JAKARTA, KOMPAS - Light rail transit atau LRT Jakarta Fase 1B Velodrome–Manggarai memasuki tahap uji sistematis atau commissioning test dengan target beroperasi pada Agustus 2026. Pemerintah Provinsi Jakarta disarankan melanjutkan ekspansi rute ke Dukuh Atas bahkan Tanah Abang hingga Jakarta Barat agar simpul ekonomi dari timur ke barat terhubung menyeluruh.
Serangkaian pengujian sarana dan prasarana perkeretaapian LRT Jakarta Fase 1B Velodrome–Manggarai dimulai Kamis (30/4/2026). Uji coba meliputi lintasan yang menghubungkan Stasiun Velodrome ke Stasiun Pasar Pramuka sepanjang 3,6 kilometer.
Commissioning test dilakukan untuk memastikan seluruh sistem berfungsi dan sesuai dengan rancangan, serta siap beroperasi. "Tahapan tersebut dilakukan secara mendetail agar seluruh komponen, subsistem, mulai dari jalur, persinyalan, kelistrikan, komunikasi, hingga integrasi operasional benar-benar siap digunakan masyarakat untuk mobilitas sehari-hari,” kata Direktur Utama PT Jakarta Propertindo (Perseroda), Iwan Takwin pada Jumat (1/5/2026).
Pembangunan LRT Jakarta Fase 1B Velodrome-Manggarai berlangsung sejak 30 Oktober 2023. Anggarannya sebesar Rp 5,5 triliun dari APBD Jakarta.
Saat ini struktur utama di koridor Jalan Pemuda, Jalan Pramuka, Jalan Tambak, dan Jalan Sultan Agung sudah tersambung. Adapun rutenya sepanjang 6,4 kilometer, terdiri dari Stasiun Pemuda Barat, Pramuka BPKP, Pasar Pramuka, Matraman, dan Manggarai.
Studi kelayakan menunjukkan potensi penumpang mencapai 50.000-70.000 orang per hari. LRT Jakarta Fase 1B Velodrome-Manggarai juga diproyeksikan mempercepat waktu tempuh dari Kelapa Gading di Jakarta Utara ke pusat Jakarta hanya dalam 26 menit.
Iwan menyebut, LRT Jakarta Fase 1B Velodrome-Manggarai ditargetkan beroperasi pada Agustus 2026. Selain commissioning test, secara paralel pihaknya merampungkan perizinan dari Kementerian Perhubungan.
"Setelah beroperasi secara komersial, jalur LRT Jakarta Fase 1B ini mampu mengangkut puluhan ribu penumpang setiap hari, mengurangi kepadatan lalu lintas, dan memperkuat konektivitas," ucap Iwan.
Enam tahun sudah LRT Jakarta beroperasi secara komersial. Layanan baru mencakup satu lintasan, yaitu Fase 1A Velodrome-Pegangsaan Dua sepanjang 5,8 kilometer.
Rute ini terdiri dari enam stasiun. Pegangsaan Dua, Boulevard Utara, Boulevard Selatan, Pulomas, Equestrian, dan Velodrome.
Iwan menyebut, rencana proyek Fase 2A ke Jakarta International Stadium (JIS) dan Fase 2B ke Halim dari sisi perizinan sudah disetujui oleh Kementerian Perhubungan. Namun, belum ada keputusan pembangunan karena pendanaannya masih dibahas.
Gubernur Jakarta Pramono Anung dalam dua kesempatan berbeda juga menyampaikan belum ada keputusan rute baru LRT Jakarta. Salah satu alasannya, ia masih mempertimbangkan perpanjangan lintasan dari Manggarai ke Dukuh Atas agar rampung secara keseluruhan.
"Ada masukan dari KAI (Kereta Api Indonesia). Dari Manggarai ke Dukuh Atas sudah banyak angkutan umum dan mudah aksesnya. Tentu ada perhitungan secara ekonomis, masuk atau tidak, itu yang segera kami putuskan," tutur Pramono.
Sama halnya dengan rute ke JIS. Pendanaanya sedang dihitung dan akan diputuskan segera.
"Velodrome, Tanjung Priok, kemudian JIS, ke Ancol itu salah satu alternatif rute baru sehingga semua daerah tercover. Menurut saya akan membuat Jakarta makin hidup, enggak seperti sekarang semuanya terkonsentrasi di pusat dan selatan," kata Pramono dalam wawancara khusus dengan Kompas.
Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah DKI Jakarta Yusa C Permana menekankan urgensi dan manfaat dari suatu rute. Apalagi di tengah situasi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
Yusa menyarankan sebaiknya pembangunan LRT Jakarta dilanjutkan ke Dukuh Atas. Bahkan, terus ke Tanah Abang dan Jakarta Barat.
"Koneksi KRL dan kereta bandara maupun kereta cepat bisa via Dukuh Atas dan Manggarai. Jadi bangun ke Halim tidak terlalu urgen. Tapi koneksi ke pusat kegiatan, Jakarta Barat dan MRT hanya bisa kalau sampai Dukuh Atas. Sementara JIS bisa dioptimalkan KRL sehingga tidak harus bangun jalur baru lagi," tutur Yusa.
