FAJAR, MAKASSAR – Peringatan Hari Buruh menjadi momentum penting untuk merefleksikan peran strategis pekerja dalam pembangunan nasional. Buruh dinilai sebagai tulang punggung perekonomian bangsa yang kontribusinya harus terus diapresiasi melalui peningkatan kesejahteraan dan perlindungan yang memadai.
Dekan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Prof. Hamzah Halim, menegaskan bahwa Hari Buruh bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat kolektif akan pentingnya kesetaraan dan keadilan sosial.
“Momen ini harus menjadi pengingat kita bersama bahwa kesetaraan dan keadilan merupakan lanskap penting yang harus terus dirawat,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa pada hakikatnya semua orang adalah pekerja yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup.
“Sesungguhnya kita semua ini adalah buruh, karena kita bekerja dan melakoni pekerjaan masing-masing untuk menghidupi keluarga,” tambahnya.
Dalam peringatan Hari Buruh kali ini, Prof. Hamzah Halim menyampaikan sejumlah catatan penting. Pertama, perlunya memastikan kelayakan upah bagi pekerja. Menurutnya, upah yang layak merupakan hak dasar yang harus diperjuangkan, dengan tetap mempertimbangkan kondisi dan kemampuan tempat kerja.
Kedua, aspek keamanan kerja. Ia menegaskan bahwa setiap pekerja harus mendapatkan jaminan keselamatan selama menjalankan tugasnya.
Ketiga, jaminan sosial yang memadai. Hal ini dinilai penting untuk memberikan perlindungan jangka panjang bagi pekerja dan keluarganya.
Keempat, perlindungan dari eksploitasi dan kekerasan di lingkungan kerja. Ia menilai, hal-hal tersebut merupakan standar minimum yang harus diwujudkan dalam sistem ketenagakerjaan.
“Hal-hal ini minimal harus diciptakan dan menjadi pengingat kita di Hari Buruh ini,” tegasnya.
Senada dengan itu, Direktur Polinet, Rizal Fauzi, menyebut Hari Buruh sebagai momentum untuk mendorong perubahan ke arah yang lebih baik bagi seluruh warga negara.
Menurutnya, ketersediaan lapangan kerja masih menjadi harapan utama masyarakat yang perlu terus diperjuangkan.
“Kebutuhan akan tersedianya lapangan kerja merupakan harapan setiap orang. Ini harus terus kita rawat sebagai pengingat bersama,” ujar Rizal. (*/)




