JAKARTA, KOMPAS.com - Penggerebekan markas judi online (judol) jaringan internasional di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Barat, menjadi alarm baru bagi Indonesia.
Bukan sekadar menjadi pasar empuk perjudian daring, Indonesia kini dinilai berpotensi berubah menjadi basis operasi atau “hub” kejahatan siber lintas negara.
Pengungkapan kasus yang dilakukan Bareskrim Polri pada Sabtu (9/5/2026) itu menunjukkan bagaimana sindikat internasional mulai memanfaatkan berbagai celah di Indonesia, mulai dari infrastruktur internet yang semakin baik, kemudahan visa, hingga karakter masyarakat yang terbuka terhadap orang asing.
Sebanyak 321 orang diamankan dalam penggerebekan tersebut.
Mayoritas merupakan warga negara asing (WNA), terdiri dari 228 warga Vietnam, 57 warga China, 13 warga Myanmar, 11 warga Laos, lima warga Thailand, serta masing-masing tiga warga Malaysia dan Kamboja.
Baca juga: Pengamat: Perlu Kerja Sama Lintas Instansi Tuntaskan Kasus Markas Judol di Hayam Wuruk
Keberadaan ratusan WNA yang menjalankan operasional judol di tengah ibu kota pun memunculkan pertanyaan besar: apakah Indonesia mulai dilirik sebagai tempat aman bagi jaringan kriminal internasional?
Infrastruktur membaik jadi daya tarikPakar keamanan siber Vaksincom, Alfons Tanujaya, menilai kemudahan infrastruktur menjadi salah satu alasan utama sindikat judol internasional beroperasi di Indonesia.
Menurut dia, kualitas koneksi internet di kota-kota besar seperti Jakarta kini semakin memadai untuk mendukung operasional kejahatan digital berskala besar.
“Artinya infrastruktur di Jakarta khususnya di gedung (Hayam Wuruk) yang bersangkutan sudah membaik,” kata Alfons dalam Obrolan Newsroom Kompas.com, Senin (11/5/2026).
Selain faktor teknologi, Alfons menyoroti budaya masyarakat Indonesia yang cenderung ramah terhadap orang asing.
Baca juga: Pengamat Singgung Harta Karun yang Tak Boleh Hilang dalam Kasus Judol di Hayam Wuruk
Kondisi itu membuat aktivitas para pekerja judol asing relatif mudah menyatu dengan lingkungan sekitar tanpa memicu kecurigaan besar.
Hali tersebut terlihat dari aktivitas markas judol Hayam Wuruk yang sudah berjalan sekitar dua bulan sebelum akhirnya digerebek aparat.
“Jadi kita belajar lagi, enggak perlu saling menyalahkan apa yang sudah terjadi,” ujarnya.
Ia juga menyinggung kebijakan visa on arrival yang dinilai mempermudah masuknya WNA ke Indonesia.
Karena itu, Alfons berharap aparat kepolisian dan pihak imigrasi dapat memperkuat koordinasi agar kasus serupa tidak terus berulang.
Warga sudah curigaMeski aparat baru mengungkap kasus tersebut pada akhir pekan lalu, sejumlah warga mengaku sebenarnya sudah lama merasa ada aktivitas yang tidak biasa di gedung tersebut.
Baca juga: Hayam Wuruk Jadi Markas Judol, Pengamat Soroti Kemudahan Infrastruktur
Ananda (bukan nama sebenarnya), warga sekitar lokasi, mengatakan dirinya kerap melihat banyak orang asing keluar masuk gedung dalam beberapa bulan terakhir.
“Biasanya suka banyak orang asing kayak Vietnam gitu di sini. Aku dari awal sudah curiga sih,” kata Ananda kepada Kompas.com, Senin.
Namun ia mengaku baru mengetahui aktivitas tersebut terkait judi online setelah polisi berjaga di lokasi sejak Sabtu lalu.





