Bisnis.com, PEKANBARU — Unggahan Instagram komunitas For Gajah Rahman pada Kamis (7/5/2026) kembali menyoroti kematian gajah di bentang habitat Tesso Nilo yang sempat meredup setelah konferensi pers Polda Riau pada Maret lalu.
Dalam unggahan tersebut disebutkan sembilan gajah pejantan mati ditembak dalam kurun dua tahun terakhir. Kasus ini tidak hanya merujuk pada penemuan seekor gajah tanpa kepala di areal konsesi hutan tanaman industri (HTI) milik PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) pada Februari 2026, tetapi juga delapan kasus kematian gajah lain yang sebelumnya nyaris tidak terpublikasi.
Komunitas For Gajah Rahman dibentuk oleh pegiat konservasi setelah kematian Rahman, gajah latih Flying Squad Tesso Nilo yang ditemukan mati dengan gading terpotong pada awal 2024 dan hingga kini belum terungkap pelakunya.
Menurut komunitas tersebut, hilangnya pejantan dewasa menjadi ancaman serius bagi populasi gajah Sumatera di Riau yang terus menurun.
Investigasi Jikalahari mencatat sedikitnya 77 gajah Sumatera mati di Riau dalam dua dekade terakhir, sebagian besar di kawasan konsesi hutan tanaman industri dan perkebunan. Namun, Balai TNTN mencatat sekitar 59 kasus kematian dalam periode yang sama.
Komunitas For Gajah Rahman memperkirakan sekitar 178 gajah mati di Riau sejak 2004 hingga awal 2026. Angka itu dihimpun dari penelusuran pemberitaan media selama dua dekade, termasuk sembilan kasus terbaru yang diungkap Polda Riau pada awal 2026.
Baca Juga
- Pemulihan Tesso Nilo di Riau Butuh 9.966 Hektare Lahan Alternatif
- Kemenhut Targetkan Reforestasi 2.557 Hektare di Tesso Nilo
Koordinator For Gajah Rahman, Fitriani Dwi Kurniasari, menilai angka tersebut kemungkinan belum mencerminkan kondisi sebenarnya karena banyak kasus kematian gajah yang tidak terdeteksi atau tidak terpublikasi.
“Ini baru yang muncul dalam pemberitaan. Sangat mungkin jumlahnya lebih banyak karena kemampuan deteksi kita terbatas,” katanya.
Menurutnya, sembilan gajah yang mati ditembak sebenarnya sudah terungkap dalam penyelidikan Polda Riau pada 3 Maret 2026, namun lebih banyak muncul sebagai bagian dari pemberitaan pengungkapan sindikat perdagangan gading.
“Padahal kehilangan ekologisnya besar. Ini bukan hanya soal satu kasus gajah mati, tapi ada sembilan pejantan yang hilang dari bentang habitat Tesso Nilo,” katanya.
Komunitas tersebut menyebut lokasi kematian tersebar di bentang habitat Tesso Nilo, dari Desa Lubuk Kembang Bunga, Sungai Bambu, hingga sektor Ukui di Kabupaten Pelalawan, termasuk di area konsesi yang berbatasan dengan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN).
Balai TNTN menanggapi melalui Instagram bahwa seluruh kejadian berada di luar kawasan administratif taman nasional, meski masih dalam satu ekosistem habitat yang sama.
Kepala Balai TNTN, Heru Sutmantoro, mengatakan populasi gajah liar di bentang habitat Tesso Nilo diperkirakan tersisa sekitar 150 ekor yang tersebar di dua kantong utama, yakni Tesso Utara dan Tesso Tenggara. Kawasan habitat tersebut mencakup taman nasional, sembilan konsesi HTI, serta perkebunan sawit seluas sekitar 400.000 hektar.
“Populasi gajah sangat tergantung pada kondisi habitat dan hutan di sekitarnya. Dalam dua dekade terakhir, populasi gajah di Riau memang terus menyusut,” kata Heru kepada Bisnis, Senin (11/5/2026).
Dia menilai kematian sembilan gajah pejantan dalam dua tahun terakhir murni dipicu perburuan untuk memenuhi permintaan pasar gading. Kehilangan pejantan dewasa dinilai berbahaya bagi keberlangsungan populasi karena berperan penting dalam reproduksi dan menjaga keragaman genetik.
Kasus yang diungkap Polda Riau juga menunjukkan perdagangan gading berjalan terorganisir. Gading berpindah dari pemburu di kawasan hutan Pelalawan ke pengepul lintas provinsi hingga diolah menjadi kerajinan di Pulau Jawa, dengan harga meningkat dari sekitar Rp30 juta di tingkat pemburu hingga Rp129 juta di tangan pengrajin.
Perburuan dan Fragmentasi HabitatDi sisi lain, Jikalahari menilai tingginya kematian gajah di Riau berkaitan dengan perubahan bentang alam dan lemahnya tata kelola habitat. Dalam publikasinya, organisasi tersebut menyebut sebagian besar kantong habitat gajah kini dikelilingi konsesi hutan tanaman industri dan perkebunan sawit.
Deforestasi di kawasan Tesso Nilo tercatat mencapai lebih dari 112.000 hektare sepanjang 2006–2025. Perubahan ini membuat habitat gajah semakin terfragmentasi sekaligus membuka akses manusia ke wilayah jelajah satwa liar.
“Tekanan terhadap gajah bukan hanya datang dari perburuan. Perubahan bentang alam yang cepat membuat akses ke habitat gajah semakin terbuka,” ujar Wakil Koordinator Jikalahari, Arpiyan Sargita.
Menurut Arpiyan, perubahan bentang alam membuat ruang jelajah gajah semakin menyempit dan terpecah dalam kantong-kantong kecil, sehingga meningkatkan potensi konflik manusia-gajah sekaligus mempermudah aktivitas perburuan.
Jikalahari juga mencatat sebagian besar kematian gajah di Riau ditemukan di area konsesi industri kehutanan dan perkebunan. Organisasi itu menilai pemegang izin memiliki tanggung jawab menjaga kawasan dari aktivitas ilegal, termasuk perburuan dan perambahan habitat.
“Kematian gajah yang terus berulang di Riau menunjukkan bahwa persoalan ini tidak bisa dilihat hanya sebagai tindakan kriminal perburuan oleh individu. Ia mencerminkan kerusakan habitat gajah yang semakin terfragmentasi akibat industri berbasis hutan dan lahan,” tegasnya.
Selain persoalan habitat, Jikalahari juga menyoroti praktik perburuan yang masih berulang dalam beberapa tahun terakhir. Penegakan hukum dinilai belum memberi efek jera karena jaringan perdagangan gading masih berjalan dan permintaan pasar belum sepenuhnya terputus.