LRT Jakarta yang menghubungkan pusat ekonomi barat-timur Jakarta justru menambah pilihan angkutan umum massal bagi warga. Selama ini warga di sisi utara wilayah tersebut praktis bergantung pada Transjakarta.
Mereka pun harus transit. Bahkan, kerap terjebak gangguan lalu lintas. "Area Tanah Abang ke arah Puri masih blank spot angkutan umum massal moda rel. Jauh dari mana-mana. Bisa disinkronkan dengan rencana MRT Fase 3 dan KRL eksisting," tutur Yusa.
Selain wilayah tersebut, warga Meruya juga kesulitan akses. Mereka harus memutar ketika naik Transjakarta Koridor 8 Lebak Bulus-Pasar Baru.
"Tidak praktis dan lama. Artinya, kalau targetnya mengurangi penggunaan kendaraan pribadi apalagi mobil, sebaiknya diutamakan segmen Dukuh Atas, Tanah Abang terus ke Jakarta Barat," ujar Yusa.
Setelah itu, lanjut Yusa, pembangunan bisa dilanjutkan ke Halim atau JIS. Ia mengingatkan bahwa pembangunan jangan hanya berdasarkan keputusan politik, tetapi harus melihat pergerakan riil di masyarakat.
Salah satunya adalah sisi yang dilayani LRT Jakarta. Mayoritas dari dan ke arah mana, baik saat hari kerja maupun akhir pekan, serta jenis aktivitas penumpangnya sehingga evaluasi bisa terukur.
"Sudah saatnya penilaian keberhasilan itu bukan sekadar sudah ada rute, tapi masyarakat per wilayah itu dievaluasi betul pakai angkutan umum tidak. Jadi ketahuan apa yang perlu diperbaiki. Kalau evaluasi hanya aspek suplai dan persentase total bisa misleading," ucap Wakil Ketua Inisiatif Strategis Transportasi (Instran) itu.
Apa yang diutarakan Yusa termasuk dalam rekomendasi Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) tentang perbaikan aksesibilitas kepada Pemprov Jakarta pada triwulan I-2026. Salah satunya adalah memperkuat transportasi yang inklusif karena mobilitas bagi warga belum merata dan sama kualitasnya.
Ini dimulai dengan infrastruktur first mile dan last mile yang belum ramah disabilitas dan warga lansia. First mile merupakan perjalanan dari tempat asal menuju angkutan umum, sementara last mile ialah perjalanan dari tempat transit ke tujuan akhir. Keduanya memainkan peran penting dalam mobilitas warga.
Selain itu, inovasi masih terpisah tergantung inisiatif operator tanpa koordinasi dan standar yang belum seragam, misal, akses antarmoda dan wilayah. Maka perlu standar desain, akses halte, stasiun, dan trotoar, termasuk pelayanan inklusif dengan melatih petugas dan bantuan penumpang.
DTKJ juga merekomendasikan penguatan keterlibatan pemangku kepentingan yang lebih luas. Pengelola gedung perkantoran, contohnya.
Mereka harus mengelola perjalanan karyawan dan turut serta mengurangi kemacetan di kawasan bisnis. Sebab, mayoritas karyawan membawa kendaraan pribadi sehingga terjadi lonjakan lalu lintas.
Untuk itu, pengelola gedung harus didorong terlibat aktif dalam mobilitas perkotaan melalui Transportation Demand Management (TDM) atau pengaplikasikan peraturan-peraturan dan strategi untuk meminimalisir kebutuhan akan kendaraan pribadi.
Upaya yang dilakukan antara lain adanya bus jemputan langsung dari asal perjalanan atau dari dan ke layanan angkutan umum, program carpooling antarkaryawan atau berbagi tumpangan; jam kerja fleksibel, dan manajemen parkir dengan kuota dan tarif progresif.
Selain itu, bisa dengan mengganti biaya transportasi umum hingga skema pay me for not driving dan program naik angkutan umum, serta keteladanan pimpinan.
Yusa mengatakan, manfaat ekonomi dan finansial harus jelas, baik untuk masyarakat dan pemerintah dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Tak kalah penting adalah integrasi dengan rencana pembangunan ekonomi wilayah.
"Tidak perlu muluk-muluk kawasan berorientasi transit (TOD). Harus jelas dulu, ekonomi eksisting akan naik seperti apa dengan ada layanan angkutan umum," kata Yusa.
Hal tersebut yang tidak pernah serius dibahas selama ini. Padahal, subsidi bukan berarti laku atau tidaknya layanan dan target ekonomi. Subsidi sebaliknya harus mulai dipandang sebagai stimulus ekonomi, bukan sekedar bantuan sosial.
"TOD bukan konsep property development, tapi konsep revitalisasi ekonomi eksisting. Ini yang banyak salah kaprah diimplementasikan," kata Yusa.





