Dari Football 7 ke Piala AFF: Shin Tae-yong dan John Herdman dalam Satu Garis Misi Membangun Lini Serang Timnas Indonesia

harianfajar
9 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, JAKARTA — Sepak bola Indonesia kembali memasuki fase menarik. Bukan hanya di level tim utama, tetapi juga dalam perluasan ekosistem permainan melalui Football 7. Di tengah dinamika itu, satu nama kembali hadir: Shin Tae-yong.

Mantan pelatih Timnas Indonesia tersebut kini resmi menjabat sebagai penasihat teknis Timnas Football 7 Indonesia. Perannya memang berbeda, tetapi pengaruhnya berpotensi tetap signifikan—terutama dalam membangun fondasi taktik dan mentalitas pemain muda.

Penunjukan Shin diumumkan bersamaan dengan deklarasi organisasi oleh Dudung Abdurachman selaku Ketua Umum Football 7 Indonesia.

“Kenapa saya sangat tertarik dengan Football 7 ini karena bisa ikut kejuaraan dunia. Dari 280 juta orang Indonesia, mestinya ada tujuh pemain hebat yang bisa masuk tim nasional,” ujar Dudung.

Bagi Shin, ini bukan sekadar peran simbolis. Ia melihatnya sebagai ruang baru untuk berbagi pengalaman.

“Seperti yang kalian tahu, saya sudah lima tahun berada di PSSI. Saya sudah pernah berada di Timnas Indonesia U-20, U-23, dan senior. Jadi mungkin bisa menjadi kesempatan yang baik untuk mentransfer ilmu saya kepada pemain-pemain muda Football 7,” kata Shin.

Langkah ini terasa menarik karena terjadi di saat John Herdman tengah mempersiapkan skuad Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2026. Dua pelatih dengan latar belakang berbeda, tetapi memiliki satu tujuan yang sama: membangun tim yang kompetitif.

Secara langsung, Shin memang tidak terlibat di tim utama. Namun secara tidak langsung, kehadirannya di ekosistem sepak bola nasional membuka ruang kolaborasi—atau setidaknya pertukaran ide.

Dalam konteks ini, kedekatan antara Shin dan Herdman bisa menjadi aset yang tidak terlihat, tetapi penting. Shin memahami karakter pemain Indonesia dari dalam. Herdman membawa perspektif baru dalam pendekatan taktik dan manajemen tim. Jika keduanya berada dalam frekuensi yang sama, proses pengembangan pemain bisa berjalan lebih sinkron.

Apalagi, tantangan terbesar Herdman saat ini bukan di lini belakang atau tengah—melainkan di lini depan.

Minimnya striker lokal yang konsisten mencetak gol membuat Herdman harus memutar otak. Ia memanggil tiga nama dengan karakter berbeda: Eksel Runtukahu, Jens Raven, dan Hokky Caraka.

Ketiganya membawa cerita masing-masing.

Eksel Runtukahu datang dengan performa yang sedang menanjak. Enam gol dan tiga assist dari 21 laga menunjukkan bahwa ia mulai menemukan ritme. Kemampuannya membaca ruang dan memanfaatkan peluang membuatnya menjadi opsi yang menjanjikan.

“Piala AFF 2026 adalah momentum emas bagi Eksel untuk membuktikan diri di level internasional dan memperkuat lini serang Timnas Indonesia,” ujar Herdman.

Sementara itu, Jens Raven menawarkan sesuatu yang berbeda. Ia bukan tipe striker murni, tetapi pemain dengan mobilitas tinggi yang bisa membuka ruang dan menghubungkan lini.

“Jens memiliki potensi besar, namun tantangan utamanya adalah konsistensi dan adaptasi di level internasional,” kata Herdman.

Adapun Hokky Caraka menjadi opsi paling berpengalaman di antara ketiganya. Pengalamannya di level internasional, ditambah fleksibilitas bermain di beberapa posisi, menjadikannya kandidat kuat untuk mengisi lini depan.

“Pengalaman dan adaptasi Hokky dalam berbagai posisi di lini depan memberikan nilai tambah yang sangat dibutuhkan Timnas,” tegas Herdman.

Namun dari ketiga nama itu, satu pertanyaan besar masih menggantung: siapa yang benar-benar siap menjadi ujung tombak utama?

Di sinilah peran ekosistem menjadi penting.

Football 7 mungkin terlihat sebagai cabang berbeda, tetapi ia tetap bagian dari rantai pengembangan pemain. Dengan pendekatan yang lebih cepat, intens, dan teknis, format ini bisa menjadi ruang eksperimentasi bagi pemain muda—termasuk dalam mengasah naluri menyerang.

Dan di balik itu, ada sosok Shin Tae-yong.

Pengalamannya dalam membangun tim dari level usia muda hingga senior bisa menjadi jembatan. Tidak secara langsung memilih pemain untuk Piala AFF, tetapi membantu menciptakan lingkungan yang melahirkan pemain-pemain siap pakai.

Sementara itu, Herdman tetap memegang kendali penuh atas tim utama. Ia harus membuat keputusan dalam waktu yang terbatas, dengan sumber daya yang ada.

Optimisme tetap ada.

Meski sebagian besar pemain berasal dari kompetisi domestik dengan intensitas berbeda, Herdman percaya mereka bisa berkembang di level internasional. Kuncinya ada pada adaptasi—baik secara taktik maupun mental.

Di sisi lain, kehadiran Shin di Football 7 memberi dimensi tambahan. Bahwa pembangunan sepak bola tidak hanya terjadi di satu level, tetapi melalui berbagai jalur yang saling terhubung.

Pada akhirnya, cerita ini bukan hanya tentang dua pelatih.

Ini tentang bagaimana sepak bola Indonesia mencoba membangun sistem. Tentang bagaimana pengalaman lama dan pendekatan baru bisa berjalan beriringan.

Dan mungkin, jika semua berjalan selaras, hasilnya akan terlihat di satu panggung: ketika Timnas Indonesia menemukan striker yang tidak hanya mampu mencetak gol, tetapi juga membawa harapan juara.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Anggota DPR minta pemerintah segera bahas dan sahkan RUU Pekerja Gig
• 7 jam laluantaranews.com
thumb
Ciri Kepribadian Perempuan yang Nyaman Tampil Tanpa Makeup
• 23 jam lalubeautynesia.id
thumb
5 Berita Terpopuler: Mohon Maaf, Honorer Non-Database Tak Terangkut PPPK & P3K PW, Cek SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026
• 12 jam lalujpnn.com
thumb
Korlantas Ungkap Hasil TAA Kecelakaan Kereta: Ada Indikasi Kelalaian Sopir Taksi
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
RUU Pemilu Belum Dibahas, DPR Pertimbangkan Putusan MK hingga Kajian Parpol
• 38 menit lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.