Rumah Betang Ensaid Panjang, Warisan Tradisi yang Tetap Bertahan

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Kosmas Tengkelai (66) baru saja memindahkan gabah kering yang dijemur di belakang rumah betang. Hujan yang tiba-tiba turun membuatnya mempersingkat waktu penjemuran gabah. Ia lantas beristirahat sejenak di beranda belakang rumah betang.

Kosmas Tengkelai merupakan salah satu keluarga dari masyarakat Dayak yang tinggal di Rumah Betang Ensaid Panjang di Desa Ensaid Panjang, Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.

Rumah betang atau rumah besar merupakan rumah adat masyarakat Dayak yang berbentuk rumah panggung panjang dengan bahan utamanya adalah kayu. Biasanya rumah betang dibangun menggunakan kayu ulin. Panjang rumah betang bisa mencapai lebih dari 100 meter. Sementara jarak lantai rumah dengan tanah sekitar 2 meter. Dihuni oleh puluhan keluarga, rumah betang menjadi pusat kehidupan komunal bagi masyarakat adat.

Rumah betang tersebut sudah berkali-kali pindah. Rumah betang yang sekarang ini mulai ditempati sejak tahun 1986. Pada 2024, pemerintah merevitalisasi rumah betang dan mulai digunakan kembali pada awal 2025. Rumah Betang Ensaid Panjang berjarak 35 kilometer dari ibu kota Kabupaten Sintang.

Pagi itu, Kamis (5/3/2026), suasana di Rumah Betang Ensaid Panjang tampak lengang. Sebagian besar penghuni terutama laki-laki sedang pergi bekerja, seperti ke kebun atau ladang. Sebagian perempuan juga turut ke kebun dan sawah karena kebetulan saat itu sedang panen padi.

”Biasanya mereka ada di rumah untuk menenun. Cuma karena sedang musim panen mereka membantu memetik padi di sawah,” kata Stanislaus Mahmud, salah satu kepala keluarga di rumah betang.

Rumah betang memiliki ruang bersama atau disebut ruai. Ruang bersama tanpa sekat ini memanjang dari ujung ke ujung di dalam rumah betang. Biasanya ruai digunakan sebagai tempat berkumpul dan berbincang, menerima tamu, dan kegiatan lainnya.

Selain itu, juga terdapat 28 bilik yang ditempati setiap keluarga. Pada setiap pintu masuk bilik tertulis nama setiap kepala keluarga.

Di salah satu sudut ruai tampak Cecilia Selendang (60) sibuk menyelesaikan tenun ikat khas Sintang menggunakan alat tenun tradisional. Dengan cermat ia mengatur dan menyusun benang berwana merah marun, biru tua, dan putih. Kemudian terdengar suara ”tak tak tak” dari alat tenun kayu.

Jika tidak ada kegiatan panen, biasanya di ruai ini para perempuan sibuk menyelesaikan pesanan tenun. Kemampuan menenun para perempuan di Rumah Betang Ensaid Panjang ini diperoleh secara turun-temurun.

Cecilia Selendang menyelesaikan kain tenun ikat di Rumah Betang Ensaid Panjang. KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Sebagian besar perempuan di rumah betang ini mempunyai ketrampilan sebagai perajin tenun ikat. KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Kain tenun ikat khas Dayak yang dibuat para ibu di Rumah Betang Ensaid Panjang. KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Kain tenun yang dibuat para perajin di Ensaid Panjang memiliki beragam motif yang menggambarkan kehidupan dan warisan dari nenek moyang masyarakat Dayak. Salah satunya seperti motif tiang kebuk yang berarti tiang penyangga rumah betang.

Untuk menyelesaikan satu lembar kain membutuhkan proses yang cukup lama, bahkan terkadang sampai berbulan-bulan. Tenun ikat yang dihasilkan biasanya dibuat dalam bentuk syal atau kumbu (kain seukuran selimut). Hasil kerajinan kain tenun dijual langsung kepada pengunjung yang datang ke rumah betang. Harganya bervariasi dari Rp 300.000 hingga sekitar Rp 2 juta.

