Awas, Bahaya Komplikasi Kehamilan, Kenali Tanda Bahayanya Yuk Moms

herstory.co.id
6 hari lalu
Cover Berita
HerStory, Jakarta —

Moms, seperti yang kita tahu, trimester pertama pada ibu hamil merupakan fase krusial yang bisa saja berisiko bagi Moms dan janin. Dijelaskan oleh dr. Krisantus Desiderius Jebada, Sp.OG, Dokter Spesialis Obgyn Eka Hospital PIK," pada awal kehamilan, tubuh ibu mengalami banyak perubahan yang tidak selalu bisa dianggap normal".

“Pada trimester pertama, tubuh sedang beradaptasi dengan perubahan hormon yang cukup signifikan. Karena itu, penting bagi ibu hamil untuk bisa membedakan mana gejala normal dan mana yang menjadi tanda bahaya,” sambung dr. Krisantus.

Perubahan Awal Kehamilan Tidak Selalu Normal

Kehamilan dimulai dari proses pembuahan hingga embrio menempel di dinding rahim. Pada fase ini, berbagai gejala seperti mual, mudah lelah, hingga perubahan emosi sering terjadi.

Namun menurut dr. Krisantus, tidak semua keluhan tersebut bisa diabaikan.“Keluhan seperti mual memang umum terjadi, tetapi jika berlebihan atau disertai gejala lain, itu bisa menjadi tanda adanya komplikasi,” jelasnya. 

Tanda Bahaya yang Perlu Diwaspadai

Ada beberapa gejala yang tidak boleh dianggap sepele oleh ibu hamil, terutama pada trimester pertama.

“Jika ibu mengalami perdarahan, nyeri perut hebat, atau muntah terus-menerus hingga tidak bisa makan dan minum, sebaiknya segera periksa ke dokter,” kata dr. Krisantus.

Selain itu, tanda lain yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Demam tinggi atau pusing berat 
  • Keluar cairan atau jaringan abnormal dari vagina 
  • Sakit kepala hebat atau gejala kehamilan tiba-tiba menghilang Menurutnya, gejala-gejala tersebut bisa menjadi indikasi kondisi serius yang membutuhkan penanganan segera.
Jenis Komplikasi yang Bisa Terjadi

Pada awal kehamilan, terdapat beberapa komplikasi yang cukup sering ditemukan. Salah satunya adalah hiperemesis gravidarum, yaitu kondisi mual dan muntah berat yang melebihi morning sickness biasa.

“Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa menyebabkan dehidrasi dan kekurangan nutrisi pada ibu,” jelas dr. Krisantus. 

Selain itu, keguguran juga menjadi risiko yang paling sering terjadi di trimester pertama.

“Keguguran biasanya ditandai dengan perdarahan dan kram perut. Penyebabnya bisa beragam, mulai dari faktor genetik hingga kondisi kesehatan ibu,” ujarnya.  Komplikasi lain yang perlu diwaspadai adalah kehamilan ektopik, yaitu kondisi ketika janin berkembang di luar rahim.

“Ini kondisi darurat karena bisa mengancam nyawa jika tidak segera ditangani,” tegasnya. Infeksi, seperti infeksi saluran kemih (ISK), juga cukup sering terjadi pada ibu hamil dan tidak boleh diabaikan.

Pentingnya Pemeriksaan Rutin

Untuk mencegah risiko yang lebih besar, pemeriksaan kehamilan secara rutin sangat dianjurkan. “Dengan pemeriksaan rutin, komplikasi bisa dideteksi lebih awal sehingga penanganannya juga  bisa lebih cepat,” kata dr. Krisantus. 

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga gaya hidup sehat selama kehamilan, seperti:

  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang 
  • Cukup istirahat 
  • Menghindari stres berlebih 
Jangan Abaikan Gejala

Pada akhirnya, kesadaran ibu hamil terhadap kondisi tubuhnya menjadi kunci utama dalam menjaga kehamilan tetap sehat.“Jika ada keluhan yang dirasa tidak biasa, jangan menunda untuk memeriksakan diri. Penanganan yang cepat bisa mencegah risiko yang lebih serius,” tutup dr. Krisantus. 

Namun Moms, seiring berkembangnya layanan kesehatan, kini semakin banyak ibu hamil yang mencari terapi pendukung selain pengobatan medis konvensional. Salah satunya adalah akupunktur.

Dokter Spesialis Akupunktur, dr. Laura Widiastuti, Sp.Ak, menjelaskan bahwa akupunktur medik dapat menjadi terapi komplementer yang membantu mengurangi keluhan selama  kehamilan.

“Akupunktur bukan sekadar terapi alternatif, tetapi sudah berbasis medis dan digunakan sebagai terapi pendamping untuk membantu ibu hamil merasa lebih nyaman,” ujar dr. Laura.

Apa Itu Akupunktur Medik?

Akupunktur merupakan teknik dengan memasukkan jarum halus ke titik-titik tertentu pada tubuh untuk memberikan efek terapeutik. Dalam praktik medis modern, akupunktur tidak dilakukan sembarangan. Terapi ini berbasis ilmu anatomi, fisiologi, dan patologi.

Menurut dr. Laura, akupunktur juga telah diakui secara global. “Akupunktur sudah direkomendasikan oleh organisasi kesehatan dunia sebagai terapi yang dapat  diintegrasikan dalam sistem pelayanan kesehatan,” jelasnya.

Namun menurut dr. Laura, terapi ini  relatif aman selama dilakukan dengan benar. “Akupunktur aman untuk ibu hamil selama dilakukan oleh tenaga medis terlatih dan menggunakan teknik yang sesuai,” jelasnya. 

Ida juga menekankan bahwa tidak semua kondisi bisa langsung diberikan terapi ini.

“Ada beberapa kondisi tertentu yang perlu menjadi perhatian, sehingga konsultasi dengan dokter tetap penting sebelum memulai terapi,” tambahnya. 

Membantu Mengatasi Mual Muntah

Salah satu keluhan paling umum di awal kehamilan adalah mual dan muntah. Menurut dr. Laura, akupunktur dapat membantu mengurangi keluhan tersebut dengan cara memperbaiki sistem pencernaan dan keseimbangan hormon.

“Akupunktur dapat membantu mengurangi intensitas dan frekuensi mual, meskipun tidak selalu menghilangkan sepenuhnya,” jelasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Setiba dari Jakarta, Bupati Sidrap Langsung Tinjau Banjir Amparita
• 12 jam laluterkini.id
thumb
KPU Dilaporkan ke DKPP Atas Dugaan Pemborosan Sewa Helikopter Rp198 Juta untuk Hadiri Pelantikan KPPS di Cianjur
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
Arab Saudi Kecam Tindakan Provokatif Menteri Israel di Masjid Al-Aqsa
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Detik-Detik Rudal Jelajah Rusia Ditembakkan di Laut Jepang saat Simulasi Armada Pasifik
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
Gerindra Hanya Beri Teguran Tertulis Ketua DPRD Kepri yang Viral Naik Harley Tanpa Helm
• 13 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.