Menguatkan Kecakapan Literasi Anak yang  Menyenangkan

kompas.id
19 jam lalu
Cover Berita

Kecakapan literasi membaca dan menulis menjadi fondasi penting dalam membekali anak sebagai pembelajar sepanjang hayat. Sekolah dapat mengembangkan kecakapan literasi dengan cara menyenangkan, yang tidak hanya menumbuhkan kecintaan membaca beragam buku, tetapi juga mendorong kemampuan menulis kreatif dan membangun sikap kritis.

Masih dalam rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026, kegiatan penguatan literasi digelar bagi anak-anak bangsa. Puluhan siswa SD Angkasa V Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (11/5/2026), mengikuti pelatihan menulis cerita pendek (cerpen) menggunakan tulisan tangan di buku tulis.

Kegiatan bertajuk “Ayo Menulis di Buku Tulis dengan Sampul Terkerenmu” itu digagas Majalah Cahaya Inspirasi Anak (CIA) bersama Perpustakaan Nasional dan didukung produsen buku tulis Sinar Dunia (SiDU).

Sebelum memulai pelatihan menulis cerpen, siswa kelas V dan VI SD Angkasa V mendapatkan panduan dari Kak Olla, fasilitator dari Majalah CIA. Pelatihan ini menjadi bekal bagi anak-anak untuk menulis cerpen bertema “Jelajah Dunia Lewat Buku”.

Sebagai pembuka, Kak Olla membacakan sebuah fabel tentang kodok. Saat mendengarkan cerita, para siswa diminta merespons dengan gerakan tangan tertentu setiap kali mendengar kata “kodok”, “kotak”, dan “kotoran”. Suasana pun menjadi riuh dan penuh antusias karena anak-anak berusaha tidak salah melakukan gerakan.

Setelah itu, Kak Olla menjelaskan langkah-langkah sederhana menulis cerpen. Proses dimulai dengan menentukan tema, tokoh, konflik, dan penyelesaian cerita. Selanjutnya, siswa diajak membuat kerangka karangan menggunakan metode Pixar Pitch melalui empat paragraf panduan.

“Jika adik-adik sudah siap menulis cerpen, menulisnya dengan tulisan tangan ya. Soalnya, tulisan tangan bermanfaat untuk meningkatkan kreativitas, konsentrasi, daya ingat, dan keterampilan literasi,” kata Kak Olla.

Kimora, siswa kelas V SD Angkasa V, merasa senang dapat pelatihan meulis cerpen. Apalagi ditantang menulis dengan tulisan tangan.

“Tulisan tangan aku berantakan, jarang menulis yang panjang-panjang di buku tulis. Karena tadi sudah diajarkan cara menulis cerpen, sepertinya asyik menulis dengan tulisan tangan,” ujar Kimora.

Mendukung kreativitas anak bangsa

Saat acara pembukaan, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara Adriati, mengatakan Perpustakaan Nasional terus berupaya mendorong lahirnya karya terbaik anak bangsa.

“Kami ingin menghadirkan ‘kado terindah’ melalui dukungan terhadap kreativitas dan semangat menulis anak-anak Indonesia. Nantinya, tiga karya terbaik akan dipublikasikan di Majalah CIA dan diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional sehingga dapat dibaca oleh anak-anak di seluruh Indonesia. Kami berharap semakin banyak karya cipta anak bangsa yang lahir dan menginspirasi,” kata Adriati.

Sementara itu, Pendiri Majalah CIA Stefanie Agustin mengatakan kegiatan menulis cerita dengan tulisan tangan bagi siswa SD dihadirkan sebagai upaya mendukung Pemerintah dalam memperkuat budaya literasi sejak usia dini. Menulis dengan tangan seharusnya bukan sekadar tugas sekolah, tetapi juga menjadi sarana bagi anak untuk berekspresi dan membangun kepercayaan diri.

Baca JugaProgram Sekolah Bernuansa Literasi di Banyumas Picu Kreativitas Siswa dan Guru

Menurut Stefanie, di tengah perkembangan teknologi digital, aktivitas menulis di atas kertas tetap memiliki peran penting dalam membantu anak mengasah daya pikir, kreativitas, konsentrasi. Selain itu, membangun kemampuan menuangkan gagasan secara lebih terstruktur.

“Kami ingin mendukung terwujudnya ekosistem literasi yang mendorong anak-anak semakin akrab dengan kegiatan membaca, menulis, dan berkarya di atas kertas, sekaligus mendukung penguatan kualitas pendidikan menuju Generasi Emas 2045,” tegas Stefanie.

Arif Darmawan, Head of Marketing Stationery Business APP Group, menyampaikan SiDU berupaya mengambil peran dalam mendukung gerakan literasi anak melalui pendekatan yang dekat dengan keseharian siswa Sekolah Dasar.

“Melalui program Ayo Menulis, kami ingin turut mendukung upaya Pemerintah dalam menumbuhkan budaya literasi dan kebiasaan menulis dengan tangan di atas kertas sejak usia SD. Kami percaya, buku tulis bukan hanya media belajar, tetapi juga ruang bagi anak untuk berlatih berpikir, berekspresi, dan membangun kepercayaan diri,” ujar Arif.

Pada kesempatan yang sama, Buku Tulis SiDU turut memperkenalkan buku tulis dengan sampul unik sebagai bagian dari pendekatan kreatif untuk membuat aktivitas menulis di atas kertas terasa lebih dekat dan menyenangkan bagi anak-anak. Melalui konsep ini, siswa dapat menggunakan foto diri mereka sendiri sebagai inspirasi desain sampul buku tulis.

Setiap peserta berkesempatan memperoleh desain sampul berdasarkan foto diri mereka sendiri yang diproses secara otomatis dengan cara memindai QR code dan menjawab kuis dengan benar. SiDU menyediakan lima tema sampul yang dapat dikoleksi hingga 31 Mei 2026.

