Ibas Puji Peran GGGI Dorong Ekonomi Hijau-Keberlanjutan Lingkungan

detik.com
6 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mengapresiasi peran Global Green Growth Institute (GGGI) dalam mendorong ekonomi hijau dan keberlanjutan lingkungan. Dia menilai hal ini sejalan dengan Indonesia yang juga mendukung pertumbuhan ekonomi hijau dan keberlanjutan lingkungan.

Edhie Baskoro juga mengungkapkan rasa terima kasih atas sambutan hangat dari GGGI, sambil menyampaikan betapa istimewanya bagi dirinya berada di kantor pusat GGGI di Seoul. Menurutnya, kunjungan tersebut mengingatkan dirinya kepada sang ayah presiden RI ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang pernah memimpin GGGI sebagai Chair (President) dari perkumpulan filantropis tersebut.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ibas saat kunjungan diplomasi kebangsaan ke kantor pusat Global Green Growth Institute (GGGI) di Seoul, Korea Selatan, beberapa waktu lalu. Kunjungan ini turut dihadiri oleh sejumlah anggota MPR/DPR RI.

"Terima kasih, saya merasa seperti di rumah, seperti bertemu dengan ayah saya (Pak SBY) yang dulu memimpin GGGI sambil disambut penuh senyum dan tawa hangat oleh semua. Saya sangat menghargai komitmen dan pemikiran mendalam yang diberikan oleh GGGI untuk masa depan dunia," ujar Ibas dalam keterangannya, Jumat (1/5/2026).

Baca juga: Ibas: Pengalaman Korsel Bangun Infrastruktur Bisa Jadi Inspirasi RI

Dia juga menegaskan bahwa mengatasi perubahan iklim dan menjaga lingkungan bukan hanya tentang menanam banyak pohon, meskipun hal tersebut sangat penting.

"Namun, yang lebih krusial adalah menciptakan regulasi dan kebijakan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan yang memberikan dasar yang kuat untuk masa depan yang lebih hijau dan sehat," tuturnya.

Edhie Baskoro menyampaikan apresiasi besar terhadap peran GGGI sebagai penerang harapan dalam menghadapi krisis iklim global. Menurutnya, GGGI menekankan pentingnya keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan dan perlindungan lingkungan.

"GGGI ini seperti lentera di tengah kegelapan, yang menerangi jalan menuju masa depan yang berkelanjutan," ujarnya.

Ibas juga mencermati krisis iklim yang terjadi di seluruh dunia dengan menyoroti dampak bencana alam yang mengkhawatirkan di Indonesia dan Korea Selatan.

"Indonesia telah dilanda berbagai bencana alam, dan kami sangat berduka atas kehilangan jiwa yang terjadi di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatera Utara," katanya,

"Kami juga mengetahui bahwa Korea Selatan menghadapi cuaca ekstrem serupa, dengan musim dingin yang sangat dingin hingga -30°C dan musim panas yang lebih panas dibandingkan Jakarta," sambungnya.

Ibas turut mengenang visi Presiden RI Ke-6 SBY yang telah meletakkan dasar-dasar keseriusan Indonesia terhadap keberlanjutan lingkungan.

"Presiden Yudhoyono menekankan pentingnya kepemimpinan yang tidak hanya datang dari Indonesia, tetapi juga dari Korea Selatan dan seluruh dunia. Saatnya para pemimpin bersatu dalam kebijaksanaan dan visi untuk mengatasi perubahan iklim," tuturnya.

Dia juga menyerukan untuk terus bekerja sama di tingkat internasional dan menekankan pentingnya peran GGGI dalam membangun masa depan yang berkelanjutan.

"Strategi empat jalur pro-pertumbuhan berkeadilan, pro-lapangan kerja, pro-pengentasan kemiskinan, dan pro-lingkungan hidup tetap menjadi bagian penting dari agenda pembangunan Indonesia. Kita harus terus melindungi lingkungan sambil mendorong pertumbuhan ekonomi untuk generasi mendatang," ungkapnya.

Dia pun turut menggarisbawahi inisiatif Indonesia di bawah administrasi Presiden Prabowo yang baru-baru ini diluncurkan, termasuk kebijakan perdagangan karbon, program energi terbarukan, dan investasi infrastruktur hijau yang penting untuk mencapai tujuan keberlanjutan jangka panjang.

"Kami mendorong sektor swasta untuk berinvestasi dalam proyek-proyek hijau, biru dan kebijakan yang tidak hanya menanam pohon. Tetapi juga menciptakan lingkungan yang berkelanjutan untuk generasi mendatang," tambahnya.

Selain itu, Ibas menekankan pentingnya kerja sama global dalam mempercepat inisiatif energi bersih, terutama dengan meningkatnya harga minyak global dan meningkatnya momentum transisi menuju kendaraan listrik (EV).

"Waktunya bertindak adalah sekarang," ujarnya.

Ibas pun mendukung misi GGGI dalam mempercepat pertumbuhan hijau di seluruh dunia. Menurutnya, hal itu perlu diimbangi dengan kemitraan bilateral, multilateral, dan tanggung jawab bersama untuk melindungi planet ini demi generasi masa depan.

"Ini bukan hanya tentang bagaimana kita hidup hari ini, tetapi bagaimana kita memastikan bahwa generasi mendatang mewarisi dunia yang berkelanjutan," jelasnya.

Tantangan Global dan Kebersamaan dalam Aksi

Ibas turut menekankan pentingnya aksi bersama dari para pemimpin dunia untuk menghadapi perubahan iklim.

