Pakar terkemuka di bidang penginderaan jauh dan pemetaan Tiongkok, profesor Universitas Wuhan, Ke Tao, baru-baru ini meninggal dunia pada usia 48 tahun. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus kematian mendadak ilmuwan Tiongkok serupa terus terjadi. Pengamat menilai bahwa sebagian dari mereka mungkin bunuh diri atau dibungkam karena terlibat kasus korupsi dalam pertarungan faksi dan garis politik Partai Komunis Tiongkok (PKT).
EtIndonesia. Menurut laporan media daratan Tiongkok, pada 6 Mei malam, talenta tingkat tinggi nasional PKT sekaligus profesor di Fakultas Teknik Informasi Penginderaan Jauh Universitas Wuhan, Ke Tao, meninggal dunia di Wuhan karena sakit pada usia 48 tahun.
Ke Tao merupakan pakar papan atas di bidang penginderaan jauh dan pemetaan di Tiongkok. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Institut Pengembangan Sains dan Teknologi Universitas Wuhan serta Direktur Institut Teknologi Canggih.
Selain Ke Tao, dalam beberapa tahun terakhir banyak ilmuwan top Tiongkok lainnya meninggal dunia secara misterius sehingga memicu berbagai spekulasi.
“Penjelasan pertama tentu saja kondisi kesehatan mereka memang kurang baik. Tetapi sistem industri militer sekarang diketahui penuh korupsi. Jadi mungkin ditambah kondisi fisik yang buruk, lalu khawatir diperiksa atau memang sedang diselidiki, sehingga kemungkinan mereka ‘takut sampai meninggal,” ujar pengamat politik Li Linyi.
Li Linyi menganalisis bahwa sebagian dari mereka mungkin juga dibungkam karena mengetahui rahasia korupsi. Korupsi di sistem industri militer sangat serius dan langsung melibatkan petinggi PKT. Selain itu, tidak menutup kemungkinan terkait efek pasca-COVID atau efek samping vaksin.
“Ini masih harus melihat penyebab kematian akhirnya seperti apa. Karena belakangan disebut banyak kasus penyakit jantung dan sebagainya yang disebabkan efek samping vaksin. Jadi semua kemungkinan itu ada,” ujarnya.
Para ilmuwan top Tiongkok ini mencakup bidang teknologi penting seperti kecerdasan buatan (AI), drone, rudal balistik, senjata nuklir, semikonduktor, dan dirgantara. Misalnya:
- Pada 24 Maret 2026, pakar terkenal mesin pesawat Tiongkok sekaligus profesor Fakultas Tenaga dan Energi Universitas Politeknik Northwestern, Yan Hong, meninggal di Rumah Sakit Rakyat Provinsi Jiangsu pada usia 57 tahun.
- Pada 8 April 2025, pakar material nano berusia 41 tahun sekaligus profesor Universitas Ningxia, Li Haibo, meninggal mendadak karena sakit. Penyebab pastinya tidak diketahui.
- Pada 5 Maret 2024, pendiri Pusat Penelitian Rekayasa Keamanan Big Data Guizhou, Liu Donghao, meninggal secara “tak terduga”.
- Pada 15 Desember 2023, pendiri SenseTime sekaligus ilmuwan AI terkenal, Tang Xiao’ou, meninggal “karena sakit” pada usia 55 tahun. Namun di internet beredar rumor bahwa ia meninggal akibat melompat dari gedung.
Selain kematian mendadak, banyak pakar juga menghadapi penyelidikan resmi secara terbuka.
Menurut statistik yang tidak lengkap, sejak 2024 saja sudah ada 10 akademisi berlatar belakang industri militer dari Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok dan Akademi Teknik Tiongkok yang dicopot. Mereka termasuk:
- Pakar kendali dan pemandu rudal Wei Yiyin, mantan wakil manajer umum China Aerospace Science and Industry Corporation.
- Pakar radar Wu Manqing, mantan manajer umum China Electronics Technology Group.
- Pakar senjata nuklir Zhao Xiangeng, mantan wakil presiden Akademi Teknik Tiongkok.
- Desainer utama pesawat tempur J-20, Yang Wei, mantan wakil manajer umum Aviation Industry Corporation of China.
“Karena mereka adalah tokoh utama di bidang masing-masing, mereka menguasai banyak sumber daya di sektor militer dan industri pertahanan, baik sumber daya ekonomi maupun politik. Kepentingan mereka kemudian terikat dengan pejabat dari faksi tertentu, membentuk hubungan saling bergantung,” ujar pengamat politik yang berbasis di AS, Tang Jingyuan.
Tang Jingyuan menilai bahwa apa yang disebut PKT sebagai “anti-korupsi” pada dasarnya adalah alat pembersihan faksi dan perjuangan politik. Para pakar top ini umumnya terlibat dalam kepentingan ekonomi besar dan terikat secara politik dengan pejabat dari berbagai faksi. Sebagian besar berasal dari keluarga biasa dan tidak memiliki latar belakang kuat seperti “generasi kedua elite merah”, sehingga ketika terjadi pembersihan faksi, mereka menjadi target pertama.
“Dalam situasi seperti ini, menurut saya banyak orang mungkin dibungkam karena alasan politik, atau demi melindungi atasan maupun keluarganya, akhirnya memilih mengakhiri hidup sendiri,” ujarnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, pertarungan internal PKT semakin memanas, dan pembersihan faksi atas nama anti-korupsi juga semakin keras. Contoh paling menonjol adalah penangkapan besar-besaran petinggi Pasukan Roket, serta penyelidikan terhadap pejabat tinggi sektor dirgantara dan industri militer. Dalam konteks ini, berbagai nasib yang menimpa para pakar PKT tersebut dianggap bukan sesuatu yang mengejutkan lagi.
Li Qian/Luo Ya/Tony – NTD