Setelah berbincang-bincang cukup lama di ruai, Stanislaus Mahmud lantas mengajak untuk pergi ke sawah dan melihat panen padi. Jaraknya sekitar 2 kilometer dari rumah betang dengan melewati kebun-kebun dan hutan. Jalannya tidak terlalu lebar, sebagian sudah diaspal tetapi masih banyak yang berupa jalan tanah.

Kami kemudian singgah di salah satu pondok yang berada di tepi hutan. Di dalam pondok, Katarina Andriani (51) bersama kerabatnya, Susana Anyin (40), baru saja selesai santap siang. Mereka berdua sedang beristirahat setelah sejak pagi memanen padi di sawah.

Setelah tenaga kembali terkumpul, mereka berdua lantas bersiap-siap untuk melanjutkan memanen padi. Keduanya lalu mengambil keranjang dari anyaman rotan atau takin untuk menyimpan padi. Tak lupa mereka memakai caping untuk menghalau terik matahari saat keluar dari pondok.

Sawah milik keluarga Katarina itu memiliki luas sekitar 1 hektar. Jauh di belakang sawah tampak Bukit Kelam, bukit batu monolit dengan ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut menjulang.

Menggunakan ketam kecil, tangan Katarina dan Susana dengan cekatan memotong tangkai-tangkai padi.

Biasanya, di ladang orang Dayak mereka tidak hanya menanam padi, tetapi juga sayuran dan tanaman lain yang juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan dapur. Namun, beberapa waktu terakhir, sawah milik keluarga Katarina hanya ditanami padi.

”Dulu kami berladang, tetapi sekarang sudah tidak lagi. Kebun kami tanam karet atau sawit. Kalau padi, ya, tanam di sawah sini,” ujar Katarina. Menurut dia, saat ini semakin sulit baginya dan masyarakat Ensaid Panjang untuk berladang berpindah karena lahan yang semakin sempit dan banyak hutan yang sudah berubah menjadi perkebunan.

Setelah keranjang dipenuhi padi hasil panen, kemudian dikumpulkan di pondok tempat beristirahat sebelum dibawa pulang ke rumah betang.

Bagi masyarakat Dayak yang tetap tinggal di rumah betang bukan hanya sekadar menjadi tempat bertahan hidup, melainkan juga menjadi pusat kegiatan warga terutama untuk memelihara adat dan budaya. Salah satunya saat perayaan syukur sehabis panen atau gawai biasanya akan dilaksanakan pesta di rumah betang dengan mengundang banyak orang.

Meskipun secara turun-temurun tinggal di rumah betang, mereka tidak menutup diri. Dalam sisi kehidupan sosial, mereka terbuka dengan orang luar. Siapa pun yang berkunjung ke rumah betang akan disambut dengan ramah dan penuh persahabatan seperti saudara sendiri.

Seperti halnya di Rumah Betang Ensaid Panjang, rumah komunal ini juga telah menjadi magnet bagi wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Serial Artikel

Maram dan Hasil Hutan dari Rimba Leluhur

Masyarakat Dayak Desa di Sekadau, Kalimantan Barat, baru mendapatkan haknya setelah penetapan Hutan Adat Tapang Sambas oleh pemerintah pada 2017.

Baca Artikel


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Zero Tolerance, Kapolres Manggarai Timur Siap Tindak Tegas Anggota
• 16 jam lalutvrinews.com
thumb
Hasil Super League 2025-2026: Gol Cepat Bawa Persita Tangerang Curi Poin Penuh di Kandang PSIM Yogyakarta
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Rapat Paripurna, Sejumlah Legislator DKI Minta Sekolah Gratis Ditambah
• 23 jam laludetik.com
thumb
Bantuan Hukum Dorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah, Jaga Keseimbangan Investasi dan Kearifan Lokal
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Pekerjaan Fairuz A Rafiq dan Sonny Septian Kena Imbas Usai Difintah Akan Cerai
• 21 jam lalucumicumi.com
Berhasil disimpan.