QRIS RI-China Belum Bisa Pakai WeChat Pay, ASPI Beberkan Alasannya

idxchannel.com
4 jam lalu
Cover Berita

ASPI menyambut baik langkah Bank Indonesia (BI) yang resmi memperluas konektivitas sistem pembayaran QRIS ke China.

QRIS RI-China Belum Bisa Pakai WeChat Pay, ASPI Beberkan Alasannya. (Foto Anggie/IMG)

IDXChannel - Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) menyambut baik langkah Bank Indonesia (BI) yang resmi memperluas konektivitas sistem pembayaran QRIS ke China.

Ketua Umum ASPI Santoso Liem menilai kolaborasi dua kekuatan ekonomi digital di Asia ini akan membawa dampak besar, tidak hanya bagi sektor pariwisata tetapi juga penguatan hubungan bisnis antarnegara.

Baca Juga:
Transaksi QRIS Luar Negeri ALTO Network Tumbuh 28 Persen Sepanjang Kuartal I-2026

Santoso menjelaskan, integrasi ini sangat strategis mengingat besarnya jumlah pengguna digital dan UMKM di kedua negara. Di Indonesia, ekosistem QRIS sudah menjangkau sekitar 45 juta pelaku UMKM.

"Bagus sekali karena ini adalah salah satu kerja sama. Karena China adalah ekonomi yang cukup besar, terutama sebagai pemain digital di sana. Dan Indonesia juga adalah pemain digital yang unggul juga. Jadi ini adalah kesempatan kalau kolaborasi bisa terjadi," ujar Santoso saat ditemui usai peluncuran di Gedung BI, Jakarta, Kamis (30/4/2026).

Baca Juga:
BCA (BBCA) Dukung Implementasi QRIS Cross Border di Korea Selatan

Saat ini, layanan QRIS lintas negara dengan China baru mencakup kerja sama dengan UnionPay dan Alipay. Namun, Santoso mengungkapkan, pihaknya tengah menjajaki kemungkinan untuk mengintegrasikan pemain besar lainnya seperti WeChat Pay dan Mobile Payment Companion (MPC).

Baca Juga:
QRIS Bisa Digunakan untuk Transaksi di China

Meski Indonesia secara teknologi sudah siap, China masih dalam proses mengintegrasikan berbagai pemainnya ke dalam satu platform tunggal yang bisa melayani transaksi internasional.

"Kalau WeChat-nya sedang dieksplor. Karena ini ada aspek teknologi yang harus diinterkoneksikan di antara mereka sendiri. Di Indonesia sebenarnya sudah tidak ada masalah. Di mereka yang ada masalah karena baru dua kan (Alipay dan UnionPay). Mereka harus mengintegrasikan, mereka harus mengubah menjadi satu platform," kata Santoso.

Salah satu poin krusial dalam kerja sama ini adalah implementasi Local Currency Transaction (LCT). Transaksi tidak lagi perlu dikonversi ke mata uang ketiga seperti dolar AS (USD), melainkan langsung menggunakan nilai tukar rupiah (IDR) terhadap yuan (CNY).

Santoso menegaskan, sistem ini sudah diatur melalui standar yang ditetapkan oleh pemerintah kedua negara (Government-to-Government), sehingga lebih aman dan efisien bagi pengguna.

"Enggak perlu konversi (ke dolar). Jadi itu langsung otomatis antara dua G2G ini sudah menetapkan standarnya. Jadi sudah aman sekali. Jadi rupiah langsung diadu dengan yuan atau renminbi. Jadi ini yang membedakan," ujar dia.

Berdasarkan pengalaman pribadinya saat mencoba sistem pembayaran di China, Santoso optimistis layanan ini akan semakin matang.

Ke depan, China diharapkan memiliki satu kode QR yang bisa melayani berbagai macam penyedia jasa pembayaran sekaligus (multiple pemain), serupa dengan standardisasi QRIS di Indonesia.

"Saya sebenarnya sudah pernah mencoba di sana beberapa kali enggak ada masalah. Cuma memang belum menyebar. Nanti ke depan bisnis pun akan dipererat dengan transaksi dua negara ini," katanya.

(Dhera Arizona)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Smelter Nikel Huadi Nickel Alloy Resmi Dalam Status PKPU Sementara
• 30 menit lalubisnis.com
thumb
Pasar Kanjengan Semarang Terbakar Hebat, 480 Kios Hangus
• 22 jam laludetik.com
thumb
Prediksi Braga vs Freiburg di Liga Europa, Susunan Pemain, dan Head to Head
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
Perindo Dorong Evaluasi Menyeluruh Sistem Transportasi Usai Kecelakaan Kereta Api di Bekasi Timur
• 20 jam laluokezone.com
thumb
Baleg DPR Susun Omnibus Law RUU Ketenagakerjaan, Atur PHK hingga Outsourcing
• 10 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.