JAKARTA, KOMPAS.TV - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda menjelaskan hujan masih terjadi di wilayah Jawa Timur pada dasarian III April 2026, meskipun secara klimatologis wilayah tersebut mulai memasuki masa peralihan menuju musim kemarau.
Kondisi ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer yang masih cukup aktif, sehingga mendukung terbentuknya awan hujan di sejumlah wilayah.
Melansir akun Instagram @infobmkgjuanda, BMKG menyebutkan secara umum Jawa Timur saat ini berada dalam fase transisi atau pancaroba.
Namun, aktivitas atmosfer seperti radiasi gelombang panjang keluar (Outgoing Longwave Radiation/OLR) menunjukkan adanya nilai rendah yang berkaitan dengan keberadaan awan tebal serta potensi hujan.
Baca Juga: BMKG: Monsun Australia Menguat, Indonesia Masuki Peralihan Kemarau Meski Masih Berpotensi Hujan
Prediksi berbasis observasi dan model prakiraan menunjukkan bahwa kondisi ini masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.
Selain itu, dinamika atmosfer juga dipengaruhi oleh gangguan berupa gelombang Rossby ekuator.
Gelombang ini merupakan gelombang besar di atmosfer atau lautan yang terjadi di sekitar garis khatulistiwa dan dipengaruhi oleh rotasi bumi.
Pergerakan gelombang Rossby yang bergerak di sekitar ekuator ke arah barat diketahui memiliki kontribusi terhadap modulasi awan serta peningkatan potensi hujan, termasuk kejadian hujan dengan intensitas yang lebih tinggi.
BMKG mengilustrasikan gelombang Rossby ekuator bekerja seperti "dayung" di atmosfer yang dapat mengarahkan awan hujan menuju suatu wilayah tertentu.
Penulis : Dian Nita Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- hujan sampai kapan
- kemarau
- bmkg
- bmkg juanda
- jawa timur





