Penulis: Alfin
TVRINews, Jakarta
Anggota DPR RI Fraksi Golkar, Nurdin Halid, mengapresiasi kinerja Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, setelah Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam ketahanan energi versi laporan terbaru JP Morgan.
Laporan bertajuk Pandora's Bog: The Global Energy Shock of 2026 menempatkan Indonesia sebagai negara paling tahan menghadapi krisis energi global, terutama di sektor minyak dan gas.
Nurdin menilai capaian tersebut merupakan hasil kebijakan strategis pemerintah di sektor energi. Langkah yang diambil dinilai memperkuat fondasi kemandirian energi nasional dari hulu hingga hilir.
“Ini bukan capaian yang datang tiba-tiba. Ada kerja sistematis dari hulu ke hilir yang dilakukan pemerintah. Saya melihat Menteri ESDM berhasil membaca situasi global dan menyiapkan Indonesia lebih tahan terhadap guncangan,” ujar Nurdin Halid pada Kamis, 30 April 2026.
Tiga strategi utama menjadi fokus, yakni peningkatan produksi minyak dan gas domestik, diversifikasi energi melalui program biodiesel, serta pengembangan bahan bakar alternatif seperti bioetanol.
Menurut Nurdin, kebijakan seperti B50 dan E20 menjadi langkah konkret untuk menekan ketergantungan impor energi yang selama ini menjadi kelemahan banyak negara.
“Negara-negara maju justru terpukul karena terlalu bergantung pada impor. Indonesia sekarang menunjukkan arah berbeda—memanfaatkan sumber daya sendiri sebagai kekuatan utama,” katanya.
Selain itu, pengembangan dimethyl ether (DME) dan compressed natural gas (CNG) sebagai substitusi LPG impor dinilai sebagai langkah strategis di tengah ketidakpastian rantai pasok global.
Dalam laporan JP Morgan, ketahanan energi Indonesia didukung produksi batu bara domestik yang tinggi serta kapasitas sebagai eksportir utama batu bara termal dunia. Indonesia juga tercatat sebagai produsen gas alam penting secara global.
Nurdin menegaskan capaian ini perlu menjadi momentum untuk mempercepat transisi energi nasional, termasuk pengembangan energi terbarukan agar ketahanan energi berkelanjutan.
“Ke depan, kita tidak boleh berhenti. Ketahanan energi harus dibarengi dengan transisi menuju energi bersih agar Indonesia tidak hanya tahan krisis, tetapi juga kompetitif di masa depan,” ujarnya.
Ia berharap sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat terus diperkuat untuk menjaga momentum di tengah dinamika energi global yang semakin kompleks.
Editor: Redaksi TVRINews