"Kita membutuhkan aksi global yang bersatu, dan kebijaksanaan dari para pemimpin dunia untuk mengatasi tantangan yang ada. Kepemimpinan bersama, dengan visi dan komitmen yang jelas, sangat diperlukan untuk mewujudkan dunia yang lebih hijau dan lebih sejahtera," ujarnya.

"Dunia hijau memberikan kesempatan untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat dunia. Sebaliknya, dunia yang semakin panas akibat perubahan iklim dan konflik akan merugikan semua pihak," tambahnya.

Ibas turut memaparkan beberapa inisiatif Indonesia dalam menangani isu-isu lingkungan, salah satunya adalah program 'waste-to-energy' yang sedang digalakkan di Indonesia. Dia mengatakan program itu sebagai salah satu solusi untuk mengurangi sampah dan mengubahnya menjadi energi yang berguna.

"Program waste-to-energy di Indonesia merupakan langkah konkret untuk menjaga keramahan lingkungan dan mengurangi dampak negatif sampah terhadap alam," jelasnya.

Dia pun mengingatkan pentingnya melibatkan generasi muda dalam menjaga keberlanjutan planet ini juga menjadi sorotan dalam pidato tersebut.

"Kami perlu mempersiapkan generasi muda dengan pemahaman dan pendidikan yang tepat mengenai masa depan dunia. Mereka bukan hanya penerus, tetapi juga bagian dari solusi. Aksi nyata dari generasi muda sangat diperlukan untuk menjawab tantangan zaman ini," ujar Ibas.

"Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada GGGI atas komitmen dan pemikiran mendalam mereka dalam memberikan pengaruh positif terhadap isu-isu lingkungan dan generasi masa depan. GGGI adalah lembaga yang tak hanya memberikan ide, tetapi juga mendorong perubahan nyata di seluruh dunia," sambungnya

Sementara itu, Executive Director GGGI Sanghyup Kim menegaskan bahwa pertumbuhan hijau bukan hanya tentang aksi iklim, tetapi juga peluang ekonomi baru yang mampu menciptakan lapangan kerja dan industri berkelanjutan. Dia menyampaikan bahwa investasi global di sektor energi hijau telah mencapai triliunan dolar dan berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dunia.

Sementara itu, Malle Fofana menyoroti peran GGGI sebagai mitra strategis bagi negara anggota, termasuk Indonesia dalam mendorong kebijakan dan diplomasi iklim yang terintegrasi dengan sektor swasta. Dia juga menegaskan bahwa Indonesia menjadi salah satu program terbesar GGGI yang bahkan menjadi rujukan bagi negara lain.

Senada dengan itu, Director Partnerships and Governance Hakseok Ryu menjelaskan bahwa GGGI telah menjangkau hampir setengah wilayah Indonesia melalui berbagai program strategis. Hal itu mencakup sektor energi terbarukan, kota hijau, rehabilitasi lingkungan pesisir serta mangrove, hingga pembiayaan iklim dan investasi berkelanjutan.

Kolaborasi ini dinilai sebagai contoh nyata bagaimana kemitraan internasional dapat memberikan dampak langsung bagi pembangunan nasional sekaligus menjadi model global.

Sementara itu, Perwakilan Global Green Growth Institute di Indonesia Rowan Fraser menegaskan bahwa fokus kerja GGGI mencakup empat sektor utama yaitu energi (termasuk energi terbarukan, efisiensi energi, hidrogen, dan bioenergi), pengembangan kota dan industri hijau, pengelolaan darat dan laut seperti rehabilitasi mangrove dan ekonomi pesisir, serta pembiayaan dan investasi hijau termasuk pasar karbon dan pembiayaan iklim.

"Seluruh upaya ini diselaraskan dengan rencana pembangunan nasional Indonesia. Dalam beberapa tahun ke depan GGGI menargetkan mobilisasi pendanaan sebesar US$ 2 miliar untuk mendukung transisi hijau melalui kolaborasi erat dengan pemerintah dan sektor swasta guna memastikan aliran investasi berkelanjutan ke dalam negeri," tutupnya.

Turut mendampingi Ibas dalam kunjungan ini sejumlah anggota Fraksi Partai Demokrat dari berbagai komisi di DPR RI, yakni Anton Sukartono Suratto (Komisi I), Rinto Subekti (Komisi XIII), Dina Lorenza (Komisi VII), Lucy Kurniasari (Komisi IX), Bramantyo Suwondo (Komisi X), Rizki Aulia Rahman Natakusumah (Komisi I), Wastam, (Komisi V), Muhammad Lokot Nasution (Komisi V), dan Sartono (Komisi XII).

Sementara itu, dari pihak GGGI, pertemuan dihadiri oleh Executive Director Sanghyup Kim, Deputy Executive Director and Asia Regional Malle Fofana, Director Partnerships and Governance Hakseok Ryu, Deputy Regional Director, Asia Jason Lee, Country Representative, Asia Rowan Fraser, dan Deputy Country Representative, Indonesia Vidya Fauzianti.




(akn/ega)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bus Rombongan Pelajar Masuk Jurang di Toba Sumut, 48 Orang Terluka
• 30 menit lalukumparan.com
thumb
Zero Tolerance, Kapolres Manggarai Timur Siap Tindak Tegas Anggota
• 23 jam lalutvrinews.com
thumb
Penjualan ICBP Tumbuh, Laba Tertekan 3% di Kuartal I-2026
• 3 jam lalumedcom.id
thumb
Penembakan Kembali Terjadi di Yahukimo, Sasar Warga Sipil
• 12 jam lalurctiplus.com
thumb
Cuaca Madinah 36 Derajat Celcius, Dokter Minta Jemaah Haji Antisipasi Dehidrasi
• 1 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.