Memegang Teguh Makna Perjuangan

kompas.id
2 bulan lalu
Cover Berita

Hari Buruh Internasional atau May Day setiap 1 Mei kembali diperingati di seluruh dunia. Peringatan ini menjadi tempat mereka menyuarakan apa yang menjadi keresahan dan tuntutan akan situasi yang mereka alami mulai dari kebijakan pemerintah, gaji, hingga ancaman pemutusan hubungan kerja atau PHK.

Di Jakarta, peringatan Hari Buruh, Jumat (1/5/2026), diperingati di dua tempat berbeda, yaitu di kawasan Moumen Nasional (Monas) dan depan Kompleks Gedung Parlemen, Senayan. Di Monas, peringatan digelar sejumlah serikat pekerja dan Partai Buruh. Acara ini dihadiri Presiden Prabowo Subianto.

Adapun di depan Kompleks Parlemen digelar oleh beberapa aliansi pekerja buruh, pekerja perkantoran, pekerja akademik, aliansi petani, pengemudi ojek daring, dan aktivis berbagai lembaga nonpemerintah. Beberapa seniman dan mahasiswa juga turut bergabung.

Bersama-sama mereka menyuarakan berbagai tuntutan seperti hak-hak pekerja yang sering tidak dipenuhi.

”Long March”. (KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)

Pelantang Suara. (KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)

Pekik Semangat. (KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)

Poster Tuntutan. (KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)

Coretan Ingatkan Makna Peringatan. Coretan Ingatkan Makna Peringatan

Di depan Kompleks Parlemen, buruh menyuarakan berbagai keresahan dan tuntutan hak pekerja yang belum terwujud. Suara-suara ini mereka sampaikan melalui orasi serta poster-poster yang menjadi pesan suara hati mereka.

Berbagai tuntutan yang disampaikan para buruh ini antara lain menuntut penerapan upah minimum nasional. Upah minimum nasional dinilai penting karena menjadi memeratakan kesejahteraan para buruh dengan standar kelayakan hidup yang sama.

Mereka melihat masih ada ketimpangan dalam penerapan upah minimum kota/kabupaten (UMK). Kesenjangan yang cukup jauh bisa dilihat dalam penerapan UMK di wilayah yang berbatasan, sedangkan kebutuhan hidup berada dalam standar yang sama.

Suara di Atas Aspal. (KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)

Suara di Kaca Mobil. (KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)

Suara di Papan. (KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)

Suara di Tangan. (KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)

Suara di Tembok. (KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)

Selain itu, para buruh juga meminta dilibatkan dalam pembahasan revisi Undang-Undang Ketenagakerjaan. Pelibatan unsur-unsur serikat pekerja dalam pembahasan ini penting agar substansi yang dibutuhkan para pekerja terakomodasi.

Jika tanpa melibatkan buruh, hasil revisi UU tersebut rawan jauh dari substansi yang diharapkan. Pelibatan unsur serikat pekerja sudah sesuai keputusan Mahkamah Konstitusi terkait dikabulkannya permohonan revisi UU Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja.

Beberapa tuntutan lain yang disuarakan buruh dalam aksi ini seperti hak-hak dasar pekerja, seperti cuti haid, perlindungan pekerja perempuan, hingga jaminan keamanan pekerja. Di aksi ini, para buruh juga menagih janji pemerintah akan realisasi 19 juta lapangan kerja.

Suara Pekerja Perempuan. (KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)

Suara Buruh Pabrik. (KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)

Suara Pengemudi Ojek Daring. (KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)

Suara Buruh. (KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)

Suara Petani. (KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)

Suara atau sikap kritis para pekerja ini tak lepas dari upaya mereka tetap berusaha menjaga esensi utama dari peringatan Hari Buruh Internasional, yaitu memperjuangkan hak-hak para pekerja di tengah ketidakadilan.

Keteguhan ini tak lepas dari sejarah peringatan ini. Dalam sejarahnya, peringatan Hari Buruh Internasional ini bermula dari perjuangan para buruh yang memperjuangakan hak delapan jam kerja dengan mogok kerja di Haymarket, Chicago, Amerika Serikat.

Dalam peristiwa itu terjadi ledakan yang menewaskan para pekerja. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1886. Tiga tahun kemudian, peringatan peristiwa ini diterapkan sebagai Hari Buruh Internasional atau dikenal dengan sebutan May Day, setiap 1 Mei.

Kehadiran grup musik Efek Rumah Kaca ikut meramaikan peringatan May Day ini. Lagu-lagu dengan lirik kritis akan kondisi sosial, ekonomi, dan politik di Tanah Air disambut antusias massa aksi. Mereka bersama-sama bernyanyi untuk menyuarakan keresakan dan tuntutan.

Salah satu lagu yang disambut kor massa adalah lagu ”Mosi Tidak Percaya”. Mereka bersama-sama bernyanyi.

Jelas kalau kami marah/
Kamu dipercaya susah/
Pantas kalau kami resah/
Sebab argumenmu payah/

Kamu tak berubah/
Selalu mencari celah/
Lalu semakin parah/
Tak ada jalan tengah/…

Esensi perjuangan hak pekerja terus dirawat dan dijaga setiap May Day digelar. Selamat Hari Buruh Internasional.

Baca JugaAntara Sukacita dan Ancaman PHK di Peringatan Hari Buruh
Baca JugaSemarak Hari Buruh di Jakarta, dari Tuntutan hingga Joget di Jalan
Baca JugaDunia Merayakan Hari Buruh
Baca JugaPeringatan Hari Buruh di Semarang
Baca JugaGemuruh Hari Buruh di Monas


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
LPDP Buka Pendaftaran Beasiswa Tahap II 2026
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
NTB siapkan tata kelola perikanan berbasis data
• 18 jam laluantaranews.com
thumb
Kawhi Leonard Kembali ke Toronto Raptors, Transfer Besar NBA Resmi Terjadi
• 7 jam lalumedcom.id
thumb
RI-Belarusia Perluas Kerja Sama, Kembangkan Alat Berat hingga Mesin Pertanian
• 18 jam laluidxchannel.com
thumb
Regional Launching New Honda Vario Evo 160, MPM Honda Jatim Hadirkan Workshop, Test Ride dan Promo Menarik
• 14 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.