EtIndonesia. Ketegangan di Timur Tengah terus meningkat, mendorong rantai pasokan energi beralih dari jalur laut tradisional ke rute alternatif. Hal ini menyebabkan lonjakan tajam volume lalu lintas di Terusan Panama. Pada saat yang sama, perdebatan mengenai keamanan dan aturan pelayaran juga semakin memanas. Para ahli menunjukkan bahwa pelayaran global kini telah berubah dari sekadar pertukaran ekonomi menjadi fokus persaingan geopolitik.
Akibat terganggunya jalur di Selat Hormuz, kilang minyak di Asia seperti Jepang, Korea Selatan, India, dan Tiongkok baru-baru ini meningkatkan pembelian minyak mentah dari Amerika Serikat.
Data menunjukkan bahwa pada April, volume minyak mentah AS yang dikirim ke Asia melalui Terusan Panama telah melampaui 200.000 barel per hari, mendekati titik tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, mencerminkan penyesuaian cepat sumber pasokan.
Seiring pergeseran rute pelayaran, tekanan terhadap Terusan Panama meningkat signifikan. Waktu tunggu kapal rata-rata bertambah menjadi 3,5 hari, sementara harga lelang hak melintas juga melonjak.
Bahkan, biaya transit sementara sempat mencapai hingga 4 juta dolar AS. Dengan tingginya harga minyak dan margin keuntungan kilang, perusahaan pelayaran tetap bersedia menanggung biaya tinggi tersebut, menunjukkan bahwa ketegangan di pasar energi masih berlanjut.
Namun demikian, tindakan Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang baru-baru ini memperketat pemeriksaan dan penahanan kapal kargo berbendera Panama telah memicu ketidakpuasan banyak negara, yang mengecam adanya “tekanan ekonomi yang bersifat selektif”. Departemen Luar Negeri AS bersama Bolivia, Kosta Rika, dan lima negara Amerika Latin lainnya pada Selasa (28 April) mengeluarkan pernyataan bersama yang secara terbuka mendukung kedaulatan Panama.
Para ahli menilai, pernyataan bersama dari berbagai negara mencerminkan meningkatnya politisasi sektor pelayaran.
“Pada dasarnya, Terusan Panama telah menjadi simpul kunci bagi kelancaran rantai pasokan global. Terutama setelah Terusan Suez dan Selat Hormuz terdampak konflik geopolitik, jalur pelayaran lama terganggu, sehingga Terusan Panama secara alami menjadi rute alternatif,” kata Wakil Rektor Universitas Kainan sekaligus pakar strategi keamanan nasional, Chen Wenjia.
Permintaan transportasi dan nilai strategis meningkat secara bersamaan. Makna terusan ini telah meluas dari aspek ekonomi ke ranah politik. Amerika Serikat sejak lama memandang Terusan Panama sebagai aset strategis penting di belahan Barat, sementara PKT memperluas pengaruhnya melalui investasi pelabuhan dan jaringan logistik, menjadikannya bagian dari persaingan AS–Tiongkok.”
Ia menambahkan: “Tindakan tersebut bukan sekadar pengelolaan pelabuhan atau pemeriksaan keamanan biasa, melainkan memiliki sifat selektif yang jelas. Publik akan menafsirkannya sebagai alat tekanan. Kecaman dari banyak negara menunjukkan bahwa masyarakat internasional sudah waspada. Stabilitas pelayaran global bergantung pada prinsip dasar kebebasan navigasi.”
Di sisi lain, Kepala Keuangan Otoritas Terusan Panama, Vial, menyatakan bahwa kapasitas angkut terusan tetap terbatas, yakni hanya sekitar 1 hingga 2 juta barel per hari, sehingga sulit menggantikan Selat Hormuz yang menangani sekitar 20 juta barel per hari.
Laporan oleh wartawan NTDTV, Yi Xin dan Qiu Yue.