“Dari survei kami, anak-anak memilih buku tulis dengan melihat sampul atau cover. Jika sudah menarik, kami berharap ini bisa membuat anak-anak tertarik menulis tangan di buku tulis dan berkarya,” kata Arif.

Hadirkan penulis

Di tempat terpisah, siswa SD Al-Izhar, Pondok Labu, Jakarta Selatan, peringatan Hari Pendidikan Nasional diisi dengan acara bedah buku Na Willa karya Reda Gaudiamo di perpustakaan sekolah Bustanil Arifin. Terpilih tiga siswa yang tampil di atas panggung untuk memaparkan resensi mereka atas isi buku Na Willa yang mereka baca.

Menariknya, sang penulis hadir langsung untuk mendengarkan keseruan anak-anak mengulas buku dan juga membuka sesi tanya jawab. Para siswa yang hadir mengembangkan pertanyaan sederhana hingga pertanyaan kritis dan reflektif.

Siti Sajani Pramesti Arifin, siswa kelas IV, mengatakan ia membaca buku Na Willa edisi satu karena direkomendasikan pustakawan. “Setelah membaca, ceritanya menarik, mudah dipahami, tidak panjang, dan bisa mengetahui kehidupan anak di zaman dulu,” ujarnya.

Anak-anak antusias bertanya pada tiga siswa pemapar dari berapa lama membaca buku, bab yang menarik, hingga karakter tokoh yang disukai dalam cerita. Ketika di buku ada bahasan soal anjing, perbincangan pun melebar hingga bagiamana seharusnya seorang anak bertanggung jawab mengurus anjing yang dimiliki.

Kisah Na Willa kini sudah diangkat di layar lebar alias film. Ini pun tak luput ditanyakan sebagai perbandingan, lebih suka buku atau filmya.

Reda Gaudiamo mengapresiasi siswa yang sudah mengulas buku dengan baik dan teliti melihat buku. “Saya terharu karena kalian menangkap hal-hal yang sering dilewatkan pembaca dewasa. Misal ulasan Sajani yang lebih meihat kesamaan anak dulud an sekarang yang punya rasa ingin tahu dan bermain bersama. Sering terlewat oleh orang dewasa karena lebih fokusmembandingkan anak dulu dan sekarang,” ujar Reda.

Kisah Na Willa kini sudah diangkat di layar lebar alias film. Ini pun tak luput ditanyakan sebagai perbandingan, lebih suka buku atau filmya.

Bertanya langsung pada penulis, anak-anak menemukan penjelasan yang dalam. Dari pertanyaan siswa yang ingin tahu dari mana nama Na Willa, para siswa mendapatkan wawasan soal penamaan yang unik di Pulau Sabu di Nusa Tenggara Timur.

“Na Willa itu sebetulnya nama panggilan ibu saya yang asal Pulau Sabu di NTT.  Di sana, orang tidak dipanggil nama, karena merasa nama terlalu sakral untuk disebtu. Jadi dipakai nama panggilan atau nama manis. Tiap orang Sabu punya nama manis. Laki-laki dimulai dengan Ma, yang perempuan Na,” jelas  Reda.

 Siswa lainnya menanyakan apa yang mendorong Reda menulis buku Na Willa. Reda mengisahkan ia punya anak berumur sekitar 5 tahun yang suatu hari anak pulang ke rumah karena tidak boleh bermian dengan anak lain yang beda agama.

“Saya jadi teringat dulu saya bermain dengan teman tidak ada maslaah beda agama atau ras. Saya merasa ini tidak benar.  Saya ingin menulis cerita untuk mengingatkan orangtua bahwa dulu anak-anak bisa bermain dengan siapa saja. Saya memilih membuat kisah anak kecil di zaman saya dulu,” papar Reda.

Di akhir acara, Reda mendorong anak-anak untuk memanfaatkan pelajaran menulis/mengarang di pelajaran. “Kita tidak bisa menjadi penulis yang baik kalau tidak rajin membaca buku. Menulis itu seperti berenang, jadi harus banyak latihan. Nah, supaya kuat berennag minum vitamin, yaitu dengan membaca banyak buku,” ujar Reda.

Baca JugaLiterasi Rendah, Ketersediaan Buku Sesuai Minat Siswa Minim

Kepala Sekolah SD Al-Izhar, Lulu, mengatakan acara ebdah buku untuk siswa SD baru pertam kali diadikan, Di tingkat SMP dan SMA sudah berjalan.

“Dengan kehadiran penulis, bisa menginspirasi anak-anak. Banyak anak-anak yang tertarik untuk membaca buku Na Willa. Yang guru harus antri untuk pinjam buku karena anak-anak yang didahulukan.  Dari buku anak-anak bisa belajar untuk menghadapi perbedaan, bisa bermain dengan teman tanpa melihat perbedaan, tapi lebih untuk keseruan bermain bersama,” kata Lulu. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KPK Publikasikan LHKPN Prabowo, Total Kekayaan Capai Rp2,06 Triliun
• 9 jam laluharianfajar
thumb
Dedi Mulyadi Gandeng Bank Indonesia, Fokus Bangun Ekonomi Jabar Berbasis Ekologi
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Viral Parkir Meluber Depan Kantor DPD Golkar Jakarta, Apa Penyebabnya?
• 9 jam lalukompas.com
thumb
Dapat Suntikan Energi Baru, Muaythai Jateng Bersiap Cetak Atlet Kelas Dunia
• 19 jam lalurctiplus.com
thumb
Di Markas PBB, Menhut Sampaikan Komitmen Prabowo Perkuat Tata Kelola Hutan
• 9 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.