JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah barikade beton yang berdiri kokoh di sebelah kanan gerbang Gedung DPR RI tak lagi sekadar berfungsi sebagai pembatas fisik.
Di tangan massa aksi Hari Buruh Internasional (May Day), Jumat (1/5/2026), permukaan abu-abu itu berubah menjadi medium ekspresi dan ruang terbuka untuk menyuarakan keresahan, kemarahan, hingga harapan kelas pekerja.
Coretan-coretan hitam yang memenuhi badan beton menjadi penanda bahwa demonstrasi tak hanya berlangsung lewat orasi.
Baca juga: Buruh Kenakan Kaos Desain Prabowo di May Day Monas, Ini Detail Visualnya
Di sana, bahasa protes hadir dalam bentuk yang lebih spontan, personal, dan terkadang lebih tajam.
Tulisan seperti “1312” dan “ACAB” tampak mencolok. Kode ini bukan sekadar grafiti acak, melainkan simbol yang telah lama dikenal dalam kultur protes global sebagai bentuk kritik terhadap aparat penegak hukum.
KOMPAS.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Sejumlah coretan masa aksi di barikade beton di depan Gerbang DPR RI, Jumat (1/5/2026).
Di sampingnya, muncul pula pesan bernuansa universal seperti “God Save Working Class” dan “God Save Civilians”, yang menegaskan tuntutan perlindungan terhadap buruh dan masyarakat sipil.
Di sudut lain, terpampang tulisan “Free Palestine” dan “Happy May Day 26”, memperlihatkan bagaimana isu lokal bertaut dengan solidaritas internasional.
Barikade itu seolah menjelma menjadi “arsip spontan” yang mencatat beragam spektrum emosi, dari perlawanan hingga empati lintas batas negara.
Sejak pagi, kawasan sekitar parlemen dipadati massa dari berbagai organisasi, mulai dari Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), hingga Solidaritas Perempuan. Mereka membawa bendera, poster, dan tuntutan yang berlapis.
Baca juga: Buruh Dapat Paket Sembako Usai Ikuti May Day di Monas, Apa Saja Isinya?
Sejumlah peserta aksi berdiri berjejer di tepi jalan, mengangkat poster dengan pesan yang spesifik.
Ada yang menuntut perlindungan bagi buruh migran perempuan, ada pula yang menyerukan keadilan di sektor maritim dan penghapusan kebijakan yang dianggap merugikan pekerja.
Di tengah terik matahari, massa tak hanya diam. Mereka bergantian menyuarakan aspirasi, baik melalui poster maupun orasi dari mobil komando.
“Hari ini adalah hari perjuangan kelas pekerja. Hak buruh harus dilindungi, bukan dikorbankan!” ujar seorang orator, disambut sorakan massa.
Seruan “Hidup buruh!” dan “Selamat Hari Buruh!” berulang kali menggema, menciptakan ritme yang menyatukan barisan demonstran.
Isu yang diangkat dalam aksi kali ini tidak tunggal. Selain tuntutan klasik seperti upah layak dan jaminan kerja, massa juga menyoroti perlindungan buruh migran, keadilan gender, hingga kritik terhadap pendekatan keamanan negara.