Nilai tukar rupiah kembali melemah dan menembus level psikologis Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Kondisi tersebut memicu gelombang diskusi di media sosial, termasuk ajakan dari netizen agar masyarakat mulai menyimpan aset dalam mata uang asing atau valuta asing (valas).
Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.45 WIB, rupiah tercatat melemah 89 poin atau 0,52 persen ke level Rp17.503 per dolar AS.
Baca Juga: Warga Indonesia Bersiaplah, Ini Dampak Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS
Sebelumnya, rupiah dibuka di posisi Rp17.489 per dolar AS atau turun 75 poin dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan rupiah yang terus berlanjut membuat sebagian netizen mulai khawatir terhadap penurunan daya beli dan nilai simpanan dalam mata uang domestik.
Di media sosial, sejumlah akun ramai membahas strategi diversifikasi keuangan dengan mulai menabung dalam mata uang asing yang dianggap lebih stabil.
Salah satu akun yang ramai diperbincangkan adalah akun X @gemistale yang mengajak masyarakat mempertimbangkan tabungan valas.
“Menyikapi hal ini, gue akan selalu ingetin untuk NABUNG VALAS. Rekomen valas yang oke: Ringgit Malaysia, Swiss Franc, Singapore Dollar, United States Dollar, China Yuan. Masing-masing ada alasannya,” tulis akun tersebut.
Ajakan itu langsung memicu diskusi panjang di kolom komentar. Banyak netizen mulai membandingkan stabilitas berbagai mata uang asing untuk dijadikan tempat menyimpan nilai kekayaan.
Salah satu netizen menilai tidak semua mata uang asing layak dijadikan pilihan investasi jangka panjang.
“MYR gw sendiri kurang rekomen mengingat stabilitasnya nggak oke. CNY dan USD nggak cocok karena negara ini gelud terus dari 1945, nggak stabil. Prefer SGD dan CHF karena negara stabil secara politik dan ekonomi,” tulis netizen lain.
Ada pula netizen yang mulai tertarik membuka tabungan valas meski masih bingung menentukan nominal awal menabung.
“Kasih tahu aku baiknya start berapa per bulan? Aku baru banget nabung sikit tadi. Please inpoin,” tulis seorang pengguna media sosial.
Selain itu, diskusi juga berkembang ke pemilihan bank dan instrumen investasi yang dianggap lebih aman di tengah pelemahan rupiah.
“Rekomen buat buka rekening valas enaknya bank apa?” cuit netizen lainnya.
Sementara netizen lain mempertanyakan pilihan antara menyimpan dana dalam bentuk valas atau investasi reksa dana.
“Lebih enakan nabung valas atau nabung reksadana ya,” tulis pengguna lain.
Fenomena ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap pelemahan rupiah yang berpotensi berdampak pada inflasi, kenaikan harga barang impor, hingga penurunan daya beli.
Baca Juga: Tembus Rp17.500 per Dolar, Dunia Soroti Kondisi Rupiah yang Lebih Buruk daripada Saat Krisis 1998
Sebelumnya, sejumlah ekonom juga mengingatkan bahwa pelemahan rupiah dapat memicu inflasi impor dan meningkatkan harga kebutuhan pokok, transportasi, hingga produk kesehatan dalam beberapa bulan ke depan.





