Negosiator AS Sebut Kesepakatan Damai dengan Iran Kini Jauh Lebih Sulit ketimbang Era Obama

mediaindonesia.com
22 jam lalu
Cover Berita

UPAYA Amerika Serikat untuk mencapai kesepakatan baru dengan Iran dinilai akan menghadapi jalan yang jauh lebih terjal dibandingkan satu dekade lalu. Alan Eyre, mantan negosiator Departemen Luar Negeri AS, mengungkapkan situasi politik saat ini telah berubah drastis sejak kesepakatan nuklir 2015 ditandatangani.

Eyre, yang merupakan anggota kunci tim negosiasi Presiden Barack Obama dan mahir berbahasa Farsi, menyebut kepemimpinan Iran saat ini jauh lebih konservatif.

"Jauh lebih sulit untuk mendapatkan kesepakatan sekarang dengan pemerintahan Iran yang saat ini," ujar Eyre dalam wawancara dengan CNN pada Senin (11/5/2026).

Baca juga : Trump Sebut Gencatan Senjata AS-Iran Sekarat: Hanya Punya Peluang Hidup 1 Persen

Menurutnya, pada 2015 Iran memiliki "kepemimpinan yang relatif lebih moderat". Berbeda dengan saat ini, Tehran dikuasai oleh "kepemimpinan yang lebih garis keras dan radikal". Selain itu, fokus negosiasi kini melebar tidak hanya pada program nuklir, tetapi juga mencakup kedaulatan di Selat Hormuz.

Kritik terhadap Pernyataan Publik

Eyre juga menyoroti adanya kesenjangan antara pernyataan publik dan realitas di meja perundingan. Ia menanggapi tuduhan Presiden Donald Trump yang menyebut Iran telah mengingkari janji.

"Banyak dari apa yang kita dengar di publik tidak selaras dengan realitas yang mendasarinya, dari kedua belah pihak," kata Eyre. Ia bahkan menyebut tuduhan tersebut kemungkinan adalah "salah komunikasi atau fabrikasi".

Baca juga : Trump Tunda ‘Project Freedom’, Sinyal Damai atau Gertakan Baru untuk Iran?

Eyre merasa "tidak percaya" jika Iran sejak awal pembicaraan setuju untuk mengekspor seluruh uranium yang diperkaya tinggi langsung ke Amerika Serikat.

Iran Tegaskan Kesiapan Militer

Di pihak lawan, Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan negaranya sudah siap menghadapi skenario apa pun jika negosiasi tetap menemui jalan buntu.

"Angkatan bersenjata kami siap memberikan tanggapan yang memberi pelajaran terhadap agresi apa pun," tulis Ghalibaf di media sosial. Ia memperingatkan strategi salah perhitungan dari pihak Barat hanya akan membuahkan kegagalan. "Kami siap untuk setiap pilihan. Mereka akan terkejut."

Ghalibaf menegaskan bahwa AS tidak punya pilihan lain selain menerima hak-hak rakyat Iran yang tertuang dalam proposal 14 poin yang diajukan Tehran awal bulan ini. "Semakin lama mereka menunda-nunda, semakin besar biaya yang harus dibayar pembayar pajak Amerika," tambahnya.

Pernyataan keras Ghalibaf ini muncul tak lama setelah Presiden Trump menyebut proposal terbaru Iran "tidak dapat diterima" dan menyatakan gencatan senjata yang ada saat ini sedang dalam kondisi "sekarat" atau kritis. Ghalibaf sempat mendapat tekanan dari kelompok garis keras di internal Iran yang menganggapnya terlalu lunak saat bernegosiasi dengan AS di Islamabad, Pakistan, bulan lalu. (CNN/Z-2)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polisi Tangkap 2 Pelaku yang Begal Anak SMA saat Berangkat Sekolah di Binjai
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Sudah Fitting Baju, Nathalie Holscher Beri Sinyal Bakal Dinikahi Aripat Tahun Ini
• 10 jam lalugrid.id
thumb
Cara Mengenali Kepribadian Seseorang dari Tanda Tangan
• 15 jam lalubeautynesia.id
thumb
Video: MSCI Siap Umumkan Rebalancing Indeks, Danantara Tak Khawatir
• 18 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Dijemput Paksa, Penyuap Ketua Ombudsman 3 Kali Mangkir Panggilan Kejagung
• 12 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.