JAKARTA, KOMPAS.com - Eks Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim membantah sejumlah tuduhan jaksa dalam sidang kasus korupsi pengadaan laptop berbasis Chromebook, Senin (11/5/2026).
Nadiem membantah tudingan soal keberadaan “shadow organization” di Kemendikbudristek, hingga soal pengaruh Jurist Tan yang disebut sebagai “The Real Menteri”.
Persidangan juga diwarnai sejumlah perdebatan sengit antara jaksa penuntut umum (JPU), terdakwa, penasihat hukum, hingga hakim yang beberapa kali harus menyela jalannya pemeriksaan.
Bantah atur Chromebook sejak awal, sebut dakwaan fitnahDalam sidang, Nadiem membantah tudingan bahwa dirinya sejak awal sudah merencanakan penggunaan Chromebook dalam proyek pengadaan TIK Kemendikbudristek.
Baca juga: Momen Dokter Jelaskan Kesehatan Nadiem Makarim di Sidang Korupsi Chromebook
Ia justru menunjukkan percakapan internal yang menurutnya membuktikan dirinya mempertanyakan alasan penggunaan Chromebook dibanding perangkat berbasis Windows.
“So, then, what's the rationale for some PCs? Why some and not all PCs?” kata Nadiem, membacakan isi percakapannya di persidangan.
Menurut Nadiem, pertanyaan tersebut membuktikan dirinya tidak pernah mengarahkan agar seluruh pengadaan menggunakan Chromebook.
“Kalau saya sudah memutuskan dan mengoordinasikan meeting ini, buat apa saya mengkontak Ibam yang katanya adalah antek saya dalam melakukan konspirasi ini dan menanyakan dia ini besok meeting-nya mengenai apa," cerita Nadiem.
Ia juga membacakan isi pesan di grup internal yang meminta agar seluruh argumen terkait Chromebook maupun PC disampaikan secara seimbang.
“Make sure both sides of argument of Chromebook versus PC is there ya,” ungkap Nadiem.
Nadiem menilai dakwaan jaksa yang menyebut dirinya memiliki niat jahat sejak awal tidak sesuai fakta yang muncul di persidangan.
Baca juga: Nadiem Makarim Bantah Masih Terlibat di Gojek Setelah Jadi Menteri
“Dakwaan ini bukan masalah mengenai opini saya. Dakwaan ini adalah mengenai niat jahat saya yang sudah memutuskan Chrome dari awal,” kata dia.
Ia bahkan menyebut narasi yang berkembang selama proses penyidikan sebagai fitnah.
“Itu narasi jahat. Karena itu benar-benar fitnah," ujar dia.
Singgung Grup “Mas Menteri Core Team”Menurut Nadiem, tudingan bahwa dirinya sudah membahas pengadaan Chromebook sebelum dilantik menjadi menteri juga tidak terbukti.
“Pada saat itu seluruh Indonesia mengira bahwa di dalam WhatsApp group sebelum menjadi menteri, saya sudah membahas pengadaan Chromebook. Padahal tidak ada," kata dia.
“Dan terbukti sekarang di persidangan itu tidak pernah terjadi dan chat itu tidak ada," klaim Nadiem.
Nadiem kemudian menjelaskan awal mula dirinya bertemu Najeela Shihab, Fiona Handayani, hingga Ibrahim Arief atau Ibam sebelum masuk kabinet.
Baca juga: Nadiem Buka-bukaan soal Grup Whatsapp “Mas Menteri Core Team”, Bantah Dipakai Bahas Chromebook
"Saya pertama kali bertemu dengan Fiona, Najelaa, bahkan Ibam, itu semuanya pada saat saya sudah diberikan informasi bahwa saya ada kemungkinan besar akan dilantik menjadi Menteri Pendidikan," kata Nadiem.
Saat itu, ia mengaku sedang mencari orang-orang yang memahami dunia pendidikan dan pemerintahan.
"Kalau saya orang yang bertanggung jawab, kalau saya orang yang ingin mempersiapkan diri, tentunya saya harus mencari pakar-pakar orang di bidang pendidikan maupun di bidang pemerintahan," ujarnya.
Nadiem lalu membentuk grup WhatsApp bernama “Mas Menteri Core Team” dan “Education Council” yang beranggotakan dirinya, Najeela, Fiona, dan Jurist Tan.
Menurut dia, grup tersebut dibentuk untuk membahas arah kebijakan pendidikan, bukan proyek Chromebook.
"Kagetnya saya pada saat kasus ini dimulai, bahwa diumumkan oleh pihak Kejaksaan bahwa di dalam grup WhatsApp tersebut sebelum menjadi menteri sudah dibahas mengenai pengadaan TIK atau Chromebook, yang ternyata tidak terjadi sama sekali dan tidak ada chat-nya," ujar Nadiem.
Baca juga: Momen Nadiem Protes Disela Jaksa Saat Jelaskan Pengadaan Chromebook: Saya Belum Selesai Menjawab
Ia mengatakan pembahasan di grup lebih banyak menyangkut kurikulum dan strategi digitalisasi pendidikan.
“Dari latar belakang pendidikan, pemerintahan, dan juga reputasi yang sangat bersih dan sangat idealis, mereka dikumpulkan di dalam grup itu,” ujar Nadiem.
Jaksa ungkit Jurist Tan "the real" menteriPerdebatan memanas ketika jaksa menyinggung sosok Jurist Tan yang disebut memiliki pengaruh besar di kementerian.





