang May Day, KAI Daop 2 Bandung Operasikan 27 KA Jarak Jauh
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
Prodi Tak Relevan Terancam Dihapus, Begini Kata Mendiktisaintek!
• 13 jam laludisway.id
thumb
BFI Finance Bukukan Pembiayaan Baru Rp5,5 Triliun
• 22 jam lalumedcom.id
thumb
Kini Punya Adik Ipar, Al Ghazali Beri Pesan Haru untuk Syifa Hadju yang Sudah Sah Jadi Istri El Rumi
• 21 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.