MUNA BARAT, KOMPAS - Seorang siswa kembali menjadi korban minimnya perhatian atas fasilitas pendidikan di daerah. Siswa kelas 1 sekolah dasar itu tewas tertimpa plang nama sekolah di Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara. Bangunan sekolah itu sudah lapuk dan tak kunjung diperbaiki selama puluhan tahun.
SL (7) adalah pelajar Kelas 1 SDN 7 Barangka di Muna Barat. Kamis (30/4/2026) siang, ia tengah bermain bersama dua temannya selepas jam sekolah. Lalu, ada salah satu anak memegang plang nama sekolah dan tiba-tiba plang yang terbuat dari beton tersebut jauh menimpa ketiganya.
Akibat kejadian tersebut, SL tewas dalam penanganan di rumah sakit. Dua temannya mengalami memar.
“Peristiwa tersebut terjadi ketika papan nama sekolah yang terbuat dari tembok cor tiba-tiba roboh dan menimpa tiga orang siswa SDN 7 Barangka” ucap Kapolsek Lawa Ipda Jaman, dihubungi dari Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (1/5/2026).
Plang beton yang jatuh itu membentur bagian belakang kepala SL. Ia juga mengalami memar di muka akibat terbentur di tanah. Dua rekannya juga mengalami memar di sejumlah bagian tubuh.
“Saat kejadian, beberapa guru masih di dalam kelas. Mereka segera memberi pertolongan dan mengevakuasi ketiganya yang tertimpa plang beton,” ucap Jaman.
Ketiga korban lalu dibawa ke puskesmas terdekat. SL yang mengalami luka parah, dirujuk ke RSUD Muna Barat. Korban lalu mendapatkan penanganan intensif. Akan tetapi, sekitar pukul 14.00 Wita, kondisinya kian menurun hingga meninggal dunia.
Menurut Jaman, pihaknya telah melakukan pengamanan lokasi dan mencari tahu penyebab kejadian tersebut. Diketahui, plang nama sekolah tersebut telah berumur puluhan tahun dan dalam kondisi lapuk.
Terlebih lagi, bagian dalam beton penyangga tidak memiliki besi, tapi berupa kayu. Bagian dalam tersebut yang lapuk dan dimakan usia sehingga roboh dan menimpa korban.
Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Muna Barat La Samahu mengungkapkan, pihaknya turut bersedih atas kejadian yang menimpa pelajar SD, hingga meninggal dunia. Sejak awal, pemeritnah yang mengetahui kejadian ini telah mengambil langkah penanganan, dan pendampingan, dari Puskesmas, hingga korban dimakamkan.
“Bersama Bupati Muna Barat kami temui keluarga korban, juga mengikuti prosesi pemakaman ananda. Kami sangat berduka atas kejadian ini,” katanya.
Berdasarkan pemantauan di lokasi kejadian, tutur Samahu, plang nama tersebut memang telah lapuk dan dimakan usia. Bagian dalam keropos sehingga mudah roboh. Musibah tidak terelakkan saat plang tersebut menimpa siswa.
Pihaknya telah mendata ada tinggal satu sekolah yang memiliki plang nama dengan model seperti itu. Sebagian besar telah menyatu dengan pagar dan dalam kondisi baik.
Meski demikian, dari total 230 sekolah, masih ada sekitar 30 di antaranya yang dalam kondisi rusak sedang. Sebagian dari sekolah tersebut diusulkan untuk direvitalisasi dan diperbaiki.
“Kami berharap agar tidak ada lagi kejadian serupa di masa mendatang. Karena anak-anak kita harus dilindungi, dan program prioritas pemerintah adalah memberikan tempat belajar yang aman dan nyaman,” tambahnya.
Kasus ini menambah deret bangunan sekolah ambruk yang menimpa siswa. Pada September 2025 lalu, sebanyak 35 siswa terluka ketika atap bangunan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, ambruk. Kualitas atap bangunan yang dibangun pada 2016 itu dipertanyakan.
Ambruknya atap di salah satu gedung SMKN 1 Cileungsi itu terjadi pada pukul 09.10 WIB. Para pelajar di empat ruangan yang ada di lantai dua terdampak. Saat kejadian, ada 136 siswa kelas 10 dan 11 di tiga ruangan kelas yang sedang belajar. Adapun di ruang aula kelas 12 terdapat 102 siswa yang sedang belajar tes kemampuan akademis.
Sementara itu, pada November 2025, atap salah satu ruang kelas di SMP Pasundan 1, Kota Bandung, roboh. Akibatnya, enam siswa terluka. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 11.00 WIB. Saat kejadian, cuaca Bandung sedang cerah. Ruang kelas VII D yang ambruk berada di lantai dua. Peristiwa ini tidak mengakibatkan kegiatan belajar para siswa terhenti.





