Bengkulu: Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung menurunkan sejumlah personel ke lokasi penemuan gajah mati di kawasan hutan produksi (HP) Air Teramang, Kabupaten Mukomuko. Tim dikerahkan untuk melakukan identifikasi dan nekropsi.
"Kedua ekor gajah yang ditemukan dalam kondisi mati tersebut pertama kali terlihat warga kemarin, Rabu (28 April 2026), dan temuan itu dilaporkan warga kepada petugas di lapangan," ujar Kepala Seksi Wilayah I BKSDA Bengkulu Lampung, Said Jauhari, saat dikonfirmasi di Kota Bengkulu, seperti dilansir Antara, Jumat, 1 Mei 2026.
Tim yang diturunkan dari BKSDA berjumlah delapan orang. Mereka didampingi anggota kepolisian, TNI, petugas Pos Penegakan Hukum (Gakkum) Kehutanan Bengkulu, serta Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) Resor Mukomuko.
BKSDA Bengkulu juga melibatkan dokter hewan untuk melakukan identifikasi serta nekropsi. Langkah ini guna memastikan penyebab kematian dua ekor gajah sumatera yang terdiri atas induk dan anaknya tersebut.
Baca Juga :
Mengisi Libur Paskah dengan Wisata Edukasi Satwa di Ragunan
Said menjelaskan saat ini tim sedang melakukan identifikasi terkait jenis kelamin serta usia induk dan anaknya. Namun, diperkirakan anak gajah tersebut belum berusia satu tahun.
"Terkait penyebab kematian, kami masih menunggu setelah dilakukannya nekropsi, termasuk untuk memastikan sudah berapa lama kedua ekor gajah tersebut mati," ujar dia.
Sebelumnya, warga menemukan dua ekor gajah mati dalam kondisi membusuk di kawasan hutan produksi (HP) Benteng Seblat, Kecamatan Teramang Jaya, Kabupaten Mukomuko, pada Kamis, 30 April 2026.
Saat ditemukan, kondisi kedua gajah tersebut telah membusuk dan berada tidak jauh dari pondok warga yang sudah lama ditinggalkan. Meskipun dalam keadaan telah membusuk, bagian tubuh penting seperti gading, gigi, dan tulang masih utuh.




