Buruh di Persimpangan Revolusi Industri 4.0

kompas.com
1 bulan lalu
Cover Berita

DALAM beberapa tahun terakhir, narasi tentang Revolusi Industri 4.0 begitu dominan dalam wacana pembangunan nasional.

Digitalisasi, otomatisasi, kecerdasan buatan, hingga Internet of Things diposisikan sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi.

Negara, dunia usaha, dan bahkan lembaga pendidikan berlomba-lomba menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman yang serba cepat dan berbasis teknologi ini.

Namun, di tengah euforia tersebut, ada satu pertanyaan mendasar yang justru kurang mendapat perhatian serius: di mana posisi buruh dalam lanskap baru ini?

Lebih jauh lagi, bagaimana konsep transformasi buruh dirancang agar mereka tidak sekadar menjadi korban perubahan, melainkan subjek utama yang ikut menentukan arah industrialisasi?

Pertanyaan ini penting, karena sejarah menunjukkan bahwa setiap lompatan besar dalam revolusi industri selalu membawa konsekuensi sosial yang tidak kecil.

Revolusi Industri pertama melahirkan eksploitasi tenaga kerja massal. Revolusi kedua memperkuat struktur kapitalisme industri.

Revolusi ketiga, dengan digitalisasi awal, mulai menggeser jenis-jenis pekerjaan tertentu. Kini, Revolusi Industri 4.0 menghadirkan tantangan yang lebih kompleks.

Bukan hanya menggantikan tenaga manusia, tetapi juga mendefinisikan ulang makna kerja itu sendiri.

Disrupsi dan Kerentanan

Revolusi Industri 4.0 ditandai oleh integrasi teknologi digital dalam seluruh proses produksi. Otomatisasi berbasis mesin cerdas membuat banyak pekerjaan manual menjadi usang.

Di sektor manufaktur, misalnya, penggunaan robot industri telah secara signifikan mengurangi kebutuhan tenaga kerja berulang.

Di sektor jasa, kecerdasan buatan mulai mengambil alih fungsi administratif, analitis, bahkan kreatif.

Bagi buruh, situasi ini menciptakan dua lapis kerentanan. Pertama, kerentanan struktural akibat hilangnya pekerjaan (job displacement).

Baca juga: Antara Perayaan dan Kecemasan: Membaca Ulang Makna May Day

Kedua, kerentanan adaptif akibat ketidaksiapan keterampilan (skill mismatch).

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Dalam banyak kasus, buruh tidak kehilangan pekerjaan karena tidak mau bekerja, tetapi karena sistem tidak memberi mereka kesempatan untuk beradaptasi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Maskapai Asal China Spring Airlines Resmi Mengudara di Indonesia, Buka Penerbangan Sepekan Tiga Kali
• 12 jam laluidxchannel.com
thumb
Xbox Game Pass Kedatangan EA Sports FC 26, Ini Daftar Game Baru Juni 2026
• 3 jam lalumedcom.id
thumb
Sebut Prabowo Selalu Diganggu, Fadli Zon Curigai Pihak Penikmat Comfort Zone
• 16 jam lalujpnn.com
thumb
Pratinjau Uzbekistan lawan Kolombia, debutan hadapi tim berpengalaman
• 22 jam laluantaranews.com
thumb
Posisi Fiskal ASEAN+3 Secara Umum Tetap Tangguh Meskipun Muncul Tekanan Fiskal
• 19 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.