JAKARTA, KOMPAS.com - Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Jumat (1/5/2026), menjadi momen bagi para buruh, pedagang, hingga pengemudi ojek online untuk menyuarakan harapan.
Di tengah massa yang memadati area, para buruh datang dengan berbagai tuntutan, mulai dari upah layak, jaminan kerja, hingga stabilitas harga kebutuhan pokok.
Namun, di balik itu, ada pula cerita tentang perjuangan sehari-hari yang mereka bawa dari daerah masing-masing.
Baca juga: Ojol Perempuan Harap Janji Prabowo soal Potongan 10 Persen Segera Terwujud
Sejumlah buruh bahkan rela menempuh perjalanan jauh demi bisa hadir langsung dalam peringatan May Day di ibu kota.
Mereka berharap suara yang disampaikan bisa lebih didengar pemerintah dan membawa perubahan nyata bagi kesejahteraan pekerja.
Buruh dari Daerah Tempuh Ratusan Kilometer
Seperti rombongan buruh asal Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, ikut memeriahkan May Day di Monas.
Salah satu perwakilan, Zuratman (60), mengaku baru pertama kali datang langsung ke Jakarta untuk mengikuti peringatan Hari Buruh.
“Iya, ini pertama kalinya saya ikut langsung ke Jakarta. Biasanya cuma lihat di TV saja. Mendadak diajak ke sini sama rekan rekan buruh,” ucap Zuratman saat berbincang dengan Kompas.com, Jumat.
Zuratman menempuh perjalanan sekitar 382 kilometer dari Cilacap menuju Jakarta.
Ia berangkat bersama rombongan menggunakan dua bus pada Kamis (30/4/2026) malam sekitar pukul 19.00 WIB dan tiba di ibu kota sekitar pukul 04.00 WIB, setelah hampir sembilan jam perjalanan.
Baca juga: Berkah Hari Buruh bagi Slamet, 300 Roti Dagangannya Ludes dalam 2 Jam
Ia berharap momentum May Day bisa membuka mata pemerintah terhadap kondisi buruh dan masyarakat kecil.
Menurut dia, harga kebutuhan pokok yang terus naik menjadi beban utama.
“Pengen buruh sejahtera, harga bahan pokok gak naik. Intinya sembako murah lah. Yang penting perhatian sama warga. Selama ini bahan pokok naik kita mah ngikut aja tapi lebih baik dimurahin lah,” ungkap Zuratman.
Zuratman juga berharap adanya kebijakan yang lebih berpihak pada buruh, termasuk soal upah layak dan jaminan kerja.