Dunia Panas! AS, Rusia, Israel Ikut Bermain—Iran Terjebak di Sudut Tanpa Jalan Keluar

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Situasi geopolitik di Timur Tengah memasuki fase yang semakin menegangkan setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi memilih strategi tekanan maksimal terhadap Iran melalui blokade laut jangka panjang, alih-alih melakukan serangan militer langsung.

Langkah ini tidak hanya memperdalam krisis antara kedua negara, tetapi juga memicu efek domino yang melibatkan Rusia, Israel, negara-negara Teluk, hingga konflik Ukraina.

29 April: Trump Pilih Blokade, Bukan Bom

Pada 29 April 2026, laporan dari Axios mengungkap bahwa Trump berencana melanjutkan blokade laut terhadap Iran tanpa batas waktu, hingga tercapai kesepakatan terkait program nuklir Teheran.

Trump secara tegas menyatakan bahwa:

Di hari yang sama, The Wall Street Journal melaporkan bahwa Trump telah memerintahkan stafnya untuk menyusun rencana blokade jangka panjang, termasuk pengendalian jalur pelayaran di Selat Hormuz—urat nadi distribusi energi global.

Strategi ini bertujuan untuk:

Pejabat Gedung Putih juga mengungkapkan bahwa Trump telah bertemu dengan para pemimpin industri minyak, dan memperkirakan blokade ini bisa berlangsung selama berbulan-bulan.

Tekanan Militer: Serangan Cepat Sudah Disiapkan

Meski memilih jalur blokade, opsi militer belum sepenuhnya ditinggalkan.

Menurut Axios, Komando Pusat AS (CENTCOM) telah:

Artinya, blokade ini bukan sekadar tekanan ekonomi, tetapi juga bagian dari strategi militer berlapis.

Dampak Langsung: 42 Kapal Dicegat, Kerugian Miliaran Dolar

Blokade yang diterapkan mulai menunjukkan dampak nyata.

Jenderal Cooper dari Komando Pusat AS mengonfirmasi bahwa:

Ini menandakan bahwa Iran mulai kehilangan kemampuan ekonominya secara signifikan dalam waktu singkat.

Diplomasi Global: Trump Hubungi Putin 90 Menit

Pada pagi hari 29 April 2026, Trump mengungkap bahwa ia telah melakukan panggilan telepon selama sekitar 90 menit dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Pembahasan utama meliputi:

Putin dilaporkan ingin ikut terlibat dalam penyelesaian isu pengayaan uranium Iran, karena Rusia juga tidak menginginkan Iran memiliki senjata nuklir.

Namun respons Trump cukup tajam—ia justru menekankan agar Rusia segera mengakhiri perang di Ukraina, sembari kembali menegaskan:

“Amerika tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.”

Trump bahkan menyebut blokade ini sebagai “langkah jenius”, dan menyatakan bahwa jika Iran menyerah, seluruh konflik akan berakhir.

Rusia dan Ukraina: Ancaman Baru Muncul

Di tengah krisis Iran, situasi Rusia juga menunjukkan tanda ketidakstabilan.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengumumkan bahwa:

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, bahkan secara terbuka mengancam akan menargetkan Putin secara langsung jika perang terus berlanjut.

Iran Terpecah: Konflik Internal Kian Terbuka

Di dalam negeri Iran, situasi politik semakin tidak stabil.

Menurut laporan Iran International:

Konflik bahkan merembet ke media pemerintah:

Keduanya saling menuduh merusak persatuan nasional.

Sumber internal juga menyebut bahwa Garda Revolusi Iran (IRGC) kini telah mengambil alih kendali penuh pemerintahan, termasuk:

Pemimpin sipil disebut hanya mengikuti arahan militer.

Ancaman Balasan: IRGC Siap Serang AS

Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa:

Di sisi lain, Ghalibaf menuduh AS berusaha memicu kudeta melalui:

Ia juga mengklaim adanya upaya infiltrasi AS di sekitar Isfahan yang gagal.

Serangan Berdarah di Dalam Negeri Iran

Situasi keamanan semakin memburuk setelah insiden di Zahedan:

Serangan ini diduga menargetkan pejabat tinggi Garda Revolusi, menambah ketegangan di dalam negeri.

Israel Siaga: Diplomasi atau Serangan

Dari pihak Israel:

Pada 28 April 2026, Kepala Mossad, David Barnea, mengungkap bahwa:

Angkatan laut Israel juga mulai:

Negara Teluk Berpihak: Iran Makin Terisolasi

Dalam KTT Dewan Kerja Sama Teluk pada 28 April 2026, negara-negara Teluk secara tegas:

Mereka juga secara terbuka mendukung posisi AS bahwa:

Iran tidak boleh menguasai jalur energi global tersebut.

Langkah ini semakin memperjelas bahwa Iran kini berada dalam posisi semakin terisolasi secara regional maupun internasional.

Kesimpulan: Blokade Jadi Titik Kritis Konflik Global

Per 29 April 2026, strategi blokade yang dipilih Trump telah mengubah arah konflik secara signifikan:

Dengan berbagai aktor besar dunia yang kini ikut terlibat, krisis ini tidak lagi sekadar konflik bilateral, melainkan telah berkembang menjadi pertarungan geopolitik global yang berpotensi memicu eskalasi lebih besar kapan saja. (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo Tiba di Monas, Hadiri Peringatan Hari Buruh 1 Mei
• 5 jam laluliputan6.com
thumb
IHSG Turun 3% di April, tapi Ada Saham Malah Terbang 100% Lebih
• 6 menit lalucnbcindonesia.com
thumb
Medsos Lokal Ini Tawarkan Pengalaman Baru Bagi Penggunanya
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Kekerasan di Little Aresha, Pemerintah Bentuk Gugus Tugas Tata Kelola Daycare
• 17 jam laluviva.co.id
thumb
BNPT: PP Tunas Tangkal Radikalisme yang Incar Anak Lewat Gim
• 10 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.