Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tren pelemahan dalam beberapa waktu belakangan.
Kondisi ini mulai memicu kewaspadaan pelaku pasar khususnya sektor real estat. Mengingat, sektor properti memiliki sensitivitas tinggi terhadap fluktuasi kurs dan stabilitas makroekonomi.
Adapun, mata uang rupiah kembali ditutup melemah ke level Rp17.353 per dolar AS pada perdagangan Kamis (30/4/2026). Angka ini mencerminkan tekanan berat di tengah dinamika pasar global.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan pada Kamis, rupiah menyusut 27 poin dibandingkan penutupan hari sebelumnya sebesar Rp17.326 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau terus menguat.
Dia menjelaskan pelemahan mata uang rupiah dipengaruhi oleh sentimen dari luar negeri. Salah satu pemicu utamanya adalah rencana Presiden AS Donald Trump yang bersiap untuk melakukan blokade angkatan laut berkepanjangan terhadap Iran.
Secara teknis, kenaikan nilai tukar dolar AS ini akan langsung berdampak pada kenaikan biaya impor komponen konstruksi dan material bangunan tertentu. Hal ini berpotensi mengerek total biaya investasi pada berbagai proyek properti yang saat ini tengah berjalan.
Baca Juga
- Ciputra (CTRA) Ekspansi Pasar Properti Halim
- Wanti-Wanti Prospek Properti
- Bos Properti Blak-blakan Tantangan Pengembangan Rusun Subsidi untuk MBR
Kondisi ini turut membayangi rencana pengembangan proyek 3 Juta Rumah Presiden Prabowo yang dieksekusi oleh Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP).
Akan tetapi, Menteri PKP Maruarar Sirait (Ara) memastikan bahwa pelemahan rupiah hingga saat ini belum berdampak langsung peningkatan kebutuhan anggaran. Dia menekankan, pihaknya tengah menyiapkan strategi mitigasi untuk menjaga stabilitas biaya pembangunan.
"Sampai sekarang belum ada perubahan terkait fluktuasi rupiah,” jelasnya saat ditemui di Kantor Kementerian PKP, Kamis (30/4/2026).
Adapun, strategi utama yang akan dijalankan menyikapi tren pelemahan ruliah ini adalah dengan mendorong penggunaan komponen dalam negeri secara lebih masif pada setiap unit hunian.
Dia menuturkan, hal tersebut dilakukan untuk meminimalisir ketergantungan pada material yang terpengaruh oleh kurs dolar.
Lebih lanjut, Ara menekankan bahwa fluktuasi nilai tukar justru menjadi momentum untuk memberdayakan industri domestik. Fokus pemerintah adalah mengoptimalkan rantai pasok lokal dari hulu ke hilir.
"Sebagai strateginya kita dorong para pengembang untuk menggunakan produk-produk UMKM lokal, seperti contohnya pakai genteng lokal dari program gentengisasi," tegasnya.
Strategi Pengembang
Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat(DPP) Realestate Indonesia (REI) Bambang Ekajaya menilai pelemahan mata uang ini mencerminkan kondisi ekonomi nasional yang sedang tidak dalam keadaan baik.
Bambang menambahkan, kondisi semakin rumit seiring dengan ketatnya likuiditas perbankan. Hal ini menjadi indikator kuat bahwa dunia bisnis sedang mengalami masa sulit dan penuh ketidakpastian.
"Sementara lebih dari Rp4.700 triliun dana perbankan masih ter-hold, artinya bisnis memang sedang sulit," ujar Bambang.
Seiring dengan hal itu, sektor properti pun ikut terkena imbas, terutama dari sisi daya beli masyarakat yang dinilai tengah mengalami penurunan tajam. Di sisi lain, para investor properti cenderung memilih untuk menahan diri sementara waktu.
Pasalnya, biaya konstruksi diprediksi akan terus melonjak seiring dengan kenaikan harga BBM yang cukup drastis. Kurs rupiah yang rendah juga secara otomatis memengaruhi harga bahan bangunan di pasar domestik maupun impor.
“Jadi tentu ujungnya daya beli masyarakat yang sedang terjun bebas, sementara investor properti akan menahan diri,” pungkasnya.
Di sisi lain, Direktur Utama Astra Property Wibowo Muljono mengungkapkan perspektif yang sedikit berbeda. Pihaknya mengaku Perseroan masih berada dalam posisi yang cukup aman dari dampak fluktuasi rupiah untuk tahun ini.
"Ya terkait hal itu memang ini ada hasil kerja keras teman-teman lah. Sebenarnya untuk tahun ini kita lumayan aman dari impak fluktuasi rupiah," jelas Wibowo kepada Bisnis.
Keamanan tersebut diperoleh karena Perseroan telah melakukan penguncian harga (lock) dengan para pemasok dan kontraktor. Kontrak-kontrak kerja tersebut sudah dipastikan harganya hingga periode September atau Oktober tahun ini.
Namun, Wibowo mengakui antisipasi tetap harus disiapkan untuk rencana pembangunan pada tahun depan. Jika tren pelemahan rupiah terus berlanjut, penyesuaian strategi perlu dilakukan secara matang.
“Apabila ini terus terjadi dan harga terus naik, bagaimana kita harus mengatasi itu lah. Baik itu mungkin harga naik atau gimana itu masih belum kita putuskan, masih kita pantau,” tambahnya.
Manajemen Astra Property menghindari pengambilan keputusan yang terburu-buru mengingat dinamika global yang sangat cair. Fokus saat ini adalah menyelesaikan komitmen kontrak yang sudah ada dengan kualitas terbaik.
“Karena kalau kita mulai putuskan sekarang untuk yang nanti takutnya things change atau gimana gitu. Tapi untuk saat ini kita masih oke. Karena tadi itu sudah berakhir komitmen dan kontraknya juga jangka panjang,” pungkasnya.





