JAKARTA, KOMPAS.com – Sejumlah massa aksi Hari Buruh Internasional (May Day) yang memadati kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, memilih beristirahat dengan cara rebahan sambil menunggu antrean bus kepulangan, Jumat (1/5/2026).
Berdasarkan pantauan Kompas.com sekitar pukul 16.30 WIB, para buruh memanfaatkan area terbuka di sekitar Monas untuk melepas lelah usai mengikuti rangkaian kegiatan.
Sebagian terlihat berbaring di atas alas plastik, sementara lainnya langsung merebahkan diri di atas rumput taman. Beberapa di antaranya menutup wajah dengan topi atau handuk untuk menghindari terik matahari.
Baca juga: Gerbang DPR Diselimuti Asap Hitam, Buruh Bakar Ban dan Spanduk Tuntut Suara Didengar
Di sisi lain, ada pula yang tampak santai berbincang dengan rekan-rekannya sambil menunggu giliran naik bus.
Namun, di sekitar titik-titik tempat buruh beristirahat, terlihat sampah berserakan. Sampah plastik bekas makanan dan minuman mendominasi area tersebut dan dibiarkan tertinggal.
Di pinggir jalan, bus-bus penjemput tampak terparkir dan datang secara bergantian. Petugas kepolisian terlihat mengatur arus kendaraan untuk mengurai kepadatan.
Baca juga: Menteri P2MI Sebut Perpres 25/2026 Jadi Tonggak Perlindungan Buruh Migran Laut
Salah satu buruh asal Bekasi, Andri (35), mengaku kelelahan setelah seharian berada di lokasi aksi. Ia memilih beristirahat sejenak sambil menunggu bus jemputannya untuk kembali ke Bekasi.
“Dari pagi sudah di sini, lumayan capek. Sambil nunggu bus sopirnya parkir jauh banget di dekat GBK,” kata Andri.
Dalam aksi tersebut, Andri yang juga bekerja sebagai pengemudi ojek online berharap tuntutan terkait penurunan potongan komisi aplikator dapat direalisasikan.
Ia merujuk pada pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut potongan akan ditekan di bawah 10 persen.
Baca juga: Buruh di Persimpangan Revolusi Industri 4.0
“Buruh kan datang ke sini bawa pesan. Ya tadi sebagai ojol berharap soal potongan komisi itu bisa di bawah 10 persen sesuai arahan Presiden. Karena kalau sekarang itu potongannya menyiksa,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Haidar (43), yang memilih duduk lalu merebahkan diri di atas tikar plastik yang dibawa rombongannya.
Ia mengatakan antrean bus cukup panjang sehingga rombongannya memutuskan menunggu sambil beristirahat.
“Daripada berdiri lama, mending duduk dulu, sekalian rebahan,” ujarnya.
Baca juga: Berkah Hari Buruh bagi Slamet, 300 Roti Dagangannya Ludes dalam 2 Jam
Menurut Haidar, bus yang membawa rombongannya dari Cikarang diparkirkan di Jalan Benyamin Sueb. Bus tersebut juga harus bergerak perlahan karena padatnya kendaraan lain yang hendak keluar dari kawasan sekitar.
“Tadi sopir bilangnya parkir di Benyamin. Ke sini harus ngantre lagi sama bus-bus yang lain,” kata dia.
Arus kepulangan massa buruh dari kawasan Monas diwarnai antrean kendaraan. Bus hingga minibus bergerak perlahan dengan kecepatan sekitar 15 kilometer per jam.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fphoto%2Fori%2F2021%2F10%2F20%2F91bb9030-2f96-4a94-b09a-f4daf7470a6f.jpg)

